Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Uighur dan Xinjiang Sebelum Islam Datang

Tidak semua Uighur menganut Islam dan Islam bukan agama asli Uighur. Sama dengan China, Uighur juga pendatang di Xinjiang

Mural bangsawan Uighur di dinding Gua Seribu Buddha Bezeklik, Turpan, Xinjiang. Masih kentara Mongol-nya? © wikimedia.org

SUPAYA lebih jernih dalam memandang Uighur dan Xinjiang, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita akui terlebih dahulu. Pertama, laiknya China, Uighur juga adalah pendatang di Xinjiang. Kedua, Islam bukan agama asli Uighur. Ketiga, tidak semua Uighur menganut Islam.

Pendatang

Jauh sebelum kedatangan Uighur ke wilayah yang sejak abad ke-18 sampai sekarang dinamai Xinjiang itu, sudah ada bangsa lain yang lebih dulu tinggal di situ. Bukti arkeologis berupa penemuan mumi-mumi yang terpreservasi secara alami di sekitar Gurun Taklamakan, Xinjiang selatan, menyatakan begitu.

Pada penghujung tahun 1979, tim arkeolog China menemukan kompleks makam kuno (古墓沟 Gumugou/Qäwrighul) di barat Lop Nur, bekas danau garam yang telah mengering di sebelah timur laut Gurun Taklamakan. Salah satu mumi berjenis kelamin wanita yang mereka temukan di pemakaman itu rambutnya merah, tulang pipinya tinggi lagi menonjol, rahangnya sempit, dan rongga matanya dalam. Mumi ini belakangan dinamai ”The Beauty of Loulan” (si cantik dari Loulan) –karena lokasi penemuannya berada di bekas wilayah kekuasaan Loulan/Krorän, kerajaan kuno di Xinjiang yang eksis pada 3 abad sebelum Masehi.

Lima tahun berselang, pada 1985, di bagian selatan Gurun Taklamakan ditemukan mumi laki-laki berambut dan berjenggot cokelat agak kemerah-merahan dengan tinggi berkisar 176-8 cm. Baju dan sepatunya masih utuh. Mumi ini diberi nama ”Chärchän Man”, sebab ditemukan di Kecamatan Chärchän/Qiemo.

Kemudian, pada 2003, satu lagi mumi anggun ditemukan di Pekuburan Xiaohe di selatan Lop Nur. Mumi yang kelak dinamai ”The Beauty of Xiaohe” ini berbalut pakaian musim dingin. Rambutnya, giginya, wajahnya, bibirnya, dan bahkan bulu matanya masih sangat ”hidup” –bak putri tidur. Saking memikat dan menggodanya, Victor H. Mair, sinolog kawakan yang turut meneliti mumi tersebut, terpesona dan selalu terngiang akan kemolekannya. ”I always refer to her as very alluring—almost seductive. She has such beautiful features—just lovely. Her lips are great; her teeth are great. She is gorgeous!kata Victor.

The Beauty of Xiaohe © Matt Rourke/AP Photos

Para saintis lantas mengetes DNA dan mengidentifikasikan ras mumi-mumi itu adalah Kaukasoid –seperti orang bule. Mereka, oleh para linguis mancanegara yang meneliti peninggalan tertulisnya, ditengarai berbahasa ibu Tokhara dari rumpun bahasa Indo-Eropa. Teks-teks sejarah China klasik menyebutnya ”吐火羅” (Tuhuoluo). Juga ”覩貨羅” (Duhuoluo). Analisa radiokarbon terhadapnya memperkirakan mereka hidup di Zaman Perunggu sekitar 2-3 ribu tahun sebelum Masehi –alias jauh sebelum Xinjiang terjamah orang-orang China dan Uighur.

