Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Mengapa China Membangun “Kamp Konsentrasi” Uighur?

China membangun “kamp konsentrasi” setelah sebelumnya gagal menanggulangi radikalisme dengan dua cara lainnya: militerisme dan kesejahteraan

© reuters.com

IRONIS, tatkala Donald Trump –yang saat itu masih presiden Amerika– menandatangani Undang-Undang HAM Uighur (Uyghur Human Rights Policy Act of 2020) untuk menjatuhkan sanksi kepada pejabat-pejabat China yang dianggap melanggar HAM lantaran keterkaitannya dengan “kamp konsentrasi” Uighur di Xinjiang, politikus Partai Republik itu malah terungkap mendukung pembangunan “kamp” dimaksud.

Dalam pertemuan privat dengan Presiden China Xi Jinping (習近平) di sela-sela KTT G-20 yang dihelat di Jepang pada Juni 2019, “Trump mengatakan bahwa Xi harus terus membangun kamp-kamp” Uighur sebab menurut Trump itu adalah “hal yang benar-benar tepat untuk dilakukan” guna menangkal separatisme yang berkelindan dengan radikalisme agama di Xinjiang. Pendapat serupa juga disampaikan Trump ketika berkunjung ke China pada November 2017 silam.

Adalah mantan penasihat keamanan Trump, John Bolton, yang membeberkan informasi demikian dalam memoarnya yang viral, The Room Where It Happened: A White House Memoir. Barangkali sekadar kebetulan, The Wall Street Journal merilis cuplikan buku Bolton itu tepat di hari ketika Trump meneken UU HAM Uighur, 17 Juni 2020 lalu. Kabarnya, Gedung Putih menggugat penerbitan buku tersebut karena dinilai telah membocorkan rahasia negara.

Sebenarnya, jika mengikuti evolusi kebijakan pemerintah China terhadap Uighur di Xinjiang, dukungan Trump agar Xi terus mendirikan “kamp konsentrasi” untuk tujuan deradikalisasi tidaklah sulit untuk kita pahami. Kita tahu, China membangun “kamp konsentrasi” setelah sebelumnya gagal menanggulangi radikalisme dengan dua cara lainnya: militerisme dan kesejahteraan.

Selama 60 tahun, terhitung sejak akhir 1949 Partai Komunis China (PKT) menang dalam perang saudara melawan Partai Nasionalis (Kuomintang) hingga 2010, rata-rata yang menjadi petinggi Xinjiang adalah orang-orang yang bertangan besi. Di antara mereka, yang paling ternama dan terlama menguasai Xinjiang adalah Wang Lequan (王樂泉). Sampai-sampai dia dijuluki “新疆王 Xinjiang Wang”, Pangeran Xinjiang.

Wang –yang notabene suku Han– menjadi orang nomor satu Xinjiang sejak 1995. Kita ingat, pada era ’90-an, Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM) sebagai kelompok separatis Uighur kawakan memang sedang gencar-gencarnya melancarkan beragam aksinya. Xinjiang menjadi sangat tidak kondusif.

Makanya, kala pemerintah pusat pada 1996 mengeluarkan dokumen berisi arahan khusus untuk Xinjiang yang terkenal dengan sebutan “七號文件 Qi Hao Wenjian” (Dokumen Nomor 7), di situ disimpulkan bahwa, “Yang menjadi penyebab utama kondusif tidaknya Xinjiang adalah separatisme dan aktivitas keagamaan yang melanggar hukum.”

Berbekal petunjuk pemerintah pusat itu, Wang langsung menitikberatkan pemerintahannya pada bagaimana agar Xinjiang segera kondusif –walau bagaimana pun caranya. Dipilihlah jalur militeristik. Ketemu yang kelihatan radikalis sedikit, jebloskan ke penjara, atau langsung didor saja, tanpa kompromi.

Di belakang layar, pemerintah pusat menyetir kebijakan pemerintah daerah Xinjiang melalui pembentukan Gugus Tugas Koordinator Persoalan Xinjiang (中央新疆工作協調小組 zhongyang Xinjiang gongzuo xietiao xiao zu) yang didirikan pada tahun 2000 dan diketuai oleh anggota tetap politbiro komite sentral PKT merangkap sekjen Komite Politik dan Hukum PKT (政法委 zheng fa wei).

