Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Musabab Cepat Bubarnya Republik Islam Turkestan Timur

© cfr.org

SELAIN karena para petingginya cekcok sendiri-sendiri, gagalnya Republik Islam Turkestan Timur (RITT) memperoleh sokongan dan pengakuan dunia internasional juga menjadi penyebab cepat bubarnya negara Islam bentukan kaum Uighur di Xinjiang selatan ini.

Sebagaimana dicatat Andrew D. W. Forbes dalam Warlords and Muslims in Chinese Central Asia: A political history of Republican Sinkiang 1911–1949 (1986), segera setelah diproklamasikan pada 12 November 1933, otoritas RITT bermanuver mendekati pemerintah Britania (alias Inggris) melalui Konsul Jenderal Britania di Kashgar Thomson-Glover dan pengiriman utusan khusus ke pemerintahan India Britania (British Indian) di New Delhi.

Thomson-Glover yang anti-Soviet dan merupakan konjen anyar Britania di Kashgar, menyarankan pemerintahan India Britania di New Delhi untuk turut membantu perjuangan muslim Uighur mendirikan negara tersendiri guna membendung infiltrasi bahaya laten komunis Soviet di Xinjiang (atau Sinkiang jika ditransliterasikan pakai sistem ”Chinese postal romanization”).

Namun, masukan dari Thomson-Glover itu ditolak mentah-mentah dengan alasan ”Britania mengakui Nanking sebagai penguasa penuh (the sole authority) di Sinkiang, dan segala tindakan untuk melawan penetrasi Soviet di wilayah [Sinkiang] harus berdasarkan, sebagaimana biasanya, kebijakan mendukung otoritas [Republik] China di provinsi [Sinkiang].”

Utusan khusus RITT yang tiba New Delhi pada Februari 1934 pun menemui penolakan serupa. Harian The Times berbasis di London yang dikutip D. W. Forbes menulis, utusan RITT ”telah datang ke alamat yang salah. Sinkiang adalah provinsi suatu negara di mana Pemerintah Britania mempunyai relasi yang baik [dengan negara dimaksud].”

Amīn Bughra dalam Turkestan Timur: Sejarah, Geografi, dan Kondisi Terkini (Doğu Türkistan: Tarihi, Coğrafi ve Şimdiki Durumu, 1952) yang dinukil D. W. Forbes, juga mengonfirmasi ketidakacuhan pemerintahan India Britania. ”India, yang waktu itu di bawah kepenguasaan Britania … lebih memilih bersikap netral terhadap revolusi kita, dan tidak mau menyediakan senjata [untuk kita],” tulisnya.

Tak mau patah arang sehabis ditolak Britania, otoritas RITT mencoba mendekati Turki dengan mengirim telegram berisi ucapan selamat tahun baru dari ”bendera biru Turkestan Timur yang baru merdeka, kepada bendera merah Turki tercinta.”

Kita mafhum, bendera RITT –atau yang dikenal sebutan ”Kök bayraq” dalam bahasa Uighur– berwarna biru dengan ditopang simbol bintang dan bulan sabit berwarna putih. Sementara bendera Turki –atau yang lumrah disebut ”al bayrak” dan ”al sancak”– terdiri dari bintang dan bulan sabit putih berlatar belakang merah.

Sayangnya, cinta RITT ke Turki kembali bertepuk sebelah tangan. Kendati sudah ”bergombal” ria via telegram, tak ada bantuan materiel yang didapatkan RRIT dari Ankara. Malahan, lewat menteri luar negerinya, Tevfik Rüştü Aras (1883–1972), pemerintah Turki mengimbau RITT untuk menjalin hubungan baik dengan Soviet yang secara geografis merupakan tetangga dekatnya. Padahal, Amīn Bughra dalam karyanya yang dicuplik D. W. Forbes di atas, tegas mengatakan “Rusia adalah musuh bebuyutan kita.”

Otoritas RITT bergegas ”move on”. Pada Januari 1934, Amīn Bughra mengirim delegasi ke Kabul, Afghanistan, untuk meminta pengakuan resmi dan bantuan persenjataan. Mungkin karena Muḥammad Zāhir Shāh (1914–2007), yang waktu penobatannya sebagai raja Afghanistan cuma lebih awal lima hari dari pemroklamasian RITT, pernah menyampaikan ucapan selamat atas berdirinya RITT.

Malangnya, Amīn Bughra mengungkap dalam buah pena di muka, pemerintah Afghanistan justru menyatakan ”terlalu dini untuk mengakui kemerdekaan Turkestan Timur. Mereka memutuskan untuk menyokong senjata sebagai ganti uang, dan menempatkan perwakilan politik yang mewakili Afghanistan di Turkestan Timur.”

Tetapi nasib berkata lain. RITT keburu kolaps pada 16 April 1934 dan akhirnya, pungkas D. W. Forbes, RITT tak pernah benar-benar ”mendapatkan persenjataan dalam jumlah yang signifikan dari Kabul.”

Amīn Bughra, yang sejak proses hingga berdirinya RITT memangku jabatan strategis dalam bidang politik dan militer, memilih bergabung dengan pemerintahan Republik China di bawah kepenguasan Partai Nasionalis Kuomintang, selepas robohnya RIIT. Istrinya, Amina Bughra (愛美娜), menjadi salah satu perempuan paling awal yang terpilih sebagai anggota DPR Republik China (立法院 Lifayuan) pada 1948 setelah sebelumnya menjadi salah satu anggota perumus Konstitusi Republik China.

Meski menginginkan Xinjiang merdeka, tapi Amīn Bughra lantang menolak berdirinya Republik Turkestan Timur (RTT) pada 1944 lantaran pemerintahan ini disokong penuh oleh komunis Soviet. Sementara loyalis RTT mengecap Amīn Bughra sebagai ”bonekanya Kuomintang”.

Angel, wes, angel…

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan terlebih dahulu membaca dua tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara...