Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Ramadan

Jejak Khilafah di Xinjiang

Xinjiang, khususnya bagian selatan, pernah membaiat kepada Turki Ustmani dan menjadi bagian kekhalifahan sekitar 4 tahun lamanya

Koin emas Ya’qūb Beg yang dicetak atas nama Sultan Abdülaziz © Behrouz/pinterest.com

MUSLIM di China, baik Hui maupun Uighur, mulai gencar melakukan pemberontakan ketika China masih dikuasai dinasti Qing —wabil khusus sepanjang pemerintahan Kaisar Tongzhi (1856-1875). Penyebabnya: selain karena perlakuan diskriminatif dan restriktif penguasa Manchu tersebut, juga ada latar belakang sosio-politik-ekonomi dan sengitnya rivalitas sesama muslim tapi beda sekte saat itu.

Muslim suku Hui pengikut sekte Gedimu (格底目) yang berhaluan tradisionalis, misalnya, sikut-sikutan dengan pengikut sekte Yihewani (伊赫瓦尼) yang terinspirasi paham Wahabi. Sekte puritan Yihewani mengafir-kafirkan sekte Sufi lantaran dipandang mengamalkan Islam yang tak murni.

Sesama pengikut sekte Sufi juga saling singgung sebab tarekat yang diikuti tidak sama. Bahkan dalam satu tarekat pun tak jarang berbaku hantam gegara alirannya berbeda. Sekte Sufi pengikut tarekat Naqsyabandiyah aliran Jahriyah (哲合忍耶 Zheherenye) yang bacaan zikirnya nyaring dan getol mengkritisi pemerintah, contohnya, dihabisi oleh dinasti Qing lewat cara memperadudombakan mereka dengan pengikut tarekat Naqsyabandiyah aliran Khufiyah (虎夫耶 Hufuye) yang berzikir senyap dan lebih tunduk kepada penguasa.

Muslim Uighur di Xinjiang tak jauh berbeda kondisinya. Karena pengikut tarekat Naqsyabandiyah aliran Aktağlık/Afakiyye (白山派 baishan pai) kerap menggelar pemberontakan, dinasti Qing membenturkannya dengan pengikut tarekat Naqsyabandiyah aliran Karatağlık/İshakiyye (黑山派 heishan pai) yang bersikap kompromistis kepada pemerintah. Maka bergelutlah mereka.

Menariknya, jika sekarang yang kerap memberontak kepada pemerintah China adalah muslim Uighur, dulu justru muslim Hui –yang kini relatif kooperarif itu– yang sering dan lebih dulu menyulut perlawanan.

Muslim Hui yang rerata bermastautin di China barat laut semacam Shaanxi, Gansu, dan Qinghai, umpamanya, serempak mengobarkan pemberontakan terhadap dinasti Qing sepanjang 1862 hingga 1873. Sebelumnya, di bawah komando Sulaimān Du Wenxiu (杜文秀), muslim Hui di Yunnan, China selatan, memberontak dan bahkan pada 1856 berhasil mendirikan ’kesultanan’ di Dali, Yunnan barat, dengan Du sebagai sultan yang menjuluki dirinya ”qā’id jamī‘ al-muslimīn” (pemimpin seluruh muslim).

Muslim Uighur di Xinjiang ogah ketinggalan. Malahan, dengan memanfaatkan kevakuman kekuasaan (power vacuum) dan kekacauan yang ditimbulkan akibat berlarut-larutnya ’perang seikhwan’ antara pengikut tarekat Naqsyabandiyah aliran Aktağlık yang anti-pemerintah versus Karatağlık yang pro-pemerintah, panglima perang bernama Ya’qūb Beg dari Kekhanan Kokand (Qo‘qon Xonligi), Uzbekistan, beraji mumpung menginvasi Xinjiang selatan. Dan, pada 1865, dia juga sukses membentuk pemerintahan berbasiskan Islam bernama Yättishär döläti yang berpusat di Kashgar.

Ya’qūb Beg © britannica.com

Tentu, karena Ya’qūb Beg menjadi penguasa Xinjiang selatan lewat invasi dan pembantaian terhadap para habib (khoja) yang notabene pemimpin politik dan spiritual setempat, dia butuh pengakuan sekaligus bantuan dari negara luar untuk mengukuhkan legitimasinya.

Ya’qūb Beg mula-mula mendekati Rusia. Juga Inggris, lewat kemaharajaannya di India. Dua negara ini sengaja diprioritaskan karena secara geografis berdekatan atau bahkan berbatasan dengan Yättishär döläti bentukannya.

Dan lagi, dengan sama-sama merangkul dua imperialis yang saling bersitegang itu, keamanan Yättishär döläti sedikit banyak akan terjamin. Kalau Inggris memerangi Yättishär döläti, Rusia tidak akan tinggal diam karena boleh jadi itu akan dijadikan batu loncatan untuk menggempur Rusia yang memangkalkan militernya di Hami, Xinjiang utara agak ke timur. Sebaliknya, kalau Rusia yang menyerang Yättishär döläti, Inggris tidak akan berpangku tangan juga sebab tidak menutup kemungkinan Rusia akan terus merangsek ke India yang ada di barat dayanya.

