Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara Besar terhadap China

© abc.net.au

DARI dulu, Uighur dan Xinjiang selalu menjadi ”kartu” negara-negara besar untuk menggencet China –baik tatkala China masih di bawah kepemerintahan Partai Nasionalis Kuomintang, lebih-lebih semasa kepemimpinan Partai Komunis Kunchantang.

Ketika masih dikuasai Kuomintang, pada akhir tahun 1944 Uighur di Xinjiang utara memproklamasikan berdirinya Republik Turkestan Timur. Pendirian republik ini disokong penuh oleh Soviet yang notabene dedengkotnya komunisme internasional. Mulai dari persenjataan hingga pendanaan.

Kenapa Soviet mendukung kemerdekaan Uighur? Karena Soviet tidak puas terhadap Sheng Shicai, gubernur Xinjiang waktu itu. Sheng menjadi gubernur Xinjiang setelah pada 12 April 1933 melakukan ”kudeta merangkak” terhadap gubernur Xinjiang sebelumnya, Jin Shuren. Kudeta ini di-backing oleh Soviet.

Setelah kudeta itu berhasil, sebagai balas budi, Sheng mengejawantahkan kebijakan pro-Soviet di Xinjiang. Soviet diberi izin untuk melakukan perdagangan bebas di sana –terutama di Ili, wilayah di Xinjiang utara yang berbatasan langsung dengan Soviet. Tidak hanya itu, Soviet juga dibolehkan untuk mengeksploitasi ladang-ladang minyak di Xinjiang.

Namun, ketika Soviet babak belur di awal pertempuran melawan agresi kilat (blitzkrieg) Jerman Nazi dalam Operasi Barbarossa (Unternehmen Barbarossa) pada 22 Juni 1941, Sheng berbalik muka. Dia beraji mumpung: mengusir Soviet ketika sedang lemah-lemahnya. Mirip pepatah ”ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.” Tenaga perminyakan Soviet diperintahkan untuk pulang secepatnya. Pedagangan bebas direstriksi. Hubungan dengan Soviet pun diputus sejak 3 Mei 1943.

Soviet jelas tak terima, sebab Sheng dianggap bak kacang lupa kulitnya. Makanya, selang sehari setelah keputusan pemutusan hubungan dengan Xinjiang, Politburo CC Partai Komunis Se-Uni Soviet (Bolshevik) alias VKP(b) mengeluarkan keputusan untuk balas dendam kepada Sheng.

Dalam dokumen keputusan rapat Politburo CC VKP(b) bertarikh 4 Mei 1943 yang dideklasifikasi dan didigitalisasi Wilson Center disebutkan, sebagai ganjaran dari polah Sheng, Soviet harus mendukung perjuangan suku-suku minoritas di Xinjiang (termasuk di dalamnya Uighur) untuk ”melawan kebijakan kolonialis nan represif Gubernur [Sheng] dan pemerintah [China di] Xinjiang.” Caranya sangat konkret: susun propaganda mendiskreditkan pemerintah China dan Xinjiang, lengkapi persenjataan kombatan-kombatan, latih kader-kader politik dan militer militan.

Hasilnya nyata: Republik Turkestan Timur pada 12 November 1944 benaran berdiri.

Ribut-ribut soal Uighur belakangan ini mengingatkan saya pada Karl Marx yang bilang ”sejarah bisa berulang.” Pasalnya, saya melihat wayangnya tetap sama: Uighur. Caranya juga tetap sama: diskreditkan pemerintah China. Dalangnya yang mungkin berbeda: doeloe Soviet, sekarang entah siapa.

Ada yang bisa bantu saya menjawabnya?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Esai

MENJELANG pertengahan tahun 1950-an, di bawah nama taktik Front Persatuan Nasional, Aidit dan kawan-kawan –yang baru saja merebut kepemimpinan PKI– mendekati Bung Karno dan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...