Benar Xinjiang berubah kondusif seketika, setelah itu. Namun, hubungan antara Uighur dengan migran-migran bersuku Han malah kian tegang karenanya. Terlebih, terbengkalainya pembangunan ekonomi gegara anggaran belanja daerah lebih difokuskan pada sektor keamanan, menjadikan kesenjangan ekonomi Uighur versus Han makin menganga. Lantas meletuslah konflik horizontal Kerusuhan 5 Juli 2009 yang memakan ratusan korban jiwa dan ribuan orang luka-luka di Ürümqi, ibu kota Xinjiang itu.

Sekitar sepuluh bulan kemudian, tepatnya pada 24 April 2010, Wang yang gahar dicopot dari jabatannya. Digantikan oleh Zhang Chunxian (張春賢) yang dikenal kalem.

Zhang meninggalkan gaya-gaya militeristik Wang. Dia memakai pendekatan kesejahteraan sosial lewat pembangunan ekonomi. Lapangan kerja untuk Uighur diperluas. Dia sendiri sering melakukan blusukan ke daerah-daerah dan makan bersama masyarakat Uighur setempat. Pejabat-pejabat Xinjiang juga diminta belajar bahasa Uighur dan pergi ke desa-desa untuk bercengkerama bersama warga (下鄉駐村 xiaxiang zhucun). Bahkan, Idulfitri dan Iduladha dijadikan hari libur seluruh etnis olehnya. Di luar Xinjiang, tak ada hari raya keagamaan dijadikan sebagai hari libur daerah macam itu.

Di waktu yang sama, pada 2013 pemerintah pusat juga merombak keketuaan Gugus Tugas Koordinator Persoalan Xinjiang dari yang selama 13 tahun dipimpin oleh orang yang berlatar belakang hukum, diganti menjadi orang yang khusus menangani kesejahteraan sosial dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (政協 zheng xie).

Tak heran pemerintah pusat semakin memperluas cakupan kebijakan yang meminta belasan provinsi maju di China menyedekahkan sekian persen pendapatannya untuk membantu perekonomian Xinjiang. Kebijakan yang disebut “對口援疆 duikou yuanjiang” ini masih berlanjut hingga kiwari.

Sayang, harapan untuk menumpas kelompok separatis Uighur berpaham agama radikal dengan pendekatan kesejahteraan pun tak menemui hasil yang signifikan.

Buktinya, 30 April 2014, tepat pada hari terakhir kunjungan Xi ke Xinjiang, dua orang Uighur melakukan penyerangan dan bom bunuh diri yang mengakibatkan sekitar 3 orang meninggal dan 79 orang luka-luka di Stasiun Kereta Ürümqi Selatan. ETIM mengaku bertanggung jawab atas aksi terorisme tersebut. Hampir sebulan berselang, 22 Mei 2014, terjadi peledakan oleh Uighur lagi yang menewaskan sedikitnya 39 orang di salah satu pasar pagi Ürümqi. Ini belum termasuk penyerangan dan peledakan yang terjadi di daerah lain seperti Stasiun Kereta Api Kunming, Yunnan, dan Lapangan Tiananmen, Beijing.

Zhang akhirnya didepak pada 2016, digantikan oleh Chen Quanguo (陳全國) yang sebelumnya menjadi Sekjen PKT di Tibet. Di periode kepemimpinan Chen inilah “Pusat Reedukasi dan Pendidikan Vokasi” –demikian pemerintah China menyebut “kamp konsentrasi”– digalakkan pembangunannya.

Mereka yang disinyalir terpapar paham keagaamaan radikal, dimasukkan ke situ untuk diajari nasionalisme dan pelbagai kemampuan dasar yang diperlukan dunia kerja. Di dalamnya, pasti ada “murid” yang patuh dan yang nakal. Terhadap yang bandel, kemungkinan akan diperlakukan keras laiknya guru-guru zaman old memperlakukan anak didiknya. Tujuannya tiada lain demi kebaikan mereka.

Boleh jadi ini adalah jalan tengah yang coba ditempuh pemerintah China setelah gagal menempuh jalur militeristik dan kesejahteraan: diberi kesempatan “tobat” dulu di “Pusat Reedukasi dan Pendidikan Vokasi”, daripada dijebloskan ke jeruji besi, atau langsung dieksekusi. Apakah ikhtiar ini akan berhasil, atau malah kontraproduktif seperti dua yang lainnya? “Nanti sejarah yang akan membuktikannya,” kalau meminjam kata-kata Gus Dur.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Cakmuh

    20 April 2021 at 4:32 pm

    Sukaaa banget .. renyah banget tulisanmu om… ganxie

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...