Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Antara China dan Taliban Generasi TikTok

© fmprc.gov.cn

KALAU juga mengikuti siaran langsung konferensi pers Jubir Taliban Zabiullah Mujahid, Donald Trump pasti sambil mencak-mencak dengan sesekali nyemil Caviar dan menghisap cerutu Kuba-nya –tentu tidak lupa juga menggunakan pet golf– di resornya di Mar-a-Lago. Akan semakin benci Trump terhadap Taliban karena dia tentu juga tahu bahwa kelompok Taliban milenial ini tidak akan bisa bergerak sendiri –tentu ada bantuan-bantuan asing dan aseng seperti yang telah juga dijabarkan oleh Al-Mukarrom Pemred Aseng.id dalam tulisannya.

Trump merupakan bentuk individu yang paling sempurna dari semua interpretasi supremasi kulit putih dan politik luar negeri Amerika Serikat (AS) yang mementingkan adu jotos. Walaupun Osama bin Laden diburu ketika zamannya Obama, namun andai saja tidak ada pandemi COVID-19, maka bisa jadi ’War on Terror’-nya Trump ketika ia berkuasa kemarin akan semakin menggila. Dan tentu, orang seperti Trump tidak akan mau menarik pasukan AS seperti yang telah diputuskan oleh Biden beberapa waktu lalu.

Trump dan kawan-kawan supremator kulit putih di AS tentu akan semakin geram lantaran imaji dan propaganda versi mereka mengenai Taliban tidak tampak ketika Zabiullah Mujahid dan dua kompatriot lainnya duduk dengan santuy di depan stage untuk menyampaikan konferensi paling bersejarahnya. Tidak ada beceng-beceng yang ditampakkan, muka-muka tidak ditutup (walaupun masih pandemi, harus tetap mematuhi prokes), tidak ada ekspresi sengit, dan bahkan dari gestur Zabiullah sebagai juru bicara Taliban, seakan dia sudah melakukan gladi kotor berulang kali sehingga mendapatkan posisi yang terlihat sangat enjoy.

Entah kita yang terlalu banyak menonton film Hollywood, termakan informasi-informasi kreasi Barat atau seperti apa, tapi dari sesi konferensi pers pada 18 Agustus 2021 itu, mungkin banyak pihak yang terkesan akan kewibawaan dari sebuah penyampaian-penyampaian yang amat ditunggu oleh berbagai macam kalangan.

Saya memang belum pernah ke Afghanistan. Paling dekat adalah pengalaman berkunjung ke New Delhi –itu pun sudah sepuluh tahun yang lalu. Namun, membahas Afghanistan, saya sangat terngiang ketika waktu SD dulu bapak saya sewaktu pulang dari studi Ilmu Politik Internasional di Pakistan, membawakan begitu banyak peci-peci Afghan yang khas. Karena beliau juga sempat jualan peci-peci tersebut yang pada masa itu sedang tren di kalangan aktivis dakwah –sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.

* * *

Dengan adanya konferensi pers yang juga sangat unprecedented (tidak pernah terbayangkan untuk terjadi) itu, Taliban generasi milenial saat ini terlihat sangat moderat. Dengan tidak mematikan jaringan internet, tidak mematikan listrik, tidak ada pertunjukan tembak-tembakan atau pertumpahan darah di jalan-jalan, agaknya tidak seperti Taliban yang selama ini mungkin kita bayangkan.

Juga, kalau diamati, banyak poin menarik yang disampaikan oleh Zabiullah.

Pertama, dengan diawali pembacaan ayat-ayat Al-Qurʾan mengenai kemenangan dan pesan-pesan agar tidak bercerai-berai, Zabiullah menyampaikan bahwa Taliban dengan pemimpin yang secara de facto juga merupakan presiden Afghan, Abdul Ghani Baradar, akan melakukan transisi kekuasaan yang mulus.

Kedua, media-media akan dilindungi kebebasannya, termasuk media milik swasta. Konferensi pers seperti yang telah dilaksanakan juga akan digelar selanjutnya di masa-masa yang akan datang.

Ketiga, Taliban akan melindungi hak-hak perempuan, bekerja sama dengan perempuan, dengan koridor syariah dan sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat Afghanistan itu sendiri.

Keempat, menjamin keselamatan dan keamanan para representasi negara-negara asing. Tidak akan mengijinkan kekuatan asing menggunakan Afghan sebagai tempat untuk membahayakan pihak lain.

Kelima, memanggil kembali para pemuda Afghan di luar –terutama yang memiliki talenta– untuk kembali ke Afghan.

Keenam, tidak akan ada orang yang mengetuk rumah untuk menginterogasi, menghukum, dan lainnya dengan menggunakan kekuatan. Katanya, justru pemerintah Afghan terakhir yang memiliki perencanaan untuk terus melancarkan serangan-serangan kepada Taliban –sehingga membawa ketidakstabilan.

Ketujuh, akan membentuk pemerintahan yang baik, akan membangun ekonomi, rakyat bisa bekerja, membangun infrastruktur, dan akan bekerja sama dengan negara lain untuk membangun Afghan.

Dengan siapa? Ya siapa lagi yang hari gini yang punya duit bejibun untuk membangun infrastruktur kalau bukan China? China sendiri juga membutuhkan Afghanistan karena sudah lama mengincar cadangan mineral logam jarang-nya. China sangat membutuhkan produk-produk olahan logam jarang untuk industri gadget dan antariksa mereka.

Apalagi, China sedang menggalakkan pembangunan One Belt One Road (OBOR) –yang mana Afghanistan sendiri berada di sebelah Timur Laut berbatasan langsung dengan Provinsi Xinjiang. Kalau saja perbatasan tersebut dapat dioptimalkan untuk pembangunan infrastruktur yang mendukung OBOR, maka China akan kelimpahan potensi jalur distribusi logistik mengarah ke Laut Merah dengan tentu bekerja sama juga dengan Iran nantinya. Ongkos logistik akan sangat terpangkas ketimbang harus memutar jauh sampai ke Selat Malaka sebelum sampai ke Pelabuhan Guangzhou atau Shanghai untuk aktivitas perdagangan internasional mereka.

* * *

Melihat betapa revolusionernya pendekatan Taliban generasi milenial ini, saya jadi kepikiran: jangan-jangan nanti semua media sosial mainstream akan juga digunakan oleh pemerintahan Taliban di Afghanistan sebagai kanal pemberitaannya, termasuk dalam hal ini TikTok yang made in China itu.

Imaji Taliban yang lucu dan tidak menyeramkan paling tidak sudah tampak ketika beberapa waktu lalu ada pemberitaan para milisi Taliban sedang bermain bombomcar. Saya yakin mereka akan makin menggemaskan kalau masih ditambah joget-joget TikTok.

Eh, atau malah jadi menyeramkan? Sudahlah Taliban, berkawan dengan China, main TikTok ploduk China pula.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Esai

BILA sungai-sungai di Asia dimisalkan sebagai pipa air, maka Tibet adalah menara airnya. Dataran tinggi Tibet merupakan induk dari sungai-sungai besar di Asia seperti...

Esai

SESUATU yang mengejutkan saya –yang sejak 2019 menjadi mahasiswa baru Tianjin University– adalah banyaknya mahasiswa asal benua Afrika. Tak jarang kami bertemu di dapur...

Esai

TULISAN ini akan saya awali dengan pertanyaan ”mengapa China mau repot-repot membela Palestina?” Namun kalau antum, para pembaca, mengharapkan saya menulis tulisan yang lebih...