Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Panggilan Kekerabatan yang Mulai Terpinggirkan

© indoprogress.com

PANGGIL saja om dan tante. Lebih praktis.” Kata-kata seperti itu sudah seringkali saya dengar. Di zaman yang modern ini semuanya memang jadi serba menyesuaikan, termasuk panggilan kekerabatan. Padahal ini adalah salah satu ciri yang sangat khas dalam keluarga Tionghoa.

Panggilan kekerabatan (kinship) dapat menunjukkan keluarga atau saudara dari pihak ayah atau ibu. Bila diikuti, setiap orang memiliki sebutan tersendiri yang sesuai dengan urutan dalam keluarga besarnya. Ini juga dapat memperlihatkan dari suku atau etnis mana mereka berasal.

Panggilan kekerabatan orang Hokkian berbeda dengan orang Hakka (Khek), Kanton (Konghu), Tiochiu, atau suku-suku lainnya. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. ”Akong”, ”Ama”, adalah contoh panggilan terhadap kakek dan nenek dari pihak ayah dalam bahasa Hokkian. Orang Khek biasa menyebut mereka sebagai ”Kungkung” dan ”Pho Pho” (Apo).

Di kalangan Tionghoa peranakan di Indonesia, panggilan-panggilan seperti ini masih tetap dipertahankan oleh sebagian keluarga. Ada yang masih tetap sama seperti bahasa aslinya, ada juga yang sudah disesuaikan dengan bahasa Indonesia atau Belanda. Hal ini mungkin disebabkan oleh sejarah panjang di masa lalu di mana akhirnya terjadi persilangan budaya antara satu dengan lainnya. Ternyata penyesuaian bahasa itu, bila dilihat-lihat, menjadi ciri khas yang juga membedakan antara orang Tionghoa peranakan yang lahir di Jawa dengan China Benteng (Tangerang), misalnya.

Sebagai orang keturunan China Benteng dari suku Hokkian, saya sudah terbiasa mendengar sebutan seperti ”Ooh”, ”o thio”, ”encek”, ”encim”, ”sa pe”, ”si pe” (panggilan dari pihak keluarga ayah) atau ”a ie”, ”iie”, ”ie thio”, ”ji ie”, ”sa ie”, ”si ie”, ”ji ipoh” (dari pihak keluarga ibu). Ternyata beberapa teman saya yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mengombinasikan sebutan itu dengan bahasa Indonesia, misalnya ”mak de” (emak gede), ”wak” (istri paman), dan seterusnya.

Sebagian dari mereka malah menganggap panggilan yang menggunakan awalan /a/, seperti ”a ci”, ”a ie”, dan sebagainya adalah panggilan yang masih digunakan oleh orang-orang totok. Tionghoa peranakan, menurut mereka, tidak lagi menggunakan awalan ”a” tadi.

Menurut saya, ini unik. Mulanya saya mengira itu adalah hasil dari pernikahan campuran antara orang Tionghoa dengan masyarakat setempat, tetapi ternyata tidak. Hampir semua yang mendapat panggilan itu adalah orang-orang Tionghoa, meskipun ada juga yang memang karena kawin campur. Pada akhirnya, saya beranggapan ini hanya soal kebiasaan.

Dalam keluarga besar saya sendiri, panggilan menggunakan awalan /a/ seperti ”a ci”, sebutan untuk kakak perempuan, masih lazim digunakan, terutama di generasi atas. Dalam generasi saya, panggilan itu sudah jarang digunakan. Digantikan dengan kata yang lebih umum, misalnya ”cici” (bahasa Hokkian) atau ”jie jie 姐姐” (baca: cie cie).

Di generasi sekarang, panggilan-panggilan seperti itu juga sudah mulai tercampur. Rata-rata karena mereka menikah dengan suku di luar Hokkian atau malah non-Tionghoa sekalian. Sebutan untuk mereka akhirnya malah jadi campur-aduk. Contoh, ”iie” dan ”om”, ”engku” dan ”tante”, ”encek” dan ”tante”, ”oma” dan ”kungkung”, serta masih banyak lagi.

Tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, mau tidak mau, akulturasi pasti akan terjadi. Bukan hanya tentang panggilan kekerabatan, tetapi juga hal lainnya, seperti bahasa, makanan, kebudayaan, tradisi, dan masih banyak lagi. Bukan hanya orang Tionghoa yang menyesuaikan dengan budaya asli Indonesia atau bahkan budaya barat (terutama Belanda karena pernah ratusan tahun menjajah bumi Nusantara), tetapi juga sebaliknya. Semua itu yang akhirnya melebur dan menjadi suatu komunitas baru, yakni peranakan Tionghoa Indonesia yang budaya dan tradisinya tidak lagi sangat serupa dengan aslinya di Tiongkok sana.

Orang Tionghoa peranakan memiliki kebudayaan sendiri yang unik yang membedakannya dari orang-orang lain. Karena itu, menurut saya, keunikan ini patut untuk dipertahankan. Selain sebagai identitas diri, juga supaya budaya dan tradisi ini tidak hilang begitu saja tergerus oleh waktu.

Melestarikan semua ini harus dimulai dari keluarga. Panggilan kekerabatan semestinya dikenalkan dan dibiasakan kepada setiap generasi di bawah kita supaya mereka pun sudah terbiasa sejak dini dengan identitasnya sendiri.

Bagi saya, ini adalah sesuatu yang wajar. Tidak ada hubungannya dengan fanatisme suatu etnis tertentu, dalam hal ini Tionghoa. Bukan pula karena tidak cinta Indonesia. Menunjukkan cinta dan sikap bakti sebagai warga negara bukan berarti meleburkan identitas hingga hilang sama sekali.

Identitas mesti tetap ada dalam diri setiap manusia. Sama seperti nama yang sudah terstempel sejak lahir dan menjadi jati diri utama dari masing-masing kita. Bila sudah terbiasa menyandangnya sejak awal, praktis atau tidak, seharusnya bukan masalah lagi.

Karena itu, mulai sekarang saya sudah membiasakan para generasi di bawah saya untuk menyebut satu sama lain di dalam keluarga sesuai dengan panggilan kekerabatannya. Sebutan seperti ”om” dan ”tante” masih tetap ada, tapi hanya untuk beberapa orang tertentu. Ini hanya sebuah upaya kecil untuk melestarikan apa yang sudah ada sejak lama.

Panggilan kekerabatan yang bermacam-macam ini, menurut saya, juga merupakan keindahan tersendiri. Seperti pelangi yang cantik karena memiliki rupa-rupa warna. Begitu pun manusia. Unik karena berbeda-beda…

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Juga Harus Anda Baca

Esai

DI TENGAH arus sejarah keindonesiaan kita, Tionghoa menjadi ’imajinasi’ dan sekaligus ’cermin’ yang dipengaruhi oleh pasang surut situasi politik. Komunitas Tionghoa sebagai ’imajinasi’ karena...

Kongkow

TAK BANYAK orang tahu kisah penulis buku bertajuk ”Only A Girl” ini. Dan orang pasti tak menyangka kalau penulis yang sudah menetap di San...

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”