Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Coba’o

Pelatih bulu tangkis nasional Tiongkok yang tim didikannya berhasil mengalahkan Indonesia ternyata wong Semarang, yang ‘diusir’ pulang ke Tiongkok karena PP 10/1959

© 99zihua.com

YANG NAMANYA nasib tidak bisa ditebak. Salah seorang paman, adik Papa saya, ada yang balik ke Tiongkok gara-gara PP 10/1959.

Sore itu Paman bercerita, saat balik ke Tiongkok, ia naik kapal bareng karibnya dari Semarang.

“Nama kapalnya Ciwangi,” ujarnya sambil menghisap rokok putihnya.

Mereka mendarat di Guangzhou dan ditampung di sebuah tempat pengungsian, di sebuah sekolah. Sambil menunggu penempatan dan untuk membunuh waktu, mereka bermain bulu tangkis. Kebetulan Paman dan temannya hobi main bulu tangkis dan bergabung di klub Union di Semarang.

Suatu ketika, saat mereka asyik bermain bulu tangkis, seseorang mendatangi. Rupanya dia pelatih bulu tangkis nasional Tiongkok. Melihat ketangkasan Paman dan temannya bermain, mereka berdua ditawari bergabung Tim Nasional.

Si teman langsung setuju dan memutuskan bergabung, sedang Paman tidak. Paman punya tugas dari keluarga untuk menjajaki situasi di Tiongkok.

Si teman ini nantinya akan menjadi tulang punggung Tim Nasional Tiongkok yang malang melintang dan disegani dunia perbulutangkisan international. Dan saat menggantung raket, si teman diangkat menjadi pelatih Tim Nasional Tiongkok, yang akhirnya berhasil menumbangkan dominasi Tim Nasional Indonesia dan merebut Piala Thomas dari tangan putera-puteri Merah Putih.

Sungguh ironis.

Ternyata arsitek tim bulu tangkis Tiongkok, asline wong Semarang –Mr. Hou.

Saya bertanya pada Paman yang kembali menyalakan sebatang rokok, “Lha kalau main badminton (dibanding si teman) lihai siapa?”

Paman tidak langsung menjawab, ia menghisap rokoknya dalam-dalam. “Yah, pokoknya kadang dia yang menang, kadang aku.”

Hahaha, diplomasi.

Saya tersenyum. “Lha ndak gelo?

Kerabat saya ganti tersenyum, “Ya ndak lah, tiap orang punya jalannya sendiri-sendiri.”

Saya mengangguk setuju.

Kerabat saya menghisap rokoknya, lalu tertawa geli teringat peristiwa lucu. Suatu ketika temannya yang sudah bergabung di tim mengunjunginya dan membujuk, “Ayo ikut gabung saja, dapat jatah telur lho,” katanya.

Kerabat saya terkekeh. “Jan-jane lumayan, buat ciakpo.”

Saya mengangguk.

Menurut Paman, di penampungan hanya dapat jatah nasi dan lauk sawi putih. Kalau gabung tim bulu tangkis dapat makanan bergizi, ciakpo (吃补). Kan lumayan.

Saya tidak bisa membayangkan andai Paman ikut bergabung di Tim Nasional Tiongkok, mungkin ia akan jadi pemain kelas dunia yang disegani pula. Yah, tapi orang punya jalannya sendiri-sendiri. Andai waktu bisa diputar balik, “Coba’o…“; “Jan-jane…“.

Tapi waktu tak dapat berbalik.

Waktu berjalan, maju tak terbendung; licin, tidak bisa ditangkap atau dihentikan. Bagai belut dilumuri oli.

Istri pernah bercerita, salah satu kerabatnya pernah kuliah di Amerika Serikat, mengambil jurusan komputer. Suatu saat dia diajak kongsi bikin perusahaan perangkat lunak oleh teman kuliahnya yang drop-out. Si kerabat menolak, pikirnya orang drop-out kok ngajak kongsi. Cerita tinggal cerita, ternyata usaha temannya yang drop-out berhasil dan sukses. Sukses besar sekali malah. Kata Istri, nama perusahaan teman kerabatnya …

… Microsoft!

Hmm.

Waktu tidak bisa diputar balik. Kita harus legawa. Tiap orang punya jalannya sendiri-sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?