Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Kutadgu Bilig: Kitab Puisi Sufi Tertua Uighur

Salinan Kutadgu Bilig Vienna © wikimedia.org

KEKHANAN Kara-Khanid sebagai kerajaan Islam pertama di Xinjiang melahirkan satu pujangga besar: Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib.

Karyanya: Kutadgu Bilig.

Sayangnya, seperti Supersemar, hingga kini belum ditemukan naskah asli Kutadgu Bilig. Yang ada hanya tiga salinannya dalam tiga aksara berbeda dan dinamai berdasar tempat penemuan atau penyimpanannya.

Pertama, salinan Vienna. Ditulis menggunakan aksara Uighur kuno (回鹘). Disalin di kota Herat semasa pemerintahan Shāh Rukh (1405–1447), putranya Timūr. Tertulis di sana, salinan ini diselesaikan pada 4 Muharam 843 H (1439). Lalu dibawa ke Istanbul. Kemudian, pada 1823, ditemukan oleh orientalis asal Austria Joseph von Hammer-Purgstall ketika bekerja di Turki. Dari situ, ia lantas membawanya ke Vienna. Sekarang disimpan di Österreichische Nationalbibliothek, Vienna.

Kedua, salinan Kairo. Ditulis menggunakan aksara Arab. Ditemukan pada 1896 oleh orientalis Jerman, Bernhard Moritz, yang waktu itu direktur Khedivial Library.

Ketiga, salinan Ferghāna. Juga ditulis memakai khat Arab. Ditemukan pada 1913 di perpustakaan privat di Kota Namanghān, Provinsi Ferghāna, Russian Turkestan (Russkiy Turkestan), oleh seorang bernama Ahmed Zeki Velidi alias Zeki Velidi Togan.

Dalam kata pengantar pada salinan-salinan Kutadgu Bilig tersebut, kitab ini dielu-elukan sebagai karya sastra pertama yang ditulis dalam bahasa masyarakat setempat (dalam hal ini lingua franca penduduk Kesultanan Kara-khanid), di tengah banyaknya karya sastra yang ditulis dalam bahasa Arab dan Persia yang beredar di Kashgar (Xinjiang) dan Asia Tengah kala itu. Dikatakan pula, secara tersirat, kitab ini telah menyebar ke mana-mana dan menjadi semacam buku panduan bagi raja-raja sehingga,

”Di China utara, [kitab ini] disebut ’Ādabu-’l-mulūk (Adab Para Raja). Para sarjana di China selatan menyebutnya ’Ānisu-’l-mamlakat (Sahabat Kerajaan). Orang-orang utara menyebutnya Zīnatu-’l-umarā (Perhiasan Para Pemimpin). Orang Iran menyebutnya Shāhnāma-i turkī (Shahnameh Bangsa Turk). Yang lain menyebutnya Pendnāma-i mulūk (Kitab Nasihat untuk Para Raja). Sementara orang-orang lokal di negeri ini menyebutnya Kutadgu Bilig (Ilmu Pembawa Kebahagiaan).”

Maklum, selain bagian awal yang diisi dengan puji-pujian kepada Allah, Rasulullah, khulafaur rasyidin, dan sultan Kara-khanid, Kutadgu Bilig selanjutnya berisi puisi dalam bentuk percakapan antara empat tokoh rekaan: (1) Küntoğdı (matahari terbit) yang merujuk kepada raja serta melambangkan keadilan dan hukum, (2) Aytoldı (bulan purnama) yang merujuk kepada perdana menteri serta melambangkan kesetiaan dan kepabilitas, (3) Ögdülmiş (yang terpuji), merujuk kepada para ulama dan cendekiawan, serta melambangkan tingginya keilmuan dan kebijaksanaan, (4) Oðğurmış (yang tercerahkan), merujuk kepada para sufi (darwis) dan melambangkan ketajaman penglihatan.

Jika diringkas, puisi panjang Kutadgu Bilig mengisahkan tentang Küntoğdı yang mencari perdana menteri untuk membantunya mengurus negeri; lalu datanglah Aytoldı yang kelak menjadi perdana menterinya yang setia dan giat bekerja; kemudian Aytoldı menitipkan anaknya, Ögdülmiş, untuk menggantikannya setelah dirinya wafat dan raja mengabulkannya; sesudah itu Ögdülmiş mengusulkan kepada Küntoğdı agar mengajak Oðğurmış dalam memimpin negara namun Oðğurmış menolaknya; Ögdülmiş ingin mengikuti jejak Oðğurmış yang menghindari hiruk pikuk duniawi tapi Oðğurmış menyarankannya agar terus mengabdi untuk bangsa. Küntoğdı dan Ögdülmiş bersedih hati sebab tak lama kemudian Oðğurmış mangkat. Sebagai bentuk penghormatan terhadapnya, Küntoğdı (raja) dan Ögdülmiş (cendekiawan/ulama) memimpin negara dengan bijaksana sehingga tercipta keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Boleh jadi, Kutadgu Bilig sebenarnya adalah suara hati dari penulisnya sendiri, Yūsuf. Sebagaimana dinyatakannya, Yūsuf mempersembahkan karyanya ini untuk Qarā Būghrā Khān, sultan Kara-khanid di Kashgar waktu itu. Mungkin, sultan yang dimaksudnya adalah Ṭawghach Qarā Khān Abū ‘Alī Ḥasan ibn Sulaimān Arslān –yang sohor dengan kebajikannya selama 10 tahun pemerintahannya. Berkat persembahan karyanya ini, sultan menganugerahi Yūsuf gelar ”Khāṣṣ Ḥājib” (kepala istana) yang setara dengan perdana menteri.

Kendati begitu, sampai saat ini masih sedikit sekali informasi mengenai Yūsuf. Dalam Kutadgu Bilig, laiknya seorang sufi yang menyepi, ia terlihat irit sekali memberitahukan identitasnya. Ia hanya menceritakan bahwa dirinya lahir di Balasagun (salah satu kota di Kirgizstan sekarang) dari keluarga terpandang. Selepas mengenyam pendidikan di tempat kelahirannya itu, ia pindah ke Kashgar.

Makam Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib di Xinjiang © wikimedia.org

Kutadgu Bilig, kata Yūsuf, mula-mula ditulisnya di Balasagun namun dirampungkan di Kashgar pada 462 Hijriah –atau sekitar 1069-1070 Masehi. Penulisannya cuma memakan waktu 18 bulan. Padahal, bentuk puisi yang ditulisnya sangatlah rumit: mengikuti pola (baḥr) Mutaqārib puisi Arab klasik dan metrum Masnavi puisi Farsi seperti kitab sufi Masnavi-ye-Ma’navi karya Jalaluddin Rumi.

Yūsuf tidak membocorkan kapan ia dilahirkan. Tetapi, jika benar Kutadgu Bilig, seperti diakui Yūsuf, mulai ditulis ketika dirinya berusia 50 tahun, maka barangkali bisa disimpulkan ia lahir pada kisaran 410 H (atau tahun 1019 M).

Yūsuf diyakini meninggal pada 1077. Ia ditokohkan –baik di Xinjiang maupun di Kirgiztan– dan karyanya tak akan lekang oleh zaman.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...