Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Bongpai: Antara Bakti dan Kesetiaan

© kompas.com

DALAM masyarakat Tionghoa, bila ada anggota keluarga yang meninggal, biasanya akan ada perundingan apakah jenazah akan dikuburkan atau dikremasi. Bila yang terakhir yang diambil, segalanya akan lebih praktis dibanding bila memilih yang pertama. Karena, bila dikubur, urusan tetek bengek akan terus memanjang: mulai dari lokasi pemakaman sampai urusan bongpai.

Bongpai (bahasa Hokkian untuk apa yang dalam bahasa Mandarin disebut mu bei 墓碑), adalah papan/batu nisan pada kuburan tradisional Tionghoa. Biasanya terbuat dari batu, marmer, atau bebatuan sejenis lainnya.

Seperti nisan-nisan pada umumnya, di sana akan diukirkan informasi tentang orang yang dikuburkan di bawahnya. Nama, tanggal dan tahun kelahiran, sampai informasi tentang keluarga atau keturunannya. Sebagian keluarga masih mengukirkannya menggunakan huruf Mandarin (hanzi 汉字). Sebagian lagi, biasanya karena sudah tidak mengerti bahasa leluhurnya, memilih memakai bahasa Indonesia.

Bila menggunakan hanzi, cara membacanya adalah dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah. Pada baris kanan, tertera informasi tentang kapan bongpai dibuat atau diperbaiki. Biasanya ditulis dalam tahun kekaisaran, tahun shio, musim, atau bulan. Bagian tengah tertulis nama dan status orang yang meninggal tersebut. Pada kuburan yang berisi sepasang suami-istri, nama tersebut digabung. Di mata bongpai, di baris horizontal, yang hanya terdiri dari dua karakter biasanya tertulis tempat asal almarhum atau peristiwa besar tentang marga atau keluarga mendiang. Di baris kiri tertulis informasi tentang siapa yang membuat bongpai tersebut.

Pada bongpai yang sudah menggunakan bahasa Indonesia, tentu saja jauh lebih praktis dan mudah dipahami oleh keturunannya yang mungkin sudah tidak mengerti bahasa leluhur mereka. Biasanya di sana tertera informasi, seperti nama, tanggal dan tahun lahir (dalam penanggalan masehi), dan nama para anggota keluarga, seperti orang tua, kakak, adik, anak, menantu, dan cucu. Di belakang nama anggota keluarga yang sudah lebih dulu meninggal dunia diberi tanda seperti salib.

* * *

Almarhum engkong (sebutan untuk kakek yang berasal dari dialek Hokkian) saya, semasa hidupnya pernah berpesan untuk membuatkan sebuah bongpai siang kong (相孔) supaya kelak, ia dan emak (panggilan untuk nenek yang berasal dari dialek Hokkian) dapat tetap bersatu di alam sana. Ini maksudnya adalah bongpai yang terdiri dari dua lubang dalam satu gundukan tanah. Kelak, posisi peti di bagian kaki kedua jenazah akan dimiringkan sehingga saling bertemu.

Siang kong menandakan kesetiaan pada pasangan. Jadi nanti engkong sama emak bisa tetap sama-sama di akhirat,” jelas engkong saya, dulu.

Bongpai, bagi masyarakat Tionghoa, bukan hanya sekadar penanda lokasi kuburan. Bukan pula hanya untuk menunjukkan bakti anak pada orang tua yang sudah meninggal, tetapi juga merepresentasikan kedudukan dan status sosial keluarga almarhum. Semakin besar dan megah suatu bongpai, maka dapat disimpulkan kalau ia adalah orang berada.

”Membangun bongpai itu ibarat membangun rumah kediaman yang baru di atas sana. Jadi mesti dibuat dengan baik,” kata engkong saya lagi.

* * *

Dalam membangun kuburan, orang Tionghoa biasanya memperhitungkan fengshui. Contoh, lokasi kuburan mesti berada di atas dataran tinggi atau perbukitan. Lebih baik lagi bila menghadap ke arah air, seperti sungai, danau, atau laut. Air memisahkan pekuburan dengan hunian manusia sehingga tidak saling mengganggu. Makam yang letaknya di atas bukit, selain menyimbolkan bahwa leluhur memperhatikan kehidupan para keturunannya, juga bertujuan untuk mendatangkan keberuntungan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ketika engkong saya meninggal dunia, seorang kerabat yang kebetulan arsitek bongpai sekaligus ahli fengshui menyarankan agar kuburan dibuat agak menyerong ke kanan. Entah apa maksudnya karena saya tidak sempat bertanya.

Yang saya tahu, bongpai itu baru jadi pada hari keseratus setelah ia berpulang kepada Penciptanya. Pagi-pagi buta atau sekitar jam tiga pagi, kami, istri, anak, menantu, dan para cucunya, berangkat ke kuburan. Kata para tetua, kami sudah mesti selesai bersembahyang sebelum matahari terbit. Waktu bersembahyang seperti ini juga memiliki makna laku bakti seorang anak terhadap orang tua. Di sini kita diingatkan akan pengorbanan orang tua, teristimewa ibu, yang rela menyusui anaknya, bahkan pada pukul dua atau tiga pagi. Orang tua yang dengan tulus mengurus anaknya dari bayi hingga dewasa.

Dalam gelap, saya melihat bongpai baru itu tertutup oleh kertas merah. Kami lantas menyusun lilin-lilin yang juga berwarna merah di sekeliling tembok pembatas kuburan. Ketika sudah tiba waktunya, kertas merah yang menutupi tulisan di dalam bongpai, dibuka. Api yang berpendar-pendar menimbulkan kesan syahdu di tengah keheningan alam pekuburan. Makanan dan minuman sesajian disediakan di atas altar.

Emak saya membakar hio di altar dewa bumi. Lalu kami mulai bersembahyang. Uang-uang kertas dibakar di tempat pembakaran yang terletak di sisi kiri kuburan. Uang itu sudah digulung-gulung menjadi seperti perahu atau mata uang China kuno. Tidak lama setelah selesai sembahyang, matahari terbit di ufuk timur.

”Acara pembukaan rumah baru sudah selesai,” kata Emak saya.

Kami pun bersiap-siap pulang dan melanjutkan kehidupan.

2 Comments

2 Comments

  1. Avatar

    Dendry Andriyadi

    31 Agustus 2021 at 12:11 pm

    Tulisannya selalu baik…Mengingatkan ke alm engkong emak…semoga mereka damai di Surga

  2. Mya Ye

    Mya Ye

    4 September 2021 at 11:08 am

    Amin… Xie xie

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

KETIKA menonton film ”The Little Nyonya” versi pertama, saya jadi teringat dengan engkong saya. Sewaktu saya kecil, beliau banyak sekali mengajari saya tata krama...

Kongkow

”SEMBAHYANG REBUTAN itu apa? Samakah dengan Ceng Beng?” Itu pertanyaan seorang teman kepada saya. Bukan satu-satunya pertanyaan –karena ada beberapa orang lagi yang menanyakan...

Esai

DIAKUI atau tidak, suka atau tidak suka, hubungan antara etnis Tionghoa Indonesia dengan etnis mayoritas masih sering mengalami pasang surut. Meskipun sebenarnya generasi muda...

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...