Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Pudarnya Kejayaan Kerajaan Islam Pertama Uighur

Menara Kalyan di Bukhara, Uzbekistan, yang dibangun semasa pemerintahan Kara-khanid Barat © wikimedia.org

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul Uighur dan Xinjiang Sebelum Islam Datang”, ”Ketika Laskar Muslim Uighur Menggempur Kerajaan Beda Agama”, danSatuq Bughra Khan: Uighur Mualaf Pendiri Kerajaan Islam Pertama di Xinjiang”.


SETELAH berhasil mengislamkan Xinjiang, terutama Kashgar dan Hotan, Kekhanan Kara-khanid –sebagai kerajaan Islam pertama bentukan Uighur di Xinjiang– pada sekitar tahun 1040 terpecah menjadi dua entitas politik yang saling sikut-sikutan lantaran konflik internal dua cucu pendirinya (ʿAlī b. Musā vs Ḥasan b. Sulaimān). ʿAlī bersama anak cucunya menguasai wilayah Kara-khanid bagian barat di sekitar Transoxiana (yang kini sebagian besar berada di Uzbekistan), sedangkan Ḥasan beserta para keturunannya memerintah wilayah Kara-khanid bagian timur dengan Kashgar sebagai ibu kotanya.

Kara-khanid Barat mulai kukuh posisinya sejak kepemimpinan Ṭamḡāj Khan Ibrāhim b. Naṣr alias Böritigin (1040-69). Ia adalah anak sulung Naṣr, salah satu putra ʿAlī.

Ibrāhim dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan taat beragama kendati, pada waktu yang sama, mendapat tak sedikit perlawanan dari ulama-ulama di negaranya. Tegangnya hubungan antara pemerintah dengan pemuka agama tak pelak menjadi tantangan internal bagi kerajaannya.

Yang bikin makin runyam, para ulama yang anti-pemerintah itu main mata dengan kekuatan politik eksternal: Kesultanan Saljuq. Mungkin mereka beraji mumpung. Sebab, sejak 1060, Kesultanan Saljuq sudah coba melancarkan serangan terhadap Kara-khanid Barat. Ibrāhim, kata Wei Liangtao (魏良弢) dalam buku Naskah Sejarah Kekhanan Kara-khanid (喀喇汗王朝史稿 Kalahan Wangchao Shigao, 1986), mengirim utusan kapada Kekhalifahan Abbasiyah guna meminta bantuan menghentikan invasi Kesultanan Saljuq. Sayang, khalifah di Baghdad tidak menyanggupi dan hanya menghadiahkan jubah serta gelar kehormatan untuk Ibrāhim sebagai bentuk ”dukungan politik”.

Di tengah ruwetnya kondisi negeri dengan ancaman internal dan eksternal begitu, Ibrāhim malah terkena strok. Takhtanya lantas diserahkan kepada anaknya, Naṣr Syams Mulūk, pada 1068. Ibrāhim mangkat, tak lama kemudian.

Naṣr juga sohor kebijaksanaan dan kealimannya. Namun, persis ayahnya, hubungan pemerintahnya dengan ulama-ulama juga tak kunjung akur dan berdarah-darah pula. Pada 1069, misalnya, Naṣr memerintahkan pelaksanaan hukuman mati terhadap ulama Bukhara bernama Abū Ibrāhim Ismāʻīl b. Abū Naṣr Jaʿfar. Lantarannya: sang ulama menekan Naṣr untuk tunduk pada fatwa ulama dalam menjalankan pemerintahan. (Familiar?)

Konflik dengan Kesultanan Saljuq juga tak selesai-selesai –di samping perang saudara memperebutkan wilayah kekuasaan melawan Kara-khanid Timur. Meski telah disiasati dengan diplomasi matrimonial (pernikahan), baku hantam dengan Kesultanan Saljuq tetap tak terelakkan. Naṣr, seperti dicatat Ann K. S. Lambton dalam Continuity and Change in Medieval Persia (1988), menikah dengan Aisha, putri Ālp Ārslan, sultan kedua Kesultanan Saljuq. Sejarawan muslim masyhur Ali b. al-Athir dalam mahakaryanya, Al-Kāmil fī al-tārīkh, menerangkan, pada penghujung tahun 1072 Sultan Ālp Ārslan membawa lebih dari 200.000 pasukan berkudanya menggempur wilayah kekuasaan Naṣr di Transoxiana. Sultan gugur dalam pertempuran ini dan jabatannya diteruskan Malek-šāh b. Ālp Ārslan.

