Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Republik Turkestan Timur: Negara Bentukan Uighur yang Disokong lalu Dibubarkan Soviet

© theguardian.com

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan terlebih dahulu membaca dua tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara Besar terhadap China dan Tatkala Muslim Uighur Memusuhi Muslim Hui.


MESKI bisa berumur jauh lebih panjang ketimbang ”negara bentukan Uighur jilid satu” (kita mungkin bisa menyebut Republik Islam Turkestan Timur yang berdiri pada 12 November 1933 itu dengan sebutan begitu), Republik Turkestan Timur, ”negara bentukan Uighur jilid dua” berpusat di Ghulja/Ili yang mendapat sokongan penuh dari komunis Soviet ini tetap bernasib sama: bubar juga akhirnya.

Yang membubarkannya tak lain adalah penyokongnya: Soviet.

Mirip lagu dangdut, ”Kau yang mulai, kau yang mengakhiri.”

Konferensi Yalta terkait tatanan dunia pasca-kekalahan Jerman Nazi yang diadakan Stalin (Soviet), Roosevelt (Amerika), dan Churchill (Britania Raya) pada 4–11 Februari 1945 yang mengubah segalanya.

Untuk membujuk Soviet agar mau berpartisipasi dalam Perang Pasifik melawan Jepang, para pemimpin tiga negara besar (the big three) dalam Perang Dunia II tersebut bersepakat menjamin terpenuhinya kepentingan Soviet di China yang salah satunya berupa kemerdekaan Mongolia.

Jelas, pemerintah China tak mau menerima kemerdekaan Mongolia dijadikan jaminan macam itu.

Tapi apa lacur, Soviet pada 9 Agustus sudah keburu menyerbu dan berhasil menduduki Manchukuo, negara boneka Jepang di Manchuria yang notabene wilayah China.

Alhasil, meski dirasa tidak adil, pada 14 Agustus pemerintah China menandatangani Traktat Persahabatan dan Persekutuan China-Soviet (中苏友好同盟条约 Zhong-Su youhao tongmeng tiaoyue) yang menyetujui permintaan Soviet agar China membiarkan rakyat Mongolia menggelar referendum kemerdekaannya selepas menyerahnya Jepang.

Namun, China juga mengajukan prasyaratnya: Soviet harus hengkang dari Manchuria dan tidak boleh memberikan sokongan lagi kepada Partai Komunis China dan pemberontak Xinjiang.

Soviet menepati janjinya.

Para pemberontak Ghulja yang setelah berdirinya Republik Turkestan Timur bertransformasi menjadi Tentara Nasional Ili (Ili Milliy Armiyisi) yang pada bulan Agustus itu tengah bersiap merebut Urumqi, ibu kota Xinjiang, diperintahkan Soviet menghentikan pertempuran melawan pemerintah China.

Sebagai konsesinya, Soviet memediasikan perundingan perwakilan Republik Turkestan Timur dan pemerintah China untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Pada 2 Januari 1946, setelah puluhan kali negosiasi, pembentukan pemerintahan koalisi pun disepakati. Dengan terbentuknya pemerintahan koalisi yang menandai bergabungnya kembali tiga distrik Ili ke haribaaan China, maka Republik Turkestan Timur berakhirlah sudah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

MENJELANG pertengahan tahun 1950-an, di bawah nama taktik Front Persatuan Nasional, Aidit dan kawan-kawan –yang baru saja merebut kepemimpinan PKI– mendekati Bung Karno dan...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

SELAIN karena para petingginya cekcok sendiri-sendiri, gagalnya Republik Islam Turkestan Timur (RITT) memperoleh sokongan dan pengakuan dunia internasional juga menjadi penyebab cepat bubarnya negara...

Ramadan

WAKTU itu 4 April 1931, China masih dikuasai Partai Nasionalis Kumintang, orang-orang Uighur di Kumul, Xinjiang utara, memberontak. Sasarannya: Jin Shuren, gubernur Xinjiang bersuku...