Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Sembahyang Rebutan

© gq.com.tw

”SEMBAHYANG REBUTAN itu apa? Samakah dengan Ceng Beng?” Itu pertanyaan seorang teman kepada saya. Bukan satu-satunya pertanyaan –karena ada beberapa orang lagi yang menanyakan soal serupa, dan kemudian mereka mengakui, biarpun berdarah Tionghoa, mereka sudah tidak tahu apa-apa tentang tradisi dan budaya leluhurnya karena orang tua mereka sendiri pun sudah tidak pernah menjalaninya lagi.

Pengakuan itu membuat saya tercenung. Ternyata banyak juga orang yang sudah tidak mengenal lagi kebudayaan leluhur mereka sendiri. Kalau begitu, di luar sana mungkin lebih banyak lagi orang yang sama seperti itu. Biarpun begitu, saya tidak bisa menyalahkan atau menghakimi. Setiap orang memang berbeda-beda. Bisa jadi sejarah masa lalu yang memasung kebebasan berekspresi orang Tionghoa di negeri ini menjadi penyebabnya.

Saya pribadi merasa sayang jika kebudayaan leluhur ini tidak dikenali lagi oleh anak-cucunya. Bagaimanapun, ini adalah akar kehidupan yang menjadikan mereka ada. Membuat mereka mengetahui dari mana mereka berasal. Siapa leluhur mereka. Bagaimana cara hidup mereka dulu. Mengapa mereka mau bersusah payah menjalani tradisi kuno yang jauh dari kata praktis.

Seperti upacara ”sembahyang rebutan” yang jatuh pada bulan tujuh tanggal lima belas setiap tahunnya menurut penanggalan Imlek. Orang Hokkian menyebutnya, ”cio ko”. Rebutan oleh para arwah gentayangan. Dalam bahasa Mandarin, upacara ini disebut ”鬼節 Gui Jie” (baca: kwie cie), yang artinya Festival Bulan Hantu. Sebutan lainnya adalah ”Tiong Goan” atau ”中元 Zhong Yuan” (baca: chong yuan). Festival Hantu Lapar.

Menurut kepercayaan, pada bulan ini pintu-pintu neraka dibuka. Arwah-arwah diizinkan turun ke bumi untuk menjenguk anak dan cucu mereka. Kita yang masih hidup menyembahyangi dan menyuguhkan sesajian di atas meja abu bagi para arwah itu.

Dulu, di dalam keluarga saya sendiri, ini disebut juga sebagai ”sembahyang besar”. Maka selain makanan dan minuman kesukaan para leluhur semasa hidupnya, ”sam seng” (三牲 san sheng) atau tiga macam masakan –yang terdiri dari daging ayam, ikan, dan babi– juga mesti ada di atas meja abu.

Selain itu, hio atau dupa, lilin, dan setumpuk uang-uangan kertas juga turut disediakan. Ada juga yang menambahkan barang-barang duniawi lainnya, seperti pakaian yang juga terbuat dari kertas. Semua siap dibakar sebagai simbol supaya mereka di atas sana tidak berkekurangan.

* * *

Zaman sekarang, upacara sembahyang sudah tidak seribet dulu. Banyak yang sudah tidak mempunyai altar sembahyang dan mereka juga menyederhanakan cara-caranya, termasuk penyajian makanan dan minuman.

Tidak menyajikan ”sam seng”, tetapi cukup nasi dan beberapa makanan favorit leluhur dulu ditambah dengan buah atau kue secukupnya. Ada pula yang menambahkan rokok karena almarhum seorang perokok. Begitu juga dengan papan arwah yang bertuliskan nama orang yang sudah meninggal dunia. Banyak yang sudah tidak memilikinya lagi dan menggantinya dengan foto.

Di masa pandemi ini, upacara sembahyang seperti itu mungkin lebih disederhanakan lagi. Yang biasanya pergi bersembahyang di kuburan (bongpai) leluhur bersama seluruh keluarga besar, kali ini cukup di rumah saja. Lebih aman. Yang penting niat baiknya untuk menunjukkan bakti bagi orang yang sudah meninggal dunia dapat tersampaikan.

Di antara arwah-arwah itu, tidak sedikit yang tidak mempunyai keluarga yang dapat menyembahyangi mereka. Karena itu mereka pergi ke kelenteng-kelenteng dan mencari makan di sana bersama arwah-arwah lainnya. Di antara mereka, banyak pula arwah yang mendapatkan karma buruk akibat perbuatan mereka semasa hidupnya. Mereka kemudian menjadi hantu gentayangan (hantu lapar) yang dipercaya dapat mencelakai manusia.

Bulan ini juga dipenuhi oleh pantangan-pantangan yang dikatakan oleh para orang tua zaman dulu. Beberapa di antaranya, seperti menghindari kegiatan berenang atau berada sendirian di malam hari supaya tidak dikejar atau ditakut-takuti oleh para hantu. Melaksanakan upacara pernikahan di bulan ini juga termasuk kegiatan yang dihindari.

Mitos atau bukan, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kalau bagi saya, selama tujuannya untuk kebaikan dan tidak melanggar apa pun, tidak apa-apa dijalani. Kalau tidak mempercayainya, minimal tidak berkomentar sesuatu yang menyinggung dan menghormati mereka yang masih percaya.

* * *

Selain untuk menunjukkan penghormatan kepada para leluhur yang sudah mendahului, acara ”sembahyang rebutan” sebetulnya juga mengingatkan saya pada suatu batas akhir dari perjalanan di dunia ini. Semuanya hanya bersifat sementara. Hanya soal waktu sampai kita menjadi sama seperti mereka. Pada saat itu, apakah masih ada yang ingat untuk menyembahyangi kita atau tidak, mungkin bisa dilihat dari bagaimana sikap kita sendiri sewaktu masih hidup terhadap mereka yang sudah meninggal.

Kamu akan menerima apa yang telah kamu perbuat.

Dalam hal ini, saya juga ingin keturunan saya kelak mengingat dan menyembahyangi saya setelah saya meninggal dunia. Apa pun agama atau kepercayaan mereka.

”Sembahyang rebutan” adalah juga sebuah pengingat…

Jadi, ”Ya, ini beda dengan Ceng Beng yang sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Namun maknanya hampir serupa: untuk menghormati leluhur dan mempertahankan tradisi,” jawab saya menutup percakapan.

2 Comments

2 Comments

  1. Avatar

    Ang Tek Khun

    20 Agustus 2021 at 1:09 am

    Wow.. baru tahu yang beginian. Jadi bacaan menarik nih.

    Xie 🙏 xie

    • Mya Ye

      Mya Ye

      20 Agustus 2021 at 1:28 pm

      Xie xie juga nih komennya, ko…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

KETIKA menonton film ”The Little Nyonya” versi pertama, saya jadi teringat dengan engkong saya. Sewaktu saya kecil, beliau banyak sekali mengajari saya tata krama...

Kongkow

DALAM masyarakat Tionghoa, bila ada anggota keluarga yang meninggal, biasanya akan ada perundingan apakah jenazah akan dikuburkan atau dikremasi. Bila yang terakhir yang diambil,...

Esai

DIAKUI atau tidak, suka atau tidak suka, hubungan antara etnis Tionghoa Indonesia dengan etnis mayoritas masih sering mengalami pasang surut. Meskipun sebenarnya generasi muda...

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...