Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Tatkala Muslim Uighur Memusuhi Muslim Hui

Susana ketika Uighur memproklamasikan berdirinya Republik Islam Turkestan Timur © wikimedia.org

WAKTU itu 4 April 1931, China masih dikuasai Partai Nasionalis Kumintang, orang-orang Uighur di Kumul, Xinjiang utara, memberontak.

Sasarannya: Jin Shuren, gubernur Xinjiang bersuku Han yang pro-komunis Soviet.

Aktor intelektualnya: para loyalis Kekhanan Kumul (semacam Yulbars Khan dan Khoja Niyaz Haji) yang didukung jenderal muslim beretnis Hui pro-pemerintah Republik China (ROC).

Penyebabnya: Kekhanan Kumul –yang statusnya persis seperti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam NKRI– dibubarkan oleh Jin Shuren.

Kita tahu, meski setelah Revolusi Xinhai 1911 pemerintahan China berganti bentuk dari monarki ke republik, Kekhanan Kumul tetap dipertahankan sebagai kerajaan Islam yang mempunyai otonomi untuk menjalankan pemerintahannya sendiri. Kumul, laiknya Yogyakarta di Indonesia, menjadi daerah istimewa di China.

Namun, sesudah kekuasaan Jin Shuren makin solid, ia membubarkan Kekhanan Kumul selepas sultannya, Maqṣūd Shāh, mangkat di usianya yang tua pada Maret 1930.

Pemerintah Republik China yang bermarkas di Nanjing mendukung pemberontakan itu dengan memberi lampu hijau kepada Ma Zhongying, jenderal muslim Hui yang menjadi komandan kavaleri Divisi 36 Tentara Revolusioner Nasional (中央陸軍新編第三十六師), membawa pasukannya ke Xinjiang untuk turut menggempur Gubernur Jin Shuren. Ma Zhongying tercatat dua kali mengomandani serdadunya ke Xinjiang untuk itu: pertama, pada pertengahan tahun 1931 dan, kedua, pada Mei 1933. Ribuan pasukan berkudanya ia bawa.

Selain didorong oleh tujuan politis, Ma Zhongying mau ’menolong’ pemberontak Uighur di Kumul sebab, kata Ma sebagaimana dinarasikan Yulbars dalam Memoar Yulbars (尧乐博士回忆录 Yaolebosi Huiyilu, 1970) yang ditulisnya, dilandasi oleh ”persaudaraan sesama muslim.”

Sontak, pemberontakan ini menginspirasi Uighur di Xinjiang selatan untuk ikut menyulut pemberontakan jua. Muslim Uighur di wilayah-wilayah penting Xinjiang selatan seperti Kucha, Aksu, Khotan, dan Kashgar pun ikutan memberontak.

Walakin, berbeda dengan di Xinjiang utara, yang dijadikan sasaran pemberontakan Uighur di Xinjiang selatan tidak hanya orang-orang Han, melainkan juga orang-orang Hui (atau disebut pula ”Tungan”) yang notabene sama-sama beragama Islam.

Apa pasal?

Sejak Republik China berdiri, yang menjadi penguasa di Xinjiang selatan dengan Kashgar sebagai ibu kotanya, adalah muslim-muslim Hui yang, runyamnya, bukan berasal dari Xinjiang sendiri. Sebut saja, misalnya, Ma Fuxing (马福兴) dan Ma Shaowu (马绍武), orang nomor satu Kashgar bersuku Hui asal Yunnan itu.

Makanya, kalau di Xinjiang utara muslim Hui dianggap sebagai ”juru selamat” dari cengkeraman penguasa Han, di Xinjiang selatan justru sebaliknya: mereka, bersama suku Han, dicap sebagai pembawa malapetaka bagi keterbelakangan Xinjiang selatan.

Tak heran, sebagaimana dikutip Zhang Dajun dalam jilid 6 Tujuh Puluh Tahun Huru-hara Xinjiang (新疆風暴七十年 Xinjiang Fengbao Qishi Nian, 1980), tatkala pada 12 November 1933 diproklamasikan berdirinya Republik Islam Turkestan Timur (Sherqiy Türkistan Islam Jumhuriyiti) yang berpusat di Khotan dan Kashgar, Sabit Damolla yang menjabat sebagai perdana menteri negara yang dikepalai Khoja Niyaz Haji itu lantang menyatakan:

”Dibandingkan orang-orang Han, Tungan lebih merupakan musuh orang-orang Uighur … Karena itu, orang-orang Uighur harus waspada dan hati-hati terhadap Tungan, [mereka] harus dilawan dengan keras, jangan sekali-kali ewuh pekewuh [kepada Tungan] … Baik Tungan maupun Han tidak punya legitimasi untuk mengklaim Turkestan Timur. Turkestan Timur adalah Turkestan Timur-nya orang Turkestan Timur, [kita] tidak butuh orang asing untuk menjadi orang tua kita.”

Dalam bukunya, History of the Expedition in Asia: 1927-1935 (1944), pengelana-cum-geografer ternama asal Swedia Sven Hedin pernah berbicara dengan seorang Uighur sepuh bernama Niaz Haji yang mengatakan,

”Tak ada orang yang bisa mencelakaiku. Tapi Tungan itu bukan orang. Mereka adalah binatang buas yang berkeliaran di jalanan. Jangan harap bisa berbicara dengan binatang buas. Mereka selalu menyiapkan senapan dan pistol. Mereka tidak mengerti bahasa lain.”

Begitulah, politik dan kekuasaan agaknya memang tidak mengenal apa yang disebut Ma Zhongying sebagai ”persaudaraan sesama muslim”.

Bahkan, meski sama-sama muslim Uighur, Khoja Niyaz dan Sabit Damolla pada akhirnya pecah kongsi. Khoja Niyaz lebih memilih Xinjiang tetap berada dalam naungan China dengan otonomi penuh, sedangkan Sabit Damolla bersikeras Xinjiang tidak boleh tidak memerdekakan diri.

Alhasil, negara berasaskan Islam bentukan Uighur tersebut cuma bertahan beberapa bulan sebab harus kolaps pada 16 April 1934.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Ahmad

    26 April 2021 at 10:22 am

    Ternyata karena ambisi politik, umat Islam saling membenci satu sama lain

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan terlebih dahulu membaca dua tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara...