Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Balada Espresso

SBKRI dan PP 10 menyisakan kenangan giris-ironis bagi Tionghoa Indonesia. Toko dijarah, rumah dibakar. Nasib terjerumus dalam hitungan detik

© Basoeki Abdullah/The Jakarta Post/Agus Dermawan T.

BAGI TIONGHOA Indonesia, ‘SBKRI’, Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, adalah sebuah kata yang sangat akrab di telinga. Sebuah kata yang sanggup melontarkan kenangan giris-ironis.

SBKRI hanyalah sebuah buku kecil seukuran saku bewarna hijau yang dikeluarkan oleh Departemen Kehakiman di masa Orde Baru. Buku ini mengukuhkan status etnis Tionghoa sebagai warga negara sah di Republik ini. Tanpa SBKRI, jangan harap bisa mengurus paspor, surat kawin, akte lahir, sekolah, kuliah, beli rumah, atau izin usaha.

SBKRI, bukan S(K)BRI, adalah jimat kehidupan.

Tanpa SBKRI, tak ada hak-hak sipil. Tidak aneh jikalau anak terpaksa mengikuti marga mamanya, karena mamanya yang punya SBKRI. Pernah terjadi seorang anak Jawa yatim piatu –yang sejak kecil diadopsi sebuah keluarga Tionghoa– tidak bisa meneruskan sekolah gara-gara tidak punya SBKRI. Ia, meski berkulit coklat dan bermata besar, tetap dianggap Tionghoa.

SBKRI adalah momok sekaligus obyek sapi perah.

Mengurus Surat Kematian pun pakai SBKRI. Padahal jasad sudah jadi ‘WNA’, Warga Negara Akherat. Aneh bin ajaib, saat Pemilu SBKRI tidak pernah diminta. Kartu Pemilih dibagikan begitu saja dari rumah ke rumah tanpa banyak cincong. Padahal Pemilu adalah kegiatan politik yang, secara de jure dan de facto, hanya untuk warga negara yang sah. Hanya Warga Negara Republik Indonesia yang boleh mencoblos. Lha kok warga negara bermata sipit tidak dimintai surat bukti sama sekali?

Aneh to?

Seorang Tionghoa yang pernah menjabat Menteri pernah berkata, “Yang benar-benar warga negara yang sah adalah Tionghoa, yang lain tidak sah.”

“Kok bisa?”

“Lha gimana tidak? Hanya Tionghoa yang punya ‘surat bukti’ sebagai warga negara!”

Hahaha, bisa saja.

Saya masih ingat dulu saat daftar ulang naik kelas, berlembar-lembar surat yang harus difotokopi, mulai dari Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, Surat Keterangan Warga Negara Indonesia, Surat Keterangan Kelakuan Baik, sampai Surat Pernyataan Ganti Nama orang tua.

Kalau dipikir sungguh melelahkan.

SBKRI adalah nyawa yang mutlak dijaga dengan segenap hati. SBKRI selalu disimpan bersama barang-barang berharga lain di lemari besi; siap disambar dan diselamatkan bila terjadi kebakaran atau bencana.

Saya yakin, selain orang Tionghoa atau pejabat Departemen Kehakiman atau Sospol yang pernah berurusan dengannya, tidak ada seorang pun penduduk di Republik ini pernah melihat wujud kitab hijau nan sakral ini. Mendengar mungkin pernah, itupun sering terbalik pengucapannya. Harusnya S(B)KRI, bukan S(K)BRI.

* * *

Selain SBKRI, ada lagi sebuah kata yang sangat akrab di telinga Tionghoa, khususnya bagi generasi tua. Kata itu adalah PP 10.

Ya, PP 10 adalah sebuah Peraturan Pemerintah No. 10 yang dikeluarkan Presiden Soekarno di tahun 1959. Intinya peraturan itu melarang Tionghoa membuka usaha atau toko di wilayah tingkat Kabupaten ke bawah, di desa dan pinggiran.

Meski tujuan Presiden Soekarno mungkin baik, untuk menyeimbangkan kesempatan berusaha bagi non-Tionghoa, akan tetapi dampak sosial dari peraturan ini sungguh di luar dugaan. Terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana. Rumah dan tempat usaha milik etnis Tionghoa dijarah dan dibakar. Etnis Tionghoa dikejar-kejar dan diusir.

Mereka ketakutan.

Mereka lari, mengungsi menyelamatkan diri dan keluarga, serta sebagian harta yang bisa diselamatkan. Belum ada SBKRI saat itu. Pemerintah RRC pun menyediakan kapal untuk menjemput dan memulangkan mereka. Keadaan makin kacau balau –‘chaos‘. Banyak anak kehilangan orang tua, banyak orang tua kehilangan keluarga. Banyak yang tiba-tiba jatuh miskin, banyak yang tiba-tiba jadi yatim piatu.

