Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Uighur, ISIS, dan Turki

Turki sepertinya baru akan sungguh-sungguh membela Uighur jika, dan hanya jika, dirasa menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya

Perempuan Uighur berjalan di kompleks perumahannya di Kayseri, Turki © al-monitor.com

TETIBA saya teringat satu dokumen rahasia berisi korespondensi antara Kementerian Hukum China (中国司法部 Zhongguo Sifabu) dengan Kementerian Hukum Turki (Adalet Bakanlığı) yang bocor ke publik pada akhir Mei 2020 silam. Dalam dokumen bilingual sejumlah 92 pagina itu, tercatat jelas bagaimana China pada 2016 meminta Turki melacak, membekukan aset, dan mengekstradisi seorang Uighur bernama Anvar Turde (安瓦尔·图尔迪) yang kabur ke Turki dan diburu kepolisian China lantaran keterkaitannya dengan ISIS.

Turki menyetujui.

Tangkapan layar potongan surat-menyurat antara Kementerian Hukum China dengan Kementerian Hukum Turki terkait Anvar Turde © istimewa

Sayangnya saya tidak tahu apakah Anvar Turde juga termasuk dalam orang-orang Uighur yang dipulangkan Turki ke China sehingga Presiden Erdoğan, pertengahan tahun lalu, dikabarkan dikecam di mana-mana.

Tapi yang pasti, bila ditilik secara historis, Turki dari dulu tampaknya memang tidak pernah benar-benar serius membela kaum Uighur yang notabene sebangsa dan seagama dengan mereka.

Mungkin bisa dimaklumi. Laiknya negara manapun di dunia, Turki sepertinya baru akan sungguh-sungguh membela Uighur jika, dan hanya jika, dirasa menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya. Ini sudah menjadi ’hukum besi’ (iron law) hubungan internasional, soalnya.

Buktinya, bahkan ketika petinggi Republik Islam Turkestan Timur (RITT) meminta bantuan dan pengakuan Turki atas berdirinya negara berazaskan Islam yang diproklamasikan Uighur di Xinjiang selatan pada akhir tahun 1933, Turki tidak hanya menyatakan ogah, malah menyuruh Uighur menjalin hubungan baik dengan Soviet.

Padahal, Turki bukannya tidak mafhum bahwa RITT didominasi oleh petinggi yang sangat membenci Soviet. Namun, karena Turki kala itu berkarib dan mendapat bejibun bantuan ekonomi dan militer dari dedengkotnya komunisme itu, mendukung pemerintahan Uighur yang anti-Soviet jelas tidak akan ada gunanya bagi kepentingan nasional mereka.

Belakangan, di bawah kepemerintahan Erdoğan, Turki memang kelihatan berpihak pada Uighur –kendati kalau ditelisik lebih dalam lagi tentu tidak akan seindah yang tampak di permukaan.

Ada satu contoh kasus. Tahun 2015, ketika ISIS masih gahar-gaharnya dengan agitasi dan propagandanya selepas satu tahun berdiri, ada ribuan orang Uighur yang berhasil dipikat. Mereka berbondong-bondong meninggalkan Xinjiang lewat Guangxi atau Yunnan, dua provinsi di tenggara Xinjiang yang berbatasan langsung dengan Asia Tenggara.

Adapun tujuan mereka, adalah ke Turki, untuk seterusnya ke Suriah.

Lewat Asia Tenggara memang akan muter-muter untuk sampai ke dua negara itu. Tapi apa boleh buat, jalur Asia Tengah yang sebelumnya biasa dipakai mereka kini telah dikunci oleh China melalui skema kerja sama Shanghai Cooperation Organization.

Lalu, melalui kedutaannya di suatu negara di Asia Tenggara, pemerintah Turki terlibat skandal pemberian paspor serta dokumen palsu lainnya kepada ribuan Uighur tersebut, supaya mereka bisa lekas diterbangkan ke Turki.

Sesampainya di Turki, mereka ditempatkan di suatu kompleks yang disediakan khusus untuk Uighur di Kayseri –yang jaraknya sekitar 10 jam dari Istanbul jika menggunakan bus.

Ada dua pilihan bagi pelarian-pelarian Uighur itu setelah tiba di Turki: (1) tetap tinggal di Kayseri dengan hidup ala kadarnya dan dengan pekerjaan yang entah kapan dapatnya; atau (2) bergegas gabung dengan kombatan ISIS yang memang sudah menyambut sejak ketibaan mereka dengan iming-iming kemakmuran duniawi sekaligus surgawi.

Bagi Uighur yang keuangannya seret lantaran selama menuju Turki sudah dipalak banyak calo untuk membayar ribuan dolar Amerika guna pemalsuan berkas-berkas perjalanannya, tawaran ISIS sudah barang tentu amat sangat menggiurkan.

Tak heran bila di tengah kegalauannya, ada sekitar 5.000 pelarian Uighur yang lantas bergabung dengan ISIS, atau dengan pasukan pemberontak Suriah yang memang disokong Turki untuk menggulingkan rezim syīʿah Bashar Assad. Dalam pikiran mereka, memerangi Suriah sama belaka dengan memerangi China –sebab Bashar Assad dekat dengan China.

Sayangnya, rezim Bashar Assad kelewat kokoh dan ISIS keburu kolaps.

Nah, pasca-ISIS porak poranda dan kemenangan tentara pemerintah Suriah itu, kombatan-kombatan Uighur itu mau diapakan? Erdoğan jelas tidak mau cari masalah dengan menyuruh mereka balik ke Turki lagi, misalnya. Lah kalau mereka mengacau di Turki, kan berabe?

Jalan pintasnya tentu pulangkan saja mereka ke China. Apalagi Turki dan China sudah punya perjanjian kerja sama ekstradisi.

Terlebih, dengan memulangkan mereka ke China, Turki bakal dapat untung ganda: kalau di China mereka mengacau, China bakal kerepotan sendiri; kalau di China mereka dimasukkan ke ’kamp konsentrasi’, China tinggal di-bully untuk sehabis itu tinggal menunggu tawaran investasi dan kerja sama ekonomi.

Kita tahu, Erdoğan sangat mumpuni dalam hal memainkan ’kartu Uighur’ untuk meraup keuntungan dari China.

Tahun 2009, ketika pecah konflik horizontal berdarah-darah antara etnis Han dengan Uighur di ibu kota Xinjiang, Erdoğan mengecam China telah melakukan ”genosida.” Tiga tahun berselang, 2012, China mempersilakannya berkunjung ke Xinjiang dengan membawa 300 orang pengusaha. China tak lagi ia cela.

Begitulah, “Qian ke tong Shen” (钱可通神). Pepatah China yang artinya, “Dengan uang, Dewa pun bisa diajak bincang-bincang” ini agaknya ada benarnya juga.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Cakmuh

    17 April 2021 at 10:48 am

    Pepatah yg terakhir… paling nampol bro ehehehr

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...