Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Satuq Bughra Khan: Uighur Mualaf Pendiri Kerajaan Islam Pertama di Xinjiang

Selain hidayah, kemungkinan juga ada motif politik dalam keislaman Satuq Bughra Khan

Makam Satuq Bughra Khan di Artush © wikimedia.org

BILA ada yang bertanya ”siapa raja Uighur pertama yang memeluk Islam?”, maka jawablah ”Satuq Bughra Khan.” Haturkan tiga kitab klasik Tārīkh-i Kāshg̣ar karya Imam Abu al-Futuh ‘Abd al-‘Arif, Taẕkirat al-Bughrā-khān yang ditulis Mullah Haji, dan Mulhaqāt al-Surāh buah pena Jamal Qarshi, sebagai rujukannya. Jawaban demikian masih akan terus dianggap sahih sampai, entah kapan, ditemukan bukti lain yang menegasikannya.

Walakin, tiga kitab yang menyebut Satuq adalah raja Uighur pemeluk Islam terawal itu bukan berarti tanpa cela. Pasalnya, yang dinarasikan di dalamnya lebih mirip hikayat ketimbang kisah sejarah. Namun, karena belum ada literatur selain itu yang bisa dijadikan sandaran, sejarawan mancanegara tidak boleh tidak selalu mengutipnya meski dengan menambahi beragam catatan.

Belum lagi, Tārīkh-i Kāshg̣ar (yang menjadi bibliografi utama Taẕkirat al-Bughrā-khān dan Mulhaqāt al-Surāh) sudah tidak utuh lagi –menjadikan penelaahan mendalam terhadap sosok dan keislaman Satuq menghadapi kendala tersendiri.

Walau begitu, saya tetap akan coba menyarikan isi tiga kitab ini untuk kita kaji bersama-sama.

Syahdan, karena konflik internal Dinasti Samaniyah, Nasr, saudara Isma‘il, mencari suaka ke Kashgar. Oghulcak menerimanya dengan sangat baik. Bahkan, dia mengangkatnya sebagai gubernur Artush. Sejak itu, rombongan saudagar muslim dari Bukhara dan Samarkand ramai berdatangan ke sana.

Nasr sering memberi hadiah kepada Oghulcak sebagai wujud terimakasih. Keduanya pun berkarib. Suatu hari, Nasr meminta kepada Oghulcak yang ”kāfir” itu, sebidang tanah untuk membangun masjid. Oghulcak mengabulkannya. Berdirilah masjid akbar Artush.

Pada suatu waktu di zaman Khalifah al-Muti‘illah (946–74), Satuq yang berumur 12 tahun bepergian ke Artush untuk melihat karavan pedagang yang datang. Dia menyaksikan mereka salat berjemaah. Karena tak pernah tahu sebelumnya, dia bertanya kepada Nasr apa yang sedang mereka perbuat. Nasr menjelaskan bahwa itu adalah serangkaian kewajiban ibadah lima waktu umat Islam. Nasr panjang lebar menerangkan apa itu Islam kepada Satuq dan mengajarinya kunut, al-Fatihah, dan al-Ikhlas. Satuq tertarik dan bersyahadat buat masuk Islam saat itu juga. Maka, dia menjadi ”pemeluk Islam pertama dari Kekhaganan Turk di area Kashgar dan Fergana” (awwalu man aslama min Khawāqīni al-Turk fī ḥudūdi Kāsygar wa Fargānaḥ). Satuq juga memerintahkan pengawalnya untuk masuk Islam.

Satuq merahasiakan kemuslimannya kepada Oghulcak, pamannya. Nasr juga tak memberitahu Oghulcak. Satuq diam-diam belajar Al-Qur’an dan syariat. Dia juga mendakwahi koleganya. Perlahan, pengikutnya membanyak.

Oghulcak mulai curiga. Dia memaksa Satuq membangun kuil untuk memastikan kalau kemenakannya bukan ”Musulmān”, istilah yang dipakai saat itu untuk merujuk penganut Islam. Karena takut, Satuq manut. Dalam keadaan tertekan, Satuq berdoa kelak dapat mengubahnya menjadi masjid dan menjadi imamnya untuk menyiarkan Islam.

Cita-citanya tercapai. Ketika Satuq berumur 25 tahun, dia mengumpulkan 300 kavaleri dari Kashgar dan 1000 laskar jihad dari Fergana untuk mendongkel pamannya, si kafir. Kavalerinya membesar menjadi 3000. Pamannya berhasil didepak. Perang terhadap ”kaum kafir” (kāfirlār) berakhir dengan kemanangan gemilang muslim. Satuq bertakhta. Rakyatnya pun menganut Islam semua.

Satuq mangkat pada 955. Dia dipuji sebagai ”al-mujāhid”, pejuang agama Allah dan Rasulullah Muhammad. Makamnya di Artush diziarahi banyak orang sampai sekarang.

Kurang lebih demikian cerita bagaimana Satuq memeluk Islam dan bagaimana dia kemudian mengislamkan Kekhanan Kara-Khanid, kerajaan yang didirikan Kül Bilgä Qadir Khan, kakeknya.

