Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Perjanjian Ekstradisi China-Turki dan Nasib Diaspora Uighur

© codastory.com

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan demikian muncul karena, sebagaimana diberitakan Business Insider (16/1/2021), adanya dua peristiwa yang terjadi secara hampir bersamaan pada Desember 2020 itu. Pertama, kedatangan tiba-tiba pesanan vaksin Turki dari perusahaan China Sinovac –yang telah cukup lama tertunda. Kedua, Beijing mendadak meratifikasi perjanjian ekstradisi yang telah diteken dengan Ankara pada 2017 silam.

Turki, masih menurut Business Insider yang mengutip Al-Monitor, awalnya berencana memulai vaksinasi masyarakatnya menggunakan Sinovac pada 11 Desember, namun vaksin ini tak kunjung dikirimkan oleh China hingga 30 Desember.

Penundaan pengiriman vaksin tersebut mendorong politisi oposisi di Turki berspekulasi. Mereka curiga China kongkalikong menekan Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkınma Partisi, AKP) –sebagai partai penguasa– untuk meratifikasi terlebih dahulu kesepakatan ekstradisinya dengan China jika ingin mendapatkan vaksin. Dengan begitu, jika China meminta, Turki harus memulangkan (mengekstradisi) ke China siapa pun yang dituduh melakukan tindakan kriminal di China. Pun sebaliknya.

Komunitas Uighur di Turki gusar. Mereka yakin akan jadi sasaran utama.

Tetapi, Menlu Turki Mevlüt Çavuşoğlu coba menenangkan. Katanya, seperti dikutip Reuters (8/3/2021), perjanjian ekstradisi Turki dengan China tidak akan memulangkan Uighur ke China.

Entah benaran atau tidak.

Pasalnya, saya selalu percaya bahwa diplomasi adalah seni bermain kata-kata.

Mungkin benar Turki tidak akan mengekstradisi Uighur ke China –secara langsung. Namun, secara tidak langsung, sudah beberapa kali Turki dilaporkan mendeportasi Uighur ke negara ketiga (utamanya ke Tajikistan), lalu dari sana Uighur diekstradisi ke China.

Bagaimana nasib ribuan Uighur di Turki pasca-retifikasi perjanjian ekstradisi ini?

Jauh sebelum ada perjanjian ekstradisi China-Turki, majalah Time (27/6/2009) sudah memberikan jawaban, ”Turkey No Longer a Safe Haven for Chinese Uighurs.” Turki bukan lagi merupakan tempat berlindung yang aman bagi Uighur asal China.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Esai

BARANGKALI Anda sempat kepikiran untuk pindah negara, atau sesederhana ingin memiliki kehidupan yang lebih pasti ke depannya, pascapandemi ini? China mungkin bisa jadi salah...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...