Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Nasionalisme Lian Gouw dan Caranya Mencintai Indonesia

Lian Gouw © jawapos.com

TAK BANYAK orang tahu kisah penulis buku bertajuk ”Only A Girl” ini. Dan orang pasti tak menyangka kalau penulis yang sudah menetap di San Mateo, California, setengah abad lebih itu adalah orang Tionghoa asal Indonesia. 

Novel ”Only A Girl” ditulis oleh Lian Gouw di Amerika pada tahun 2009. Setahun kemudian, Gramedia Pustaka Utama meluncurkan versi terjemahan bahasa Indonesianya dengan judul ”Menantang Phoenix”. Novel ini, pada 2020, diterjemahkan kembali oleh Widjati Hartiningtyas dengan judul ”Mengadang Pusaran” dan diterbitkan oleh Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Untuk menebus kesalahan masa lalunya, sudah beberapa tahun ini Lian Gouw, melalui Dalang Publishing miliknya, menerbitkan karya-karya sastra, sejarah, dan peradaban Indonesia. Ini juga cara yang dijalankan Lian Gouw sebagai buktinya mencintai Indonesia, tanah kelahirannya. Memperkenalkan sastra Indonesia agar mendunia, merupakan jalan sunyi seorang perempuan sepuh berusia 85 tahun itu.

Setelah menetap 55 tahun di California, Lian Gouw –yang dulu pernah tinggal di Bandung– baru menginjakkan kakinya kembali ke Indonesia pada tahun 2010 ketika peluncuran novelnya oleh Gramedia tersebut.

Terbitnya novel ”Menantang Phoenix” itu dirasakan Lian Gouw sebagai sebuah panggilan ke pangkuan ibu pertiwi. Ini merupakan titik balik kehidupannya. Terbitnya ”Only A Girl” di Amerika memang adalah sebuah kebanggaan. Namun, mendapat kepercayaan penerbitan dan kepercayaan dari kaum pembaca di Indonesia, merupakan suatu anugerah yang membuatnya merasa lebih bangga lagi.

Setelah kembali ke Amerika, Lian Gouw ternyata punya keprihatinan yang besar pada bahasa Indonesia. Musababnya: penyerapan bahasa asing yang sangat besar ke dalam bahasa Indonesia. Keterpanggilan jiwa dan kepedulian serta rasa tanggung jawab sebagai seorang penulis terhadap budaya tanah air, memberanikan dirinya untuk mendirikan Dalang Publishing.

Gayung bersambut, harapannya menemukan titik terang ketika Lian Gouw bertemu dengan Gemah Rahardjo yang selain sangat mencintai bangsa, juga penggemar sastra Indonesia. Gemah sendiri sewaktu di Jakarta bekerja sebagai wartawan lepas serta memiliki banyak pengalaman dalam dunia musik dan para senimannya.

Seperti pernah dikisahkannya kepada VOA (Voice Of Amerika), Lian Gouw baru mempelajari bahasa Indonesia pada awal tahun 2011. Sewaktu pulang pada tahun  2010, satu kata bahasa Indonesia pun Lian Gouw tidak mampu.

Lian Gouw memaparkan, novel besutannya yang mengisahkan perjuangan tiga generasi perempuan Tionghoa Indonesia dalam mencari jati dirinya itu berlatar belakang sejarah Indonesia dari tahun 1930 hingga 1952: kisah di era depresi, perang dunia kedua, hingga pemberontakan kemerdekaan terhadap penjajahan Belanda berbaur dengan konflik budaya.

Menebus Kesalahan

Lian Gouw mengaku menyesal selama tinggal di Indonesia dan hidup di bawah penjajahan Belanda, tidak pernah belajar kebudayaan dan sejarah Indonesia, tanah airnya, dengan benar. Ia  bahkan merasa dibungkam karena semasa Presiden Soekarno hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia. Buku-buku Belanda semua dibakar dan disita. ”Tetapi sekarang saya baru mengerti dan ketika pulang ke Indonesia saya pun  pergi ke makam Bung Karno dan saya minta maaf,” ujar Lian.

Untuk menebus penyesalannya dan sebagai bukti kecintaannya pada Indonesia dan dunia menulis, Lian Gouw mendirikan penerbitan Dalang Publishing yang telah menerjemahkan sejumlah novel Indonesia ke dalam bahasa Inggris. ”Saya hanya menerbitkan tulisan sejarah dan kebudayaan. Kalau tidak ada kaitannya dengan sejarah dan kebudayaan, saya tidak akan menerbitkannya,” tegas Lian.

Jembatan Sastra Indonesia ke Panggung Dunia

Lian Gouw mengatakan, Dalang Publishing akan terus berusaha menjadi penerbit yang membantu dan menjembatani para penulis Indonesia dalam menerbitkan karyanya di Amerika dengan berlandaskan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, bahasa, sastra, dan karya-karya penulis Indonesia. Ia juga menekankan, Dalang Publishing akan menjadi sebuah wadah kegiatan dan usaha yang tidak berpihak dalam kaitan politik maupun agama, dan tidak membedakan suku dalam kegiatan pelayanannya.

Lian berharap, para penulis, pengajar serta pemerhati dunia sastra akan mendukung usahanya dengan ikut serta secara nyata menggunakan Dalang Publishing sebagai jembatan untuk membawa karya tulisnya ke panggung dunia.

Ketua Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong, Semarang, Harjanto Halim, mengatakan, rasa nasionalisme bisa diwujudkan dengan cara apa saja. Di usia senjanya, Lian Gouw menapaki jalan sunyi di Amerika, berbuat nyata lewat Dalang Publishing yang digawanginya, bertekad menggaungkan sastra Indonesia di panggung dunia. Ini perlu disokong.

Harjanto Halim yang juga merupakan CEO Marifood ini tak sekadar ngomong dan mengajak. Ia sudah ikut mengongkosi terbitnya dua buah buku berjudul ”Clove for Kolosia” karya Hanna Rambe, dan ”Potion and Paper Cranes” karya Lan Fang, yang dua-duanya dirilis Dalang Publishing.

Hayo, siapa mau ikut melangitkan sastra Indonesia?

1 Comment

1 Comment

  1. Mya Ye

    Mya Ye

    13 September 2021 at 8:40 am

    Novel favorit Saya…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

”PANGGIL saja om dan tante. Lebih praktis.” Kata-kata seperti itu sudah seringkali saya dengar. Di zaman yang modern ini semuanya memang jadi serba menyesuaikan,...

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

PADA 10 April 2021 lalu, saya diminta berbicara mengenai ”hubungan antaretnis” untuk mengisi acara diskusi daring #CasCisCus yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies,...