Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Islamisasi Xinjiang: Antara Sufi dan Perang

Makam Satuq Bughra Khan di Artush © wikimedia.org

BAHWA setelah Satuq Bughra Khān memeluk Islam lalu mengobarkan perang terhadap orang-orang yang dicap ”kafir” dan ”munafik” (kāfirlār va munāfiqlār), adalah benar adanya. Dengan kata lain: bahwa penyebaran Islam di wilayah yang banyak dihuni orang-orang Uighur itu tidak melulu dilakukan dengan cara-cara damai, ialah fakta yang, betapapun pahitnya, mestilah kita akui keberadaannya.

Namun demikian, bahwa pada mulanya Islam dibawa masuk ke Xinjiang lewat perdagangan dan pendekatan sufistik, juga merupakan kebenaran yang harus kita amini. Sayangnya, sesudah masuk ke Xinjiang dan Satuq dielu-elukan sebagai orang pertama yang mengimani agama ini, metode penyebarannya seketika berubah menjadi konflik berdarah-darah.

Saya hendak mengajukan proposisi dualistis begitu selepas membaca kembali Taẕkira-i Ḥaẓrati Sulṭān Satuq Bughra Khān Ghā yang diterjemahkan Jeff Eden dalam bukunya, Warrior Saints of the Silk Road: Legends of the Qarakhanids (2018).

Manuskrip yang kini disimpan di Perpustakaan Lund University dengan nomor katalog Jarring Prov. 413 itu beraura sufi kental sekali. Dus, sejarawan yang mengutipnya ketika menulis tentang Satuq Bughra Khān dan awal Islamisasi Xinjiang, kerap memberikan catatan bahwa kisah di dalamnya lebih mirip hikayat ketimbang sejarah.

Perjumpaan Rasulullah dengan Rūḥ Satuq

Dinarasikan di sana, ketika Rasulullah melakukan isra Mikraj (621), Allah memperlihatkan kepada Rasulullah rūḥ seseorang yang dikumpulkan bersama rūḥ para nabi terdahulu. Rasulullah tidak mengenalinya dan bertanya kepada Malaikat Jibril, rūḥ Nabi siapa itu?

Malaikat Jibril menerangkan, itu bukan rūḥ Nabi, tapi rūḥ istimewa dari umat Rasulullah yang akan lahir ke dunia 330 tahun setelah Rasulullah wafat. Orang ini yang akan membawa Islam kepada masyarakat Turkestan (Xinjiang). Nama pemilik rūḥ ini adalah Satuq Bughra Khān.

Rasulullah terharu, karena sebelumnya mengira tanah Turkestan tidak akan terjamah cahaya Islam.

Saat kembali ke dunia, Rasulullah membaca al-Fatihah di depan para sahabatnya. Seorang sahabat bernama Mu‘āż ibn Jabal (603-639) bertanya, al-Fatihah itu diperuntukkan untuk siapa? Rasulullah lantas menceritakan kisahnya tatkala diperlihatkan rūḥ oleh Allah ketika isra Mikraj, dan mengatakan al-Fatihah itu diperuntukkan untuk Satuq Bughra Khān yang akan menjadi ”awwalu man aslama min al-Turk” (orang paling awal yang masuk Islam dari bangsa Turk). Uighur, kita tahu, termasuk bangsa Turk.

Lalu, Mu‘āż memohon kepada Rasulullah untuk didoakan agar juga bisa melihat rūḥ Satuq Bughra Khān yang, menurut Mu‘āż, akan menjadi seorang waliullah. Rasulullah mendoakannya, dan datanglah 41 orang mengenakan topi qalpaq dengan menunggangi kuda arghumaq berwarna hitam keabu-abuan. Orang-orang itu mengucapkan salam kepada Rasulullah dan sahabatnya. Rasulullah memberi tahu, orang yang memimpin rombongan itu adalah rūḥ Satuq Bughra Khān dan satu orang di antaranya bernama Abū al-Nāṣir Sāmānī (dari Dinasti Samaniyah yang berpusat di Samarkand dan Bukhara). Nāṣir, lanjut Rasulullah, adalah orang yang akan mengajari Satuq Bughra Khān Islam.

Khidir, Satuq, dan Nāṣir

Ketika Nāṣir lahir dan beranjak dewasa, ia mendengar cerita bahwa Rasulullah semasa hidupnya pernah menyabdakan perihal dirinya dan Satuq Bughra Khān yang akan menjadi orang pertama dari bangsa Turk yang memeluk Islam. Nāṣir mendambakan untuk segera berjumpa dengan Satuq Bughra Khān.

Waktu Satuq lahir, bunga-bunga bermekaran di tengah terjadinya gempa yang dahsyat. Seorang ahli nujum meramalkan Satuq akan menjadi penakluk dunia dan masuk ke agama yang dibawa Nabi Muhammad. Para kafir yang mendengar ramalan itu hendak membunuh anak tersebut. Ibu Satuq mencegahnya, tapi mempersilakan mereka membunuhnya jika benar pada saat dewasa dia menganut Islam.

Ayah Satuq meninggal ketika Satuq berusia 7 tahun. Dia kemudian diasuh oleh pamannya, Harun Bughra Khan alias Oghulcak.

Umurnya telah 12 tahun ketika pada suatu hari Satuq pergi berburu bersama 39 pengawalnya. Tiba-tiba ada kelinci hutan keluar dari semak-semak. Dia berpencar dari pengawalnya untuk memburu kelinci itu. Dan, tak dinyana, kelinci itu berubah menjadi manusia.

Satuq takjub dan berlutut di depannya. Orang jelmaan kelinci ini, yang kelak diyakini sebagai Nabi Khidir, memberi tahunya bahwa orang-orang kafir akan masuk neraka di mana di dalamnya terdapat api yang berkobar-kobar dan banyak kalajengking serta penderitaan tiada akhir.

Satuq bertanya bagaimana agar tidak masuk neraka. Orang itu mengatakan, dengan membaca ”ašhadu ʾan lā ʾilāha ʾilla -llāhu, wa-ʾašhadu ʾanna Muḥammadan rasūlu -llāhi.” Satuq mengikutinya. Orang itu menambahkan, dengan membaca itu, orang akan masuk surga di mana di dalamnya terdapat banyak bidadari dan makanan serta minuman yang enak-enak.

Satuq berjanji akan masuk Islam ketika dewasa. Dia memintanya untuk datang lagi, sebab masih ingin bertanya banyak hal. Namun, orang itu berujar, kelak akan ada orang yang datang sebagai gurunya. Satuq menjawab, bila begitu, dia akan menjadi muslim di depan orang yang akan menjadi gurunya itu.

Pada suatu hari, Satuq pergi berburu lagi dengan 39 pengawalnya. Ketika tiba Artush, dia melihat karavan dagang. Rupanya, itu adalah rombongan pedagang yang dipimpin Nāṣir dari Dinasti Samaniyah. Nāṣir melihatnya, dan langsung mengira itu adalah Satuq yang dimaksud Rasulullah. Seketika, atas perintah Nāṣir, seorang dari rombongan mengumandangkan azan. Mereka melangsungkan salat.

Satuq menyaksikan ritual itu, dan yakin bahwa orang ini adalah orang yang dimaksud oleh Nabi Khidir dalam perburuan sebelumnya.

Mereka akhirnya bertemu. Satuq pun masuk Islam. Lalu mengkudeta pamannya yang ”kafir”, merebut takhta Kerajaan Kara-khanid yang didirikan kakeknya, dan mengubahnya menjadi kesultanan pertama di Xinjiang.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...