Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Dari Takjil Masjid Hefei hingga Melon Hami dan Kemerdekaan Xinjiang

Gadis Uighur memperlihatkan Melon Hami © Twitter @PicsSilkRoad

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama dinasti Ming, Zhu Yuanzhang (1328–1398).

Sejak pendiriannya, dinasti Ming boleh dikata cukup erat hubungannya dengan Islam. Bahkan, suatu hari saya pernah menemukan tautan warganet Indonesia dan China yang bilang dinasti Ming merupakan “kekaisaran muslim”. Sesuatu yang agak berlebihan, menurut saya.

Namun, bahwa beberapa panglima perang yang bersama Zhu Yuanzhang baku hantam dengan serdadu dinasti Yuan (1271–1368) untuk menggulingkan rezim Mongol yang dianggap barbar itu tercatat sebagai orang Hui, suku pengikut Islam terbesar dan terluas persebarannya di China, adalah benar adanya. Sebut saja, di antaranya, Chang Yuchun, Lan Yu, Hu Dahai, dan Mu Ying.

Permaisuri Kaisar Zhu Yuanzhang pun bermarga Ma. Kita tahu, “Ma” yang jamak diakui merupakan perubahan kata (verbastering) dari “Muhammad”, adalah marga yang biasa dipakai etnis Hui.

Ya, dari dulu, khususnya mulai zaman dinasti Yuan yang kemudian berhasil ditumbangkan dinasti Ming pada 1368, “Pemeluk agama Islam yang bermastautin di Anhui sangatlah banyak.” Demikian Fang Jianchang menulis dalam makalahnya, “Sebuah analisis tentang Muslim dan Masjid di Anhui” (Anhui de Musilin yu Qingzhensi Zakao) yang diterbitkan volume 1 jurnal Tribune Jianghuai (Jianghuai Luntan) keluaran tahun 1989.

Hingga China dipimpin Partai Komunis, merujuk data yang dirilis laman Muslim Daring (Musilin Zaixian) pada 10 Agustus 2017, Anhui masih menduduki peringkat kesembilan dari sepuluh provinsi dengan populasi muslim terbanyak di China. Sementara yang nomor satu, ditempati oleh Xinjiang, wilayah strategis nan kaya sumber daya alam yang isu keagamaannya belakangan acap digoreng sebagai komoditas politik di negara kita itu.

Adapun jumlah penduduk Anhui yang memeluk Islam, masih menukil portal tersebut ialah sekitar 330 ribu dengan 121 masjid per tahun 2015.

* * *

Selama sebulan penuh tiap kali Ramadan tiba, laiknya masjid-masjid daerah lain di seluruh China yang menurut Buku Putih Kebijakan dan Praktik Jaminan Kebebasan Beragama di China (Zhongguo Baozhang Zongjiao Xinyang Ziyou de Zhengce he Shijian) berjumlah lebih dari 35 ribu pada 2018, masjid-masjid di Anhui juga menyediakan takjil –disebut “kaizhai fan” (开斋饭) dalam bahasa China– secara cuma-cuma.

Makanya jangan heran kalau saya ogah menyia-nyiakan kesempatan berbuka puasa di masjid Hefei, ibu kota Anhui. Letaknya tak jauh dari makam Bao Zheng (999–1062), hakim sekaligus negarawan era Dinasti Song Utara yang sangat masyhur keadilan dan kejujurannya.

* * *

Sama dengan masjid-masjid di kota lain yang pernah saya singgahi sebelumnya, buka puasa di masjid Hefei juga diawali dengan minum teh tawar hangat, makan kurma, lalu diakhiri dengan semangka atau melon Hami (Hami gua).

Saya menggandrungi melon Hami. Dagingnya yang berwarna jingga, sangatlah renyah. Ia, sesuai namanya, berasal dari Hami, kota strategis di Xinjiang utara yang berbatasan langsung dengan Gansu, provinsi yang muslimnya tak kalah bejibun.

Sebenarnya, kaum Uighur di Xinjiang sendiri lebih condong menamai (endonym) Hami sebagai Kumul. Pada 1930, orang-orang Uighur di Kumul pernah mengobarkan pemberontakan terhadap tirani Jin Shuren (1879–1941), gubernur Xinjiang kala itu.

Sontak, pemberontakan tersebut menginspirasi orang-orang Uighur di Xinjiang Selatan untuk memerdekakan diri dari China dan, pada 12 November 1933, mendirikan negara Islam bernama Republik Islam Turkestan Timur (Sherqiy Türkistan Islam Jumhuriyiti) yang berpusat di Khotan dan Kashgar.

Negara Islam ini tidak panjang umur. Bubar dalam usianya yang cuma sekitar lima bulan. Penyebabnya: petinggi-petingginya ribut sendiri-sendiri. Presidennya yang bernama Khoja Niyās Ḥājjī ingin Xinjiang tetap berada dalam naungan China; sedangkan perdana menterinya yang bernama Ṣābit Dāmullāh bersikeras Xinjiang tidak boleh tidak merdeka.

Berarti, tidak semua Uighur di Xinjiang mau lepas dari China seperti yang digembar-gemborkan kelompok-kelompok tertentu di negara kita?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan terlebih dahulu membaca dua tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...

Ramadan

SELAIN karena para petingginya cekcok sendiri-sendiri, gagalnya Republik Islam Turkestan Timur (RITT) memperoleh sokongan dan pengakuan dunia internasional juga menjadi penyebab cepat bubarnya negara...