Terlebih, Inggris akhirnya tidak hanya memberikan pengakuan resmi dengan mengirimkan duta besar ke Kashgar, tetapi juga membantu Ya’qūb Beg membangun kekuatan militer meski harus kucing-kucingan dengan Rusia.

Namun, tak ada makan siang gratis. Ya’qūb Beg pada 1872 dan 1874 tidak boleh tidak meneken perjanjian perdagangan bebas dengan Rusia dan Inggris, sebagai barternya.

Walakin, mendapat sokongan dari Inggris dan Rusia saja tentu belum cukup untuk memperkukuh rezim Ya’qūb Beg. Dukungan dari dunia Islam sangat diperlukan, mengingat penduduk negaranya mayoritas muslim dan sebagai bentuk ’pengakuan dosa’ kepada rakyatnya sebab dirinya telah membunuh habib-habib pemimpin mereka sebelum naik takhta.

Karena itu, setelah dibujuk kemenakannya yang mempunyai hubungan erat dengan Turki Ustmani, Ya’qūb Beg –yang awalnya tidak begitu tertarik– akhirnya mau menjadikan negaranya sebagai negara vasal Kekhalifahan Ustmaniyah.

Maka, pada Oktober 1872, Ya’qūb Beg mengutus kemenakannya yang seorang sayid itu ke Turki via India. Dia tiba di Istanbul pada Mei 1873 dan beraudiensi dengan Sultan Abdülaziz. Sultan menitipkan pedang untuk dihadiahkan kepada Ya’qūb Beg.

Ya, sejak pertengahan tahun 1873 inilah, Yättishär döläti resmi menjadi bagian dari Turki Ustmani. Ya’qūb Beg kemudian mulai memakai gelar ’amīr’ yang dianugerahkan sultan kepadanya. Uang pun dicetak atas nama sultan. Bendera kekhalifahan (sancak) dikibarkan di Xinjiang selatan.

Itu seremonialnya. Manfaat materialnya?

Ya’qūb Beg dikirimi banyak sekali bantuan ekonomi dan militer dari kekhalifahan secara cuma-cuma. Di masa-masa awal menjadi negara vasal kekhalifahan pada 1873 itu, Turki Ustmani langsung menghadiahkan 1.200 senapan dan 6 meriam.

Tak heran, dua tahun berselang, Ya’qūb Beg kembali mengutus kemenakannya ke Istanbul dan, pada Mei 1875, bertemu lagi dengan sultan.

Dalam surat yang dititipkannya untuk sultan, selain berterima kasih atas bantuan-bantuan persenjataan yang dikirimkan itu, Ya’qūb Beg menyatakan harapannya agar semua negara di Asia Tengah mengikuti jejaknya untuk bergabung dengan kekhalifahan (dār al-khilāfat) agar pesatuan Islam (ittifāk-i Islām) dapat diwujudkan.

Entah itu basa-basi semata atau bukan. Yang jelas, permintaan Ya’qūb Beg agar takhtanya bisa diwariskan ke anaknya, disetujui oleh sultan. Dan, sehabis itu, sultan lagi-lagi menghadiahkan 2.000 senapan dan 6 meriam, lengkap dengan beberapa tentara kekhalifahan yang ditugaskan untuk melatih angkatan bersenjata Yättishär döläti di Kashgar.

Informasi-informasi di atas saya sarikan dari bab 5 karya monumental Hodong Kim, Holy War in China: The Muslim Rebellion and State in Chinese Central Asia, 1864-1877. Kim merawikannya dari arsip-arsip Turki. Juga saya kompreskan dari dua arsip Inggris dan Turki yang diterjemahkan Xu Jianying dalam tulisannya yang dimuat jurnal China’s Borderland History and Geography Studies vol. 29 no.1, Maret 2019 silam.

Sayang, tatkala serdadu dinasti Qing tengah melakukan serangan balasan untuk mengambil kembali tanahnya yang dirampas Ya’qūb Beg itu, stabilitas politik kekhalifahan sedang tidak menentu. Sultan Abdülaziz yang sudah banyak membantu Ya’qūb Beg digantikan Murad V menjelang kematiannya pada 4 Juni 1876. Tiga bulan berkuasa, Murad V yang menderita gangguan jiwa didepak oleh Abdülhamit II.

Nahas, Ya’qūb Beg pada akhir Mei 1877 mendadak mati seiring kian mendekatnya prajurit-prajurit dinasti Qing di bawah komando Zuo Zongtang (左宗棠). Tambah sial, anak-anaknya rebutan jabatan. Quli Beg, putra tertua Ya’qūb Beg, sampai-sampai membunuh adiknya, Haqq Quli, demi memuluskan suksesi kekuasaan kepadanya. Lucunya, setelah menghabisi saudaranya, Quli Beg malah kabur ke Rusia.

Walhasil, Yättishär döläti kolaps dengan sendirinya dan kekhalifahan yang kala itu memang sudah diejek sebagai ’sick man of Europe’, tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya.


Selama Ramadan, Novi Basuki akan menulis tentang Islam di China, khususnya yang terkait dengan Xinjiang dan Uighur. Jika tak ada aral melintang, tulisan-tulisannya akan tayang tiap jam 4 sore untuk menemani ngabuburit pembaca.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Bai

    14 April 2021 at 8:17 pm

    Tidak bosan baca artikel aseng.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...