Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Surat Terbuka Adi Harsono untuk BBC terkait Xinjiang dan Papua

© Getty Images

YTH. BBC, saya akui dalam banyak hal reportase kalian bisa diandalkan. Namun, terkhusus permasalahan di negara berkembang, kalian banyak biasnya. Wartawan-wartawan kalian ada beberapa yang idealis, tapi lebih banyak konspiratornya. Kalian menggunakan standar ganda dalam memberitakan kerusuhan dan perusuh. Sikap kalian berbeda ketika memberitakan kerusuhan di Hong Kong dan di Amerika, sungguh tidak berakhlak.

Saya ingin berbagi sebuah kisah dengan kalian. Kisah ini terjadi di negara saya.

Tiga tahun lalu ketika isu Xinjiang baru diberitakan oleh media Barat, saya membawa pengurus dan anggota Perhimpunan Alumni Tiongkok Indonesia (PERHATI) berkunjung ke kantor biro kalian di Jakarta. Kepala biro kalian, seorang perempuan Inggris yang merupakan wartawan yang sangat senior, menerima kami. Bahasa Indonesianya sangat fasih. Saya yakin dia sudah lama sekali tinggal di Indonesia dan pergaulannya sangat luas. Sikapnya sangat baik, tidak ada kendala bahasa, jadi suasanya sangat santai.

Saya menjelaskan tujuan kunjungan kami; bahwa rombongan yang saya pimpin ini akan mengunjungi banyak media, termasuk CNN dan media arus utama Indonesia, untuk membagikan pengalaman mereka belajar di Tiongkok.

Mereka hidup dan belajar di Tiongkok selama 4-5 tahun, mengalami benturan sekaligus tantangan budaya, bahasa, dan adat istiadat. Setelah mengatasi begitu banyak kesulitan, mereka bersahabat dengan banyak teman dari Tiongkok dan negara lainnya. Ada yang berkeluarga dan bekerja di Tiongkok, tapi lebih banyak yang pulang ke Indonesia dan mengabdi untuk pembangunan Indonesia. Setiap kisah dari mereka sangatlah mengharukan.

Saya membawa 10 mahasiswa, yang separuh di antaranya baru saya kenal. Saya juga tidak tahu background mereka. Namun, kami leluasa berbagi kisah masing-masing.

Seorang mahasiswa menceritakan kisahnya berkuliah di Wuhan University. Dia adalah ASN di Kementerian Pendidikan. Setelah lulus dari kampus di Sumatera Barat dan tak lama setelah bekerja sebagai ASN, dia mendapatkan beasiswa dari lembaganya untuk meneruskan pendidikannya di Australia. Waktu itu, dia sudah diterima di Australian National University, juga sudah mengurus paspor dan visa. Segalanya sudah terurus dengan baik. Tinggal menunggu keberangkatan pesawat ke Australia saja.

Namun, enam tahun lalu itu, dia dipanggil oleh atasannya ke kantornya, diberi tahu bahwa menteri pendidikan mendapatkan dua kuota beasiswa dari Kedubes Tiongkok dan lembaganya memutuskan untuk mengirimnya ke Wuhan University.

Dia tidak berani menolak, juga tidak menanggapi apa-apa. Setelah selesai kerja dan pulang ke rumah, dia menyampaikan kabar itu kepada istri dan orang tuanya. Waktu itu, seluruh keluarganya langsung menangis, sebab yang mereka tahu tentang Tiongkok adalah negara yang sangat terbelakang, sangat miskin, dan sangat tidak bebas beragama. Rezim Soeharto beserta 30 tahun propaganda dan pendidikan anti-komunis dan anti-Tiongkok, telah membuat mereka begitu ketakutan terhadap Tiongkok. Anda tahu, Sumatera Barat adalah daerah yang kental keislamannya.

Dia menuturkan, ketika di Bandara Jakarta hendak naik China Southern Airlines terbang ke Guangzhou dengan tujuan Wuhan, dia sekali lagi memeluk istri dan keluarganya, tangispun membahana. Dia berpesan kepada istrinya, “Belajar ke luar negeri adalah tugas negara, kalau aku dibunuh komunis Tiongkok, aku harap kamu bisa dengan baik menjaga dan membesarkan anak kita yang baru berumur dua tahun itu.”

Dia tiba di Wuhan dengan lancar. Ketika di Bandara Guangzhou, dia sama sekali tidak kesasar –sekalipun dia tidak mengenal satu hurufpun bahasa Mandarin. Sejak naik pesawat China Southern Airlines itu, pramugarinya yang cantik lagi ramah, pesawat barunya yang nyaman, papan penanda di Bandara Guangzhou yang dilengkapi dua bahasa Inggris dan Mandarin, membuat rasa takutnya perlahan menghilang, berganti menjadi ketakjuban.