Yang menarik ditanyakan kemudian: di tengah lingkungan yang masyarakatnya mayoritas menganut Tengriisme dan Buddha, kenapa Satuq memilih masuk Islam? Selain hidayah, motif politik agaknya tidak bisa dikesampingkan.

Konflik Politik

Secara sederhana, kekuasaan Kara-khanid terbagi menjadi dua bagian: timur dan barat. Kedua wilayah ini sama-sama mempunyai ”khan” (raja) sendiri-sendiri. Khan timur menguasai pusat pemerintahan yang ada di Balasagun –yang kini merupakan wilayah Kirgizstan. Rajanya bergelar ”Arslan” yang artinya singa. Sedangkan khan timur menguasai Taraz yang sekarang berada di Kazakhstan. Gelarnya ”Bughra” yang berarti unta jantan. Hewan-hewan ini adalah beberapa di antara totem-totem mereka. (Ini mungkin mirip dengan para pembesar kerajaan di Nusantara yang banyak memakai nama hewan, semisal Gajah Mada, Hayam Wuruk, Lembu Sora, Kebo Iwa, dll.)

Kedudukan khan barat, kendati mempunyai otonomi, sebenarnya merupakan kepanjangan tangan atau wakil dari khan timur. Hubungan khan timur dan khan barat bisa diibaratkan bagai hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah di Indonesia kiwari. Sistem pemerintahan begini, dalam istilah mereka disebut ”ülüş” (atau dilafalkan juga sebagai ”üleş”) yang artinya bagi. Dalam artian, wilayah kekuasaan tidak dimonopoli oleh satu khan saja, melainkan dibagi-bagi kepada sanak familinya yang biasanya didasarkan pada tua-muda usianya. Namun begitu, khan di pusat pemerintahan tetap mempunyai hak prerogatif.

Ketika sejak 893 hingga 920 Kara-khanid di bawah kepemimpinan Bazir Arslan Khan yang notabene ayahnya Satuq, yang menjadi ”Bughra” di Taraz adalah Oghulcak, adiknya Bazir.

Oghulcak berkonflik sengit dengan Dinasti Samaniyah (819–999), kerajaan Islam-Sunnī yang didirikan bangsa Iran di Asia Tengah. Ibu kotanya di Samarkand (819–892) dan belakangan Bukhara (892–999).

Pada 893, Dinasti Samaniyah di bawah Amir Isma‘il Samani menggempur Taraz. Sekitar 10 ribu serdadu Oghulcak tewas. Istrinya, beserta 15 ribuan rakyatnya, dijadikan tawanan perang. Untuk menyelamatkan diri, Oghulcak kabur ke Xinjiang, tepatnya Kashgar, dan terus menjadi ”Bughra” Kara-khanid di sana sembari menyusun siasat untuk merebut kembali Taraz dari Dinasti Samaniyah.

Lantaran konflik internal, seperti kisah yang dinukil dari tiga kitab di muka, saudara Isma‘il yang bernama Nasr melarikan diri ke Kashgar. Bagi Oghulcak, Nasr bisa digunakan sebagai ”alat” untuk membalas dendam kepada Isma‘il. Karena itu, Oghulcak dengan tangan terbuka menerima Nasr dan memberikan apanase (hibah wilayah) kepadanya di Artush, daerah di utara Kashgar. Nasr dibolehkan membangun masjid tapi dibatasi untuk mendakwahkan Islam. Namun, intensnya kedatangan pedangan muslim dari Bukhara dan Samarkand tidak bisa membendung infiltrasi ajaran Islam ke wilayah kekuasaannya. Ironisnya, justru ponakannya sendiri, Satuq, yang menjadi ”dedengkotnya”.

Selepas pengikutnya membesar, sakit hati Satuq terhadap pamannya yang menistanya dengan perintah membangun kuil, dibalas dengan kudeta dengan mengecap pamannya ”kafir”. Oghulcak kalah. Satuq menjadi ”Bughra”. Lalu lanjut memerangi Dinasti Samaniyah yang mencaplok Taraz, merebut wilayahnya kembali. Satuq kemudian menjadi khan baru Kara-khanid dengan gelar ”sultan”.

Hingga kewafatannya pada 955, Sultan Satuq terus mengobarkan perang terhadap kerajaan-kerajaan Buddha yang ada di sekitarnya, utamanya terhadap Kerajaan Khotan yang juga dibangun oleh bangsa Iran.

Putranya, Musa Baytash Khan, meneruskan takhtanya sampai ia meninggal dalam pertempuran melawan tentara Kerajaan Khotan pada sekitar tahun 970.

Cucu Satuq, Ali Arslan Khan, melanjutkan peperangan terhadap Kerajaan Khotan namun juga wafat dalam ”perang agama” itu pada 998.

Kerajaan Khotan baru pada 1006 ditaklukkan Kara-khanid setelah kesultanan Islam ini beruntun menggempurnya 40 tahun lamanya.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...