Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Mak Sengka

Dengan segala keterbatasan, kekolotan dan kegigihannya, Mak Sengka –yang merupakan Tionghoa totok– mendampingi kelima putranya bekerja, membentuk keluarga dan hidup mandiri

© 163.com

SEJAK SAYA kecil sampai SMA, Mak Sengka tinggal serumah dengan kami. Mak Sengka adalah ibunya Papa, masih totok, lahir di Tiongkok, desa Tjwantjiu atau Quanzhou. Kalau ngomong pakai bahasa Hokkien campur Jawa; celat-celat sedikit. Kakinya kecil mungil, kalau jalan agak susah, apalagi di usia tua. Korban feodalisme yang menganggap wanita dengan kaki kecil lebih cantik dan ningrat ketimbang wanita bertelapak kaki lebar yang cocok macul di sawah.

Pearl S. Buck di bukunya The Good Earth menulis, untuk membentuk kaki mungil seperti itu, sejak kecil kaki dibebat kain dan tidak boleh dibuka bertahun-tahun. Kadang terjadi infeksi, dan pasti sakit sekali. Demi tradisi, siksa terpaksa dilakoni.

Potret kaki mungil wanita China yang setelah bertahun-tahun dibebat kain © Wikimedia.org

Mak Sengka selalu memakai pakaian ‘tengsua‘ yang khas. Baju lengan panjang dengan kancing kain bundel menyamping dari leher ke ketiak, kancing berlanjut menurun ke bawah sepanjang tepi rusuk. Celananya dari bahan satin hitam potongan longgar tapi cingkrang, diikat di bagian pinggang kayak kendit. Sandalnya berbentuk selop kecil dilapisi beludru hitam dan ada motif bunga warna-warni di atasnya.

Tiap pagi sehabis pakai bedak wangi Fanbo, Mak Sengka menggelung rambutnya dengan jaring kecil dan menghiasinya dengan tusuk konde perak beruntai rantai kecil. Gelang giok hijau dengan ukiran emas, senantiasa menghiasi lengannya.

Ayaaa Mak, cincia ai sui,” goda saya. Mak, kemayu amat.

Mak Sengka adalah lebah pekerja, tidak pernah sekejap pun tangannya rehat. Kebetulan Papa mengolah cengkeh untuk dirajang dan dibungkus dalam contong kecil untuk rokok tingwe. Mak Sengka selalu sibuk, entah menambal karung goni robek, atau melipat ‘longsong’, atau contong cengkeh, atau sekedar mengawasi pekerja pabrik pulang kerja.

Di halaman rumah ada lapangan yang luas untuk menjemur cengkeh. Aroma cengkeh yang harum menjadi sarapan sehari-hari.

Saya ingat waktu kecil dulu, cucu-cucu suka mengorek cengkeh yang tertinggal di lubang-lubang di lapangan. Sisa-sisa rontokan cengkeh dikumpulkan hingga sekantung kecil, lalu diserahkan ke Mak Sengka dan akan diberi imbalan Mangpi alias 5 rupiah. Mayan untuk jajan.

Kadang ada juga cucu yang nakal, tidak mengorek cengkeh di lapangan, tapi mengambil langsung dari stok karungan dan setor ke Mak Sengka untuk dapat ‘upah’!

Hehehe.

Menjelang tua, Mak Sengka mulai pikun. Kadang menanyakan orang tuanya ada di mana. “Wa e papa di talo’?” Papa saya di mana?

Sudah makan minta lagi. “Wa yambe ciak.” Saya belum makan.

Padahal barusan makan semangkuk bubur dengan asinan krai.

Kadang minta diantar ke rumah temannya, kongkow sebentar terus minta pulang. “Wa ai gun.” Saya ngantuk. Begitu sampai di rumah, minta diantar ke rumah temannya lagi. Gubrak!

Kalau ketemu Papa, selalu minta uang. Dan Papa selalu siap dengan segepok uang kertas seratus rupiahan. Uang itu akan dikantongi Mak dan terus disimpan di lemari bajunya. Tiap malam uang itu diambil lagi oleh Papa, kadang menyuruh saya, untuk di’daur-ulang’ esok paginya.

Mak Sengka terampil menggunakan gunting. Mak bisa menggunting kertas membentuk bunga, kupu-kupu, dan berbagai macam bentuk lainnya yang indah. Padahal selama ini Mak Sengka tidak pernah menunjukkan keterampilannya itu.

Mak Sengka dibesarkan dalam tradisi yang sangat kolot. Anak laki, cucu laki, adalah aset yang sangat dihargai dan dijaga. Meski dibuat setidak kentara mungkin, namun kami bisa merasakannya diam-diam. Cucu laki dapat jeruk lebih besar, dapat permen lebih banyak, dan angpao lebih tebal. Hehehe.

Mak Sengka juga senang mengutip ungkapan, “Ca wo kut long kut, pang liu ya ce kut. Ta po gong liong gong, pang liu hui ling ko hui hong.”

Terjemahan bebasnya kurang lebih: “Sepandai-pandai perempuan, kalau pipis ya mung satu lubang kecil. Sebodoh-bodohnya laki-laki, kalau pipis bisa nggambar naga dan burung Hong.”

Nah, lho.

Dalam pikunnya, Mak malah ingat hal-hal yang telah lampau. Mak sering cerita malam pertamanya bersama Engkong. Menurut kisahnya, malam itu Mak malu-malu tidur di ranjang, malah terus duduk di lantai, sampai masuk angin esok paginya. Malam pertama terlewat di lantai. Hehehe. Ini bukan romantis, tapi roman-atis tenan.

Mak Sengka adalah wanita yang kuat dan tabah. Engkong telah wafat sebelum Papa menikah. Dengan segala keterbatasan, kekolotan dan kegigihannya, ia mendampingi kelima putranya bekerja, membentuk keluarga dan hidup mandiri.

Rupanya makin kita tua, kenangan yang lama, yang telah terkubur, muncul kembali ke permukaan. Hal-hal yang dulu dilupakan bisa teringat lagi.

Lho, lho, sik to, berarti kan seperti saya sekarang ini, mendadak ingat hal-hal yang telah lalu. Berarti saya menjelang tua juga, ya?


Catatan Redaksi: ‘Chan zu‘ (缠足) alias tradisi membebat kaki bertahun-tahun dengan kain untuk membentuk kaki mungil wanita China, kemungkinan telah berlangsung sejak zaman dinasti Song (960-1279) dan baru berakhir pada tahun 1940-an. Banyak yang mengatakan tujuan ‘chan zu‘ adalah agar wanita menjadi orang rumahan. Mirip dengan pemikiran ‘dapur, sumur, kasur’ yang hingga kini masih melekat pada tidak sedikit masyarakat Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

YTH. BBC, saya akui dalam banyak hal reportase kalian bisa diandalkan. Namun, terkhusus permasalahan di negara berkembang, kalian banyak biasnya. Wartawan-wartawan kalian ada beberapa...

Esai

Di alam demokrasi yang masih mentah di tanah air, di mana pertikaian dan perselisihan horizontal antarkelompok, antaretnis dan agama masih sering terjadi, ajaran-ajaran Konfusius...

Kongkow

Pelatih bulu tangkis nasional Tiongkok yang tim didikannya berhasil mengalahkan Indonesia ternyata wong Semarang, yang 'diusir' pulang ke Tiongkok karena PP 10/1959

Esai

Kita harus berhati-hati dengan siapa kita bercakap. Siapa tahu lawan kita ngobrol tersinggung pada istilah “Cina”