Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Cengbeng

Kematian adalah saripati kehidupan

© wenming.cn

KAMI, saya, Istri, si Bungsu, ikut mertua ke bong (makam) untuk sembahyang Cengbeng (清明). Cengbeng adalah tradisi tilik kubur ala Tionghoa. Tradisi ini, entah mengapa, selalu jatuh pada tanggal 5 April. Padahal jika memakai penanggalan Imlek, tanggal Masehinya harusnya bergeser.

Kata Cengbeng sendiri berasal dari dialek Hokkien, merupakan salah satu istilah dalam astronomi Tiongkok yang mengacu pada salah satu dari 24 posisi matahari (二十四节气 ershisi jieqi) yang jatuh setiap tanggal 4-5 April. Pada hari ini cahaya matahari dipercaya akan bersinar paling terang, sehingga cuaca menjadi terasa lebih hangat.

Kalender Tionghoa adalah kalendar lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari, karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur; mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.

* * *

Kami berangkat sendiri dari rumah, sementara Papa-Mama mertua berangkat bersama kerabat lain dengan mobil terpisah. Kami tiba di pemakaman. Terlihat iringan mobil memasuki kompleks makam. Orang Tionghoa biasa nyekar 10 hari sebelum atau sesudah tanggal 5 April; pas hari Minggu atau hari libur. Di bong kita akan nyapu, menata sajian, berdoa, menyebar bunga dan kertas di gundukan makam.

Sambil menunggu hio terbakar habis, saya melihat di kejauhan orang-orang melakukan kegiatan yang kurang lebih sama di makam leluhur masing-masing –baik itu menyapu, berdoa, tebar bunga, atau mengobrol. Entah makam siapa yang mereka sambangi. Mungkin makam engkong, mak, orang tua atau saudara atau kerabat. Yang jelas, tak lagi terlihat duka di wajah mereka. Mereka berbincang, sesekali tertawa.

Tak terlihat nestapa.

Saat orang yang dikasihi meninggal, waktu seakan berhenti, kesedihan memuncak. Hidup seakan tak berarti. Namun dunia terus berputar, matahari terus bersinar; suka tak suka, hidup harus terus berlangsung. Yang hidup harus dihidupi, yang kecil harus dibesarkan, yang tua harus dirawat. Waktu berlalu, waktu mengobati. Kematian bukanlah akhir, kematian adalah awal. Angin bertiup, daun-daun berguguran, jatuh menjadi humus, bercampur tanah, diserap akar, menumbuhkan pucuk daun-daun muda baru, bernas, segar.

Kematian adalah saripati kehidupan. Yang datang, niscaya pergi; yang lahir, niscaya mati. Seberapa penting kehadiran seseorang di dunia? Seberapa penting rontoknya sehelai daun bagi sebuah pohon? Saat yang dikasihi pergi, duka menyapa; ‘tuk berapa lama? Karena dunia terus berputar, karena matahari terus bersinar.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?

Esai

Bagi saya, spiritualitas tertinggi adalah kemanusiaan, bukan ketuhanan. Jika kita berhasil merawat kemanusiaan, kita pasti akan mencapai ketuhanan