Saya sedang ngopi bersama seorang kerabat, adik saya, serta seorang paman di sebuah kedai kopi di sebuah pertokoan. Paman adalah adik Papa ke-4 yang kami panggil dengan nama ‘Sicek’. Ia korban kebijakan yang ‘tidak bijaksana’ tahun 1959 yang kini tinggal di Shenzhen, Tiongkok.

Sicek bercerita, setelah PP 10 diumumukan, keadaan semakin genting. Diadakan rapat keluarga, diputuskan siapa di antara mereka yang berangkat dulu. Kakak-kakaknya sudah menikah dan berkeluarga, ada juga yang punya usaha. Adiknya masih terlalu kecil.

“Hanya aku yang paling pas,” kata Sicek sambil menyeruput kopinya.

Dia belum menikah dan kondisi kesehatan baik. Dengan bekal secukupnya dan setumpuk harapan, dia pun berangkat mengemban misi, menjajaki kemungkinan memulai kehidupan baru bagi seluruh anggota keluarga besar.

Sicek menjadi pionir.

Berangkat satu kapal bareng pionir-pionir lain yang mendadak merasa gagah bisa menjadi pahlawan keluarga. Tangan dikepal ke udara, lagu gagah dinyanyikan. Layar terkembang, semangat menggelora. Sampailah mereka di Guangzhou.

Harapan tinggal harapan.

Semangat mendadak mengempis bagai balon bocor. Ternyata yang dilihat tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Kemiskinan mendera di mana-mana. Kerja keras membayang di pelupuk mata. Negara ini lebih miskin dari yang dibayangkan.

Trondholo tenan!” gerutu Sicek sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

Mereka ditampung sementara di sebuah sekolah. Dijatah makan bagai penjara dengan rangsum seadanya. Nasi sebakul dan sawi sebakul. Sawi dan sawi setiap hari. Tak ada secuilpun daging. Putih dan putih –setiap hari. Sama rata, tak ada rasa.

“Suatu ketika ada warna coklat di sela sayur yang tersaji,” kata Sicek sambil tersenyum. “Semua orang berebut dikira daging, tapi jebulnya bukan…”

“Apa itu?” Saya mengunyah pisang goreng yang dilumuri keju dan coklat.

Sicek terkekeh-kekeh tak bisa menahan tawanya.

Jebule bukan daging. Jebule kecoak!!!”

Kecoak???

Hahaha. Saya ikut larut dalam tawanya.

“Terus semua orang jadi lemu tembem-tembem,” lanjut Sicek.

“Lho katane cuman dikasi sayur? Kok bisa gemuk?” Saya heran.

Sicek tertawa dan menggeleng. Tampak giginya yang menghitam karena nikotin.

“Bukan gemuk! Tembem. Beri-beri!”

Oala, hahaha, jebule bukan gemuk, malah ‘malnourished‘, kekurangan vitamin B, kena beri-beri.

Saya ikut tertawa.

* * *

Hidup terasa indah saat kita bisa menertawakan tragedi yang pernah terjadi.

Hidup senang atau susah, siapa bisa terka? Kita berusaha, kita berikhtiar, tahu-tahu keadaan berubah. Toko dijarah, rumah dibakar. Nasib terjerumus dalam hitungan detik. Nestapa tidak hanya disebabkan alam yang murka, bisa saja gara-gara sebuah keputusan gegabah di atas secarik kertas.

Dan beribu-ribu nyawa terlantar dan terpuruk begitu saja.

Nasib bagai gelombang pasang surut, kadang diseling badai dan halilintar. Terserah bagaimana kita bersikap. Bersatu dalam kesepakatan keluarga yang utuh, saling percaya dan saling menguatkan, menjajaki kemungkinan baru, menapak harapan di tanah yang tak pernah disinggahi. Meski kadang berakhir ironis, tapi kenangan itu tetap manis. Kenangan bahwa sesungguhnya keluarga adalah harta yang paling berharga.

Saya meneguk habis sisa espresso yang sudah dingin.

Rasanya pahit sekali.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

BILA boleh disimpulkan secara sederhana, hubungan bilateral Indonesia dengan China yang dijalin sejak 1950 itu, ”kuat di atas tapi rapuh di bawah”. ”Kuat di...

Esai

PADA 10 April 2021 lalu, saya diminta berbicara mengenai ”hubungan antaretnis” untuk mengisi acara diskusi daring #CasCisCus yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies,...