Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Zhi Z(h)u Chang Le

Bisa merasa cukup dan tidak egois, adalah dua sisi dari sebuah keping mata hati

© Lui Shou Kwan 呂壽琨/artsy.net

BEBERAPA tahun yang lampau, saya melihat sebuah patung berbentuk telapak kaki di sebuah toko antik di Singapura. Entah mengapa saya tertarik membeli patung berwarna hitam itu. Mungkin karena terlihat imut dan unik. Atau mungkin juga karena pemilik toko berkata, ”It will bring you luck…

Saat mama mertua melihat patung itu di rumah saya, beliau tertarik. Saya memberikan patung itu kepadanya.

* * *

Lalu, beberapa waktu setelahnya saya berlibur ke China bersama keluarga. Di Beijing kami mengunjungi situs makam dinasti Ming. Setelah puas berkeliling melihat situs makam yang luar biasa megah, kami masuk ke toko suvenir. Saya gemar melihat-lihat barang pernak-pernik. Di dalam salah satu rak, saya melihat sebuah benda mirip pipa rokok. Saya memanggil penjaga toko dan memintanya mengeluarkan pipa itu.

Saya mengamati pipa kayu dengan ukuran sekitar 50 senti dengan cekungan kecil dari logam di ujungnya; mungkin untuk wadah tembakau. Hmm, lucu, ya. Bisa untuk oleh-oleh sobat saya yang perokok.

Namun kemudian saya teringat, sobat saya tidak menggunakan pipa semacam itu. Ia menggunakan pipa rokok biasa, di mana rokok kretek tinggal dimasukkan ke ujung pipa.

Kalau pipa yang saya amati itu, jenis pipa cangklong. Lagi pula saya melihat lubang di dasar cekungan nampak kecil sekali. Jangan-jangan ini bukan pipa cangklong biasa. Jangan-jangan ini pipa untuk menghisap candu seperti zaman dulu. Hehehe.

Saya tidak jadi membelinya.

* * *

Saya kembali melihat-lihat. Saya berhenti saat pandangan saya terpaku pada sebuah patung kaki. Patung telapak kaki pembawa hoki! Saya mengamati. Patung telapak kaki ini tidak berwarna hitam seperti yang dulu, melainkan abu-abu semu kuning dengan serat kayu tersirat. Nampak terukir pula seekor laba-laba di punggung kaki. Lucu, ya. Saya lupa apakah patung kaki yang dulu juga ada laba-labanya.

Saya memutuskan membeli patung kaki dengan ukiran laba-laba untuk sobat saya, sebagai ganti pipa yang tidak jadi saya beli.

* * *

Saat saya memberikan patung itu kepada sobat saya, ia senang sekali sekaligus kaget. Nampaknya ia sangat mengenali patung itu dan telah lama menginginkannya. Ia kaget, bagaimana saya bisa tahu dan membelikannya, padahal sama sekali tidak pernah sekalipun ia mengungkapkan.

Ia lalu menjelaskan panjang lebar di status Facebook-nya kisah Sang Buddha dan laba-laba yang cukup filosofis.

Kira-kira seperti inilah patung kaki dengan ukiran laba-laba itu © aliexpress.com

Saat Sang Buddha lewat di sebuah taman, beliau mendengar jeritan orang-orang minta tolong. Setelah dicari sumbernya, ternyata jeritan itu berasal dari dalam sebuah sumur. Ini adalah sumur neraka. Nampak orang-orang tumpang-tindih terbakar dan tersiksa oleh api neraka.

Sang Buddha melihat sesosok yang ia kenal. Orang ini adalah seorang serdadu. Suatu ketika serdadu ini berjalan di sebuah hutan dan hampir saja menginjak seekor laba-laba. Untung ia melihat dan lalu menghindarinya.

”Engkau pernah berbuat baik menyelamatkan nyawa seekor laba-laba,” kata Sang Buddha. ”Meski itu perbuatan baik kecil, aku akan mencoba membantu.”

Lalu meluncurlah seutas benang laba laba dari langit masuk ke dalam sumur.

Begitu melihat benang laba-laba terulur, si serdadu segera menangkap dan memanjatnya. Ia sangat gembira merasa terselamatkan dari siksa neraka.

Saat sampai di tengah-tengah, ia merasa benang laba-laba mendadak bergoyang keras. Ia melongok ke bawah. Ternyata puluhan bahkan ratusan orang-orang yang terhukum di neraka berusaha ikut memanjat benang laba-laba itu. Ia pun berteriak, ”Jangan ikut memanjat! Ini benang laba-labaku!”

Namun orang-orang yang kalap tidak menghiraukan teriakannya. Mereka terus saja nekat memanjat.

Benang laba-laba bergoyang makin keras. Si serdadu yang di atas mengambil pisau dan memotong benang laba-laba di bawah kakinya. Semua orang di bawahnya terjun bebas, jatuh terkapar ke dasar neraka.

Si serdadu tertawa terbahak-bahak menyaksikan hal itu. Tahu-tahu, benang laba-laba yang dipegangnya terputus…

* * *

Kakak saya mengirim sebuah foto melalui henpon. Saya melihat foto yang dikirim: sepasang telapak kaki dan laba-laba. Di telapak kaki kiri terukir huruf ’zhi zu’, di telapak kaki kanan huruf ’chang le’. Jika digabung, akan menjadi sebuah rangkaian peribahasa ’Zhi zu chang le’ (知足常乐).

Yang artinya: Merasa cukup adalah kebahagiaan sejati.

Dalam bahasa Mandarin, dikenal istilah homofon. Lafal boleh sama, makna bisa beda. ’Zu’ (足) bisa berarti ’kaki’, juga bisa berarti ’cukup’. Jika di depan huruf ’zu’ ini ditambahkan huruf ’zhi’ (知) yang artinya ’merasa’, maka pelafalannya akan mirip dengan pelafalan huruf ’zhi zhu’ (蜘蛛) yang artinya ’laba-laba’. Jadi, ’kaki’ dan ’laba-laba’ adalah homofon dengan ’merasa cukup’.

* * *

Andai kata si serdadu membiarkan orang-orang tetap bergayut di bawahnya, sehingga semua orang terbawa, akankah seutas benang laba-laba yang tipis bertahan? Akankah ia tetap terselamatkan?

Sesungguhnya masuk ke surga atau ke neraka tidaklah menjadi masalah, sing penting kumpul.

All is better when together.

Jika hanya seutas benang yang diulurkan, bukankah si serdadu punya opsi mengabaikannya saja.

All for one and one for all.

Bisa merasa cukup dan tidak egois, adalah dua sisi dari sebuah keping mata hati.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?