Menariknya, kala mumi ”The Beauty of Loulan” ditemukan, warga Uighur di Xinjiang, terlebih yang menghendaki pemisahan dari China, buru-buru mengakui itu adalah nenek moyang mereka –guna menegaskan bahwa lebih dulu Uighur mendiami Xinjiang ketimbang China. Padahal, menurut Victor H. Mair, Uighur baru tiba di Xinjiang hampir satu abad setelah ketibaan China di sana.

Pertanyaannya, dari mana datangnya Uighur dan sejak kapan mereka datang ke Xinjiang?

Uighur yang sekarang kebanyakan bermukim di Xinjiang adalah imigran dari wilayah yang kini merupakan bagian dari Mongolia. Mereka tinggal di daerah yang namanya Ordu-Baliq. Di sana, Uighur mempunyai kerajaan sendiri yang namanya Kekhanan Uighur (744–840). Agama yang diimani mereka macam-macam, tapi yang utama adalah Maniisme dan Buddha. Sebelum datangnya dua kepercayaan asing ini, mereka menyembah Tuhan yang mereka sebut ”Tengri”. Kitab historis China semacam Shiji 史记 (Catatan Sejarawan Agung) mentranskripsikannya menjadi ”Chengli” (撐梨).  

Singkat cerita, sebagaimana dicatat Xin Tangshu 新唐书 (Kitab Dinasti Tang Baru) yang selesai dikompilasi pada 1060, Kekhanan Uighur itu diporakporandakan ratusan ribu kavaleri Yenisei Kirgiz (Xiajiasi 黠戛斯) pada 840.

Dari Mongolia, Uighur yang selamat dari gempuran pasukan Kyrgyz kemudian melakukan eksodus ke arah selatan dan ke arah barat: ke wilayah-wilayah yang sekarang merupakan bagian dari China.

Dari Buddha ke Islam

Uighur yang kabur ke selatan, ada yang tinggal di Gansu. Di sini, mereka lalu mendirikan kerajaan baru berbasis Buddha. Kerajaan ini dikenal dengan sebutan Kerajaan Uighur Ganzhou (甘州回鹘 Ganzhou Huihu). Bertahan dari 894 hingga 1036. Kini keturunan-keturunan mereka membentuk suatu suku yang dikenal dengan sebutan Yugur (裕固 Yugu). Mereka tetap menganut Buddha.

Sedangkan Uighur yang kabur ke barat, menuju ke Xinjiang. Di situ, khususnya di Xinjiang bagian timur laut, Uighur pada 843 mendirikan kerajaan Buddhis yang sangat besar dan terkenal. Namanya: Kerajaan Uighur Qocho (高昌回鹘 Gaochang Huihu). Pusatnya di sekitar Kota Turpan saat ini.

Kerajaan Buddhis Uighur Qocho beberapa kali diserang, meski tak kunjung terkalahkan, oleh kerajaan Uighur yang pada 840 berdiri di barat dayanya. Nama kerajaan yang memerangi mereka: Kekhanan Kara-Khanid. Inilah kerajaan Uighur yang sejak paruh pertama abad ke-10 menjadi mualaf dan lantas menginvasi kerajaan-kerajaan Buddhis yang ada di Xinjiang.

Walhasil, seiring berjalannya waktu, terutama ketika Xinjiang di bawah kepenguasaan bangsa Mongol yang mendirikan Moghulistan pada abad ke-14 hingga ke-17, Xinjiang dan mayoritas Uighur berhasil diislamkan.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

2 Comments

2 Comments

  1. Avatar

    Wibisono Hardjopranoto

    18 April 2021 at 9:02 am

    Agama harus membangun peradaban!

  2. Avatar

    Matias

    12 Mei 2021 at 1:42 pm

    Cerita menarik kerajaan di masa nomadik perubahannya tidak sperti mudah mualaf dengan keiingin pribadi. Ada 2 kerajaan Uigur barat dan timur. Apakah bahasa Uigur sekarang dari bahasaxakarnya di peradaban itu kah?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...