Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Kong, makan… Mak, makan…

© thepaper.cn

KETIKA menonton film ”The Little Nyonya” versi pertama, saya jadi teringat dengan engkong saya. Sewaktu saya kecil, beliau banyak sekali mengajari saya tata krama yang hampir mirip dengan yang ada di film tersebut. Salah satunya adalah tata krama saat mau makan.

”Sebelum makan, biasakan tawari semua satu-persatu. Mulai dari yang paling tua.” Itu yang dikatakan engkong saya dulu dan itu wajib hukumnya untuk dilakukan oleh anak, menantu, cucu-cucunya.

Maksudnya, itu hanya berlaku ketika kita ada di dalam rumah atau di meja makan. Kalau sedang berada di sebuah pesta besar, tentu saja tidak perlu melakukannya. Cukup menawari orang yang dikenal dan sedang berada bersama kita.

Sebuah nasihat yang sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam. Ajaran tentang kesopanan dan menghargai orang lain, terutama orang yang lebih tua. Ajaran yang ternyata masih melekat dalam diri saya hingga hari ini. Sapaan secara personal ini juga tentunya lebih menyentuh ke hati orang itu dibanding bila kita menawarinya secara sepintas dan ditujukan untuk semua orang sekaligus. Mereka juga pasti akan membalasnya dengan senang hati.

Sebenarnya, yang diajarkan engkong saya bukan hanya itu. Masih banyak lagi. Seperti orang tua harus lebih dulu mengambil makanan dan memulai makan, memegang sumpit dengan benar, tidak boleh ditancapkan di atas nasi karena dianggap mendoakan orang tua meninggal, dan sebagainya.

Tidak hanya sebatas tata krama di meja makan, engkong saya juga mengajarkan sopan santun untuk hal-hal lainnya. Bila bertamu dan bertemu dengan orang yang lebih tua wajib menyapa mereka dengan, misalnya, ”Kong, baik? Mak, baik?”. Dulu, malah diwajibkan ”pai” (拜) atau bersoja. Semua yang diajarkan beliau tidak jauh-jauh dari sikap hormat terhadap orang yang lebih tua.

Mulanya saya kira ”peraturan-peraturan” itu hanya bikinan engkong saya. Terlalu berlebihan, merepotkan, dan terlalu kuno, begitu pikir saya saat itu. Apalagi ketika beberapa teman saya yang datang dari keluarga Tionghoa yang sudah modern dengan orang tua yang juga sudah berpendidikan ala barat, tidak lagi melakukannya. Bila menyapa, mereka cukup mengatakan ”halo”, ”selamat pagi”, ”selamat siang”, dan seterusnya.

Begitu juga sewaktu mau makan. Tidak ada lagi aturan kalau yang tua harus makan lebih dulu atau menawari satu-persatu. Cukup hanya dengan, ”Mari makan semuanya.” Singkat dan praktis.

Baru belakangan saya menyadari, apa yang diajarkan engkong saya ternyata merupakan bagian dari etiket kehidupan orang Tionghoa. Etiket yang diajarkan secara turun-temurun dan biasanya berpatokan pada falsafah Konfusius. ”Wu Lun 五伦” atau lima norma kesopanan dalam kehidupan bermasyarakat, yakni hubungan ayah dan anak, suami dan istri, saudara yang lebih muda dan yang lebih tua, teman yang lebih muda dan yang lebih tua, serta pemimpin dan bawahannya. Hubungan itu secara bersama-sama membentuk suatu dasar interaksi manusia yang diwujudkan dalam lima sifat mulia, yaitu cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, bijaksana, dan layak dipercaya.

Dalam hal ini, Konfusius menekan bahwa setiap orang memiliki fungsinya masing-masing. Raja berfungsi sebagai raja. Ayah berfungsi sebagai ayah. Anak berfungsi sebagai anak. Bila semua menyadari fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing maka akan terbentuk keharmonisan dalam masyarakat.

Bila digambarkan, semua itu menunjukkan sifat ”yin” dan ”yang”. Seorang ayah bersifat ”yang” dalam hubungan dengan istri dan anaknya, tetapi bersifat ”yin” dalam hubungan dengan orang tua atau saudaranya yang lebih tua.

Saya mempelajari, dalam hubungan antara orang tua dan anak, Konfusius menegaskan bahwa seorang anak harus berbakti kepada orang tua dengan cara melayani mereka dengan sopan santun dan budi pekerti yang luhur, baik saat mereka masih hidup maupun sudah meninggal. ”Apabila orang tua masih hidup, layanilah mereka dengan sopan santun atau budi pekerti. Pada saat mereka meninggal, makamkanlah dengan sopan santun atau budi pekerti dan sembahyangilah dengan sopan santun atau budi pekerti” (Lun Yu II/5).

Jadi, pada akhirnya saya mengerti mengapa ajaran engkong saya tidak jauh-jauh dari itu semua. Bila direnungkan, sebenarnya ajaran itu masih sangat relevan dengan zaman sekarang. Setiap manusia harus memiliki sikap sopan santun. Bukan hanya terhadap orang tua sendiri, tetapi juga terhadap orang lain.

Semuanya itu harus dimulai dari diri sendiri. Jika saya ingin meneruskan ajaran ini kepada generasi di bawah saya, berarti saya yang harus memulainya terlebih dulu. Menjalankan norma kesopanan dengan sepenuh hati. Bukan karena ingin mengajarkan pada siapa-siapa, tetapi lebih karena saya pun ingin diperlakukan demikian oleh orang lain. Bagaimanapun, hukum karma atau tabur tuai selalu berlaku. Jadi, sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Mengajarkan sesuatu yang berhubungan dengan tata karma ternyata tidak mudah. Ini baru saya rasakan setelah saya menjadi dewasa. Setelah tiba giliran saya untuk melanjutkan ajaran ini kepada generasi di bawah saya yang jauh lebih kritis dan tidak mau langsung menuruti begitu saja apa yang dinasehatkan oleh orang yang lebih tua. Mereka butuh diyakinkan bahwa semua ajaran itu benar adanya dan tidak mengada-ada.

Jadi, ketika tiba waktunya makan yang bisa saya lakukan adalah mengambil piring. Mengambil lauk-pauk. Lalu memandang para tetua dan mulai menawari mereka satu-persatu.

”Kong, makan… Mak, makan…”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

DALAM masyarakat Tionghoa, bila ada anggota keluarga yang meninggal, biasanya akan ada perundingan apakah jenazah akan dikuburkan atau dikremasi. Bila yang terakhir yang diambil,...

Kongkow

”SEMBAHYANG REBUTAN itu apa? Samakah dengan Ceng Beng?” Itu pertanyaan seorang teman kepada saya. Bukan satu-satunya pertanyaan –karena ada beberapa orang lagi yang menanyakan...

Esai

DIAKUI atau tidak, suka atau tidak suka, hubungan antara etnis Tionghoa Indonesia dengan etnis mayoritas masih sering mengalami pasang surut. Meskipun sebenarnya generasi muda...

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...