Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Haul Galak

Membahas Gus Dur ibarat menimba air di mata air kehidupan yang mengucurkan deras butiran hak asasi, demokrasi, keadilan, sekaligus kemanusiaan

© Instagram Hengky Kurniawan YANG

SAYA PAMITAN ke istri hendak pergi ke acara diskusi dalam rangka Haul Gus Dur ke-11 yang diadakan oleh Ansor bekerja sama dengan Persaudaraan Lintas Agama dan Perkumpulan Boen Hian Tong (文獻堂).

“Pulang jam berapa?”

“Malam,” sahut saya. “Mungkin jam 9, jam 10-an…”

Istri mengangguk tanpa banyak cakap. Istri saya memang baik hati, penuh pengertian, tidak cerewet, dan selalu percaya kepada suami.

Hmm.

Saya tiba di tempat acara.

Terlihat beberapa anak muda di depan gedung Boen Hian Tong; ada yang sarungan, ada yang pecian, ada yang memakai seragam putih-hijau dengan tulisan ‘Ansor’ di punggungnya. Kami saling menyapa dengan sikap anjali atau saling menyentuhkan pergelangan tangan.

Semua memakai masker.

Saya masuk ke dalam ruang dan bertemu pengurus Boen Hian Tong yang sedang menyiapkan kudapan dan acara sembahyangan. Saya menuju ke meja altar di mana terletak sinci atau papan arwah KH. Abdurrahman Wahid, diikuti beberapa teman Ansor.

Pak Harjanto Halim selaku ketua Perkumpulan Boen Hian Tong menunjukkan sinci Gus Dur © Muhamad Ali/Jawa Pos

“Ini ada nama KH. Abdurrahman Wahid,” ujar saya seraya menunjuk sinci berkalung melati segar dengan hiasan atap bersusun 3 di atasnya. “Diberi gelar ‘Yin Hua zhi Fu, Fu Ruo Guo Shi (印华之父,扶弱国师), ‘Bapak Tionghoa Indonesia, Pendukung Minoritas‘…”

Para teman Ansor mengangguk, entah mudheng atau tidak, dengan mata lebar.

“Ini juga ada sajian makanan kesukaan Gus Dur,” imbuh saya. “Ada mendoan, ayam kecombrang, kopi dan rokok.”

Kembali para teman Gusdurian mengangguk sambil menyebut merk rokok tertentu.

Saya menuding penataan sumpit di depan sinci.

“Kenapa sumpitnya di sebelah kiri (mangkok nasi) dan arahnya terbalik?” tanya saya.

Para anak muda penerus cita-cita Gus Dur menatap saya heran. “Kenapa, Pak?”

Saya mesem dengan hidung mbegar. “Karena yang akan ‘makan’ Gus Dur, bukan kita, maka sumpitnya ditaruh sebelah kiri. Kalau yang akan makan kita, ya sumpitnya di sini.” Saya menuding sebelah kanan mangkok.

Mereka manggut-manggut.

“Jujur saja,” saya tertawa, “saya juga barusan tahu soal ini…”

Hahaha. Memang banyak orang Tionghoa, terutama yang muda, yang sudah tidak tahu soal tradisi.

Tahukah kamu mengapa saat menancapkan hio ke hiolo harus menggunakan tangan kiri?

* * *

Setelah pembicara dan tamu undangan tiba, termasuk Bu Lurah dan Pak Camat, acara dimulai. Kami para pengurus berdoa di luar menghadap langit, lalu menuju ke altar dan berdoa di depan sinci sambil diiringi pukulan gembrengan.

Acara dimulai.

Saya pembicara pertama. Saya mengemukakan terima kasih kepada teman-teman Gusdurian, teman-teman Ansor, teman-teman Pelita, bahwa acara Haul Gus Dur ke-11 telah diadakan di gedung Perkumpulan Boen Hian Tong.

“Ini sudah menunjukkan sikap moderat,” ujar saya sambil berdiri memegang mikrofon. “Toleransi tidak bisa diteorikan. Toleransi dan keberagaman hanya bisa dipraktekkan dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan seperti yang selalu dikatakan Gus Dur bahwa ‘Kemanusiaan harus di atas segalanya‘…”

Saya lalu menyarankan bagaimana acara haul ke depan bisa diselenggarakan di vihara Buddha, di kuil Hindu, atau bahkan jika memungkinkan, “Di masjid Ahmadiyah…”

Hehehe. Mungkin, ndak, ya?

“Simbol agama boleh dikenakan jika tidak membuat orang lain, umat agama lain, merasa takut dan terancam, tapi membuat mereka merasa nyaman dan aman,” imbuh saya. “Simbol agama yang menyebabkan ketakutan siapa pun yang melihatnya, sebaiknya dicopot saja!”

Saya bercerita bagaimana Bunda Theresa dengan