Naṣr meninggal, delapan tahun kemudian. Kedudukannya lalu dilanjutkan adiknya, Khiḍr, hingga tak lama berselang, 1081, digantikan Aḥmad, putra Khiḍr.

Aḥmad disebut-sebut sebagai pemimpin yang zalim dan gemar memalak. Karena itu, sebagaimana diceritakan Ali b. al-Athir dalam buah pena di muka, pada suatu hari ada seorang kaya yang juga seorang hakim agama (qāḍī) bernama Abū Ṭāhir b. Alak al-Syāfiʿī datang menghadap Sultan Malek-šāh. Ia mengadukan tindak tanduk Aḥmad dan memohon kepada Malek-šāh untuk memerangi Kara-khanid Barat. Malek-šāh setuju, kendati Aḥmad merupakan keponakan istrinya, Terken Khatun –yang tak lain dan tak bukan adalah putri Böritigin. Ini barangkali bisa dibilang sebagai klimaks dari ketegangan berlarut-larut antara pemerintah dan ulama Kara-khanid Barat.

Untuk itu, pada 1089, Malek-šāh meninggalkan Isfahan dan mengumpulkan prajurit-prajuritnya yang tak terhingga untuk menyerang Kara-khanid Barat di Transoxiana.

Sultan mula-mula menduduki Bukhara dan dari sana merangsek ke Samarqand sebagai pusat pemerintahan Kara-khanid Barat. Tak ada perlawanan berarti dari serdadu Kara-khanid Barat. Bahkan, alih-alih berpihak pada Aḥmad sebagai pemimpinnya, penduduk Kara-khanid Barat malah menyediakan logistik untuk laskar Kesultanan Saljuq. Maklum, sebelum tiba di Samarqand, Sultan sudah mengirimkan maklumat kepada masyarakat setempat bahwa tujuan peperangan ini adalah untuk ”membebaskan mereka dari tirani” Aḥmad.

Aḥmad kelabakan. Ia awalnya bersembunyi di balik tembok kota dan memerintahkan loyalisnya untuk berjaga. Namun, pasukan Kesultanan Saljuq tak kekurangan akal. Mereka bermain perang urat saraf: membawa seorang tahanan perang yang ayahnya tengah menjaga tembok kota dan mengancam akan membunuh anak itu kalau sang ayah bersikukuh tak mau menyerah. Ayahnya luluh. Tembok kota pun dikepung.

Aḥmad lari dan berlindung di rumah penduduk. Tetapi, tempat persembunyiannya segera terendus. Penguasa Kara-khanid Barat ini akhirnya ditangkap dengan tali tambang diikatkan di lehernya. Ia lantas dibawa menghadap Malek-šāh. Menariknya, Sultan justru menerimanya dengan penuh hormat dan memilih membebaskannya; mengirimnya ke Isfahan beserta pengawalnya. Kara-khanid Barat pun tidak dibubarkan, melainkan hanya diubah statusnya menjadi negara vasal Kesultanan Saljuq. Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan, Sultan menunjuk Abū Ṭāhir sebagai plt. Aḥmad di Samarqand.

Selepas kemenangan itu, Kesultanan Saljuq berencana melanjutkan penyerangan ke Kara-khanid Timur di Kashgar. Namun, sebelum benar-benar menyerang, Sultan mengawalinya dengan mengirimkan surat kepada khān Kara-khanid Timur untuk membacakan khotbah dan mencetak uang atas nama Sultan; kalau tidak, Kara-khanid Timur akan diserang.

Mendapat surat ancaman itu, khān Kara-khanid Timur yang waktu itu adalah Abū ʿAlī al-Ḥasan menemui langsung sang Sultan. Ia menyatakan kesediaannya untuk tunduk pada titah Sultan. Sultan menerima dan memulangkannya dengan hormat disertai beragam hadiah.

Walhasil, sejak tahun 1089 itu, Kara-khanid Barat dan Timur resmi berada di bawah kepenguasaan Kesultanan Saljuq, dinasti Islam suni bertradisi Turko-Persia ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...

Ramadan

SELAIN karena para petingginya cekcok sendiri-sendiri, gagalnya Republik Islam Turkestan Timur (RITT) memperoleh sokongan dan pengakuan dunia internasional juga menjadi penyebab cepat bubarnya negara...