Begitu keluar dari Bandara Wuhan, dia melihat spanduk bertuliskan namanya, dia dituntun teman sekampusnya yang menyambut kedatangannya di Wuhan. Dia sangat terharu.

Kampusnya telah menyiapkan asrama untuknya, kamar singgel ber-AC. Kantin kampusnya ada makanan halalnya. Dia juga mengenal banyak teman sekampus dari negara-negara muslim. Di sekitar kampusnya juga ada rumah makan halal dan masjid. Mereka sangat bebas beribadah, tak ada orang yang nyinyir, apalagi ikut campur.

Enam bulan kemudian, istri dan anaknya ke Wuhan. Istrinya berkerudung. Ketika pergi belanja sayur di pinggir jalan, ke swalayan, orang-orang Tiongkok sama sekali tidak risih, tak ada yang mengatur-atur istrinya untuk begini-begitu. Masyarakatnya sangat harmonis dan bersahabat.

Setelah tinggal di Tiongkok selama beberapa tahun, dia akhirnya bisa berbahasa Mandarin. Selama libur, dia tidak pulang ke Indonesia, tapi pergi melancong ke mana-mana di Tiongkok, termasuk ke Xinjiang.

Tiongkok yang dia lihat dan Xinjiang yang dia lihat, sepenuhnya tidak sama dengan yang diberitakan oleh BBC. Lalu, mahasiswa ini bertanya-tanya: Kenapa BBC begitu negatifnya memberitakan Xinjiang? Pemberitaan kalian tidak benar.

Jika kalian ingin mengetahui Tiongkok, ingin mengetahui Xinjiang, silakan bertanya kepada teman-teman kami yang pernah tinggal di Tiongkok, karena kami tidak ingin kalian merusak persahabatan kami dengan kawan-kawan Tiongkok yang ramah dan baik hati itu.

Yth. BBC,

Kisah teman-teman kami yang kuliah di Tiongkok itu adalah fakta.

Dan, tidak hanya di Tiongkok, di Indonesia juga demikian. Kalian, BBC, pernah memberitakan peristiwa di Papua dan sebelumnya Provinsi Timor Timur secara tidak benar.

Yang sangat menyakitkan hati, pada tahun 90-an, kalian berkonspirasi memberitakan peristiwa Timor Timur sehingga menyebabkan Timor Timur memisahkan diri dari NKRI dan merdeka sebagai satu negara.

Saat ini, kalian juga ingin mengacaukan Papua, karena itu wartawan kalian dibatasi akses masuknya ke Papua. Indonesia tidak ingin kehilangan lagi, kehilangan Papua.

Karena itu, ketika mengetahui berita bahwa siaran TV BBC World News dilarang mengudara di Tiongkok, maka itu adalah ganjaran yang sudah sepantasnya. Pemerintah Tiongkok telah bertindak benar.


Catatan Redaksi: Surat terbuka ini ditulis dalam bahasa Mandarin. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Novi Basuki.

4 Comments

4 Comments

  1. Avatar

    Calvin

    1 Maret 2021 at 1:20 pm

    Muantap , just politics reason and for oil

  2. Avatar

    AL

    6 Maret 2021 at 12:01 am

    Sayang sekali kalau kantor berita sekaliber BBC dicemari pemberitaan yg tdk kredible

  3. Avatar

    Sunanto

    21 April 2021 at 6:26 pm

    Pemberitaan media barat ttg korea utara jg tdk dpt dipercaya.

  4. Avatar

    Matias lie

    25 Mei 2021 at 12:31 pm

    Berbeda dengan #narasitv @,unilubis redaksi yg mendapatkan fasilitas dengan rombongan NU ke Xinjiang dus kdlivdan memberitakan terbalik dari 1 juta Muslim Uigur yang dipenjara, di siksa dan dipaksa gugurkan anak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...

Ramadan

WAKTU itu 4 April 1931, China masih dikuasai Partai Nasionalis Kumintang, orang-orang Uighur di Kumul, Xinjiang utara, memberontak. Sasarannya: Jin Shuren, gubernur Xinjiang bersuku...

Ramadan

KEKHANAN Kara-Khanid sebagai kerajaan Islam pertama di Xinjiang melahirkan satu pujangga besar: Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib. Karyanya: Kutadgu Bilig. Sayangnya, seperti Supersemar, hingga kini belum...