Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Ketika Laskar Muslim Uighur Menggempur Kerajaan Beda Agama

Islami Xinjiang oleh Uighur kerap dilakukan dengan memerangi kerajaan Buddha yang lebih dulu mengakar di sana

Koin Kerajaan Khotan © British Museum/wikimedia.org

ADA tiga kerajaan besar di Xinjiang sebelum Islam datang ke sana. Semuanya Buddha, kecuali satu yang mengamalkan Tengriisme (kepercayaan kuno masyarakat Uighur yang menyembah Tuhan bernama ”Tengri”). Maklum, baik penduduk asli Xinjiang sebelum kedatangan Uighur maupun imigran Uighur sendiri, memang kebanyakan merupakan penganut Buddha dan Tengriisme.

Tiga kerajaan Buddhis itu yaitu Kerajaan Uighur Qocho yang berpusat di Turpan, Kekhanan Kara-Khanid yang bermarkas di Kashgar, dan Kerajaan Khotan (于阗 Yutian) yang berkuasa di Hotan. Dua kerajaan yang disebutkan di awal, sama-sama dibangun oleh pendatang Uighur yang kabur dari Mongolia setelah kekhanan mereka dibumihanguskan oleh tentara Yenesei Kirgiz. Sedangkan satu kerajaan yang disebut terakhir adalah kerajaan yang didirikan oleh bangsa Saka –alias yang dalam literatur historis China klasik disebut ”塞” (Sai) itu. Kita tahu, bangsa Saka adalah orang-orang Iran yang hidup mengembara (nomadik) di Stepa Eurasia. Mereka penutur bahasa Indo-Iran, yang merupakan cabang terbesar dan paling timur dari rumpun bahasa Indo-Eropa.

Di antara tiga kerajaan Buddhis di atas, yang paling tua dan yang peradabannya paling bertahan lama hingga lebih dari seribu tahun adalah Kerajaan Khotan yang dibangun oleh orang-orang Saka itu. Berdiri sejak tahun 56 dan baru bubar pada tahun 1006 selepas puluhan tahun diserang oleh Kara-Khanid (840–1212), kerajaan Uighur yang awalnya mengimani Tengriisme namun kemudian memeluk Islam setelah ada satu keluarga istananya menjadi mualaf pada paruh pertama abad ke-10.

Nama orang ring 1 dimaksud adalah Satuq Bughra Khan. Dia, dalam literatur-literatur Uighur semacam Tārīkh-i Kāshg̣ar karya Imam Abu al-Futuh ‘Abd al-‘Arif, Taẕkirat al-Bughrā-khān yang ditulis Mullah Haji, dan Mulhaqāt al-Surāh buah pena Jamal Qarshi, dielu-elukan sebagai ”awwalu man aslama min Khawāqīni al-Turk fī ḥudūdi Kāsygar wa Fargānaḥ” (pemeluk Islam pertama dari Kekhanan Turk di area Kashgar dan Fergana). Uighur, kita paham, adalah anggota bangsa Turk yang, setelah eksodus dari Mongolia, mayoritas menghuni Kashgar (Xinjiang) dan daerah-daerah di sekitar Lembah Fergana (Asia Tengah).

Kendati Buddha adalah agama resmi ”negara”, tapi Kerajaan Khotan adalah kerajaan yang sangat plural. Ini, gampangnya, bisa dilihat dari beragamnya dewa yang mereka puja; baik dewa yang diagungkan orang-orang India, orang-orang China, maupun orang-orang Saka sendiri.

Viśa Dharma, misalnya. Raja Khotan yang bertakhta dari 977 sampai 985 ini, sebagaimana manuskrip berbahasa Khotan yang disimpan di The British Library dengan nomor seri IOL Khot S 21 (Ch.i.0021a), menganggap dirinya bisa menjadi raja karena mendapat anugerah dari semua dewa yang ada di dunia (”cu ra jasta dīvye parvālā nāva rrāśtä heṣṭaṃda”).

Manuskrip berbahasa Khotan yang disimpan di The British Library dengan nomor seri IOL Khot S 21 (Ch.i.0021a) © thepaper.cn

Maka tak heran bila pada masanya, Kerajaan Khotan –meski berpusat di tengah gurun nan gersang namun terbuka terhadap dunia luar– mempunyai peradaban yang gemilang. Kitab-kitab Buddha diterjemahkan dan dikaji. Bahkan, ada beberapa kitab Buddha seperti Sumukha-sūtra, Bhadracaryā-deśanā, dan Avalokiteśvara-dhāraṇī yang sudah tidak ditemukan lagi naskah aslinya yang berbahasa Sanskerta, tapi lengkap terjemahannya dalam bahasa Khotan. Biksu agung Xuanzang yang melakukan ”perjalanan ke Barat” mencari kitab suci ke India (lalu ceritanya digubah menjadi film Sun Go Kong itu), pernah sekitar delapan bulan tinggal dan belajar Buddha di Kerajaan Khotan.

Kejayaan Kerajaan Khotan perlahan memudar setelah kerajaan muslim Uighur Kara-Khanid menggempurnya selama bertahun-tahun. Dalam mahakaryanya, Dīwān Lughāt al-Turk, Leksikograf Kekhanan Kara-Khanid Mahmud al-Kashgari (1005–1102) menggambarkan bagaimana laskar muslim dari Kekhanan Kara-Khanid menyerang Kerajaan Khotan melalui puisi empat larik (dörtlük):

kälginläyü aqtïmïz

kändlär üzä čïqtïmïz

furxan ävin yïqtïmïz

burxan üzä sïčtïmïz

Terjemahan bebasnya:

Kami serbu bak bah,

Kami sasar kota-kota,

Kami hancurkan wihara,

Kami beraki patung Buddha.

Cukup ironis, sebenarnya. Kini kelompok Uighur di luar negeri acap menyuarakan bahwa pemerintah China tengah dan telah banyak melakukan perusakan terhadap situs-situs Islam di Xinjiang, namun dulu, justru muslim Uighur sendiri yang melakukan perusakan terhadap situs-situs agama lain (dalam hal ini Buddha) yang jauh lebih awal menjadi kepercayaan masyarakat Xinjiang yang didatanginya.

Apakah ini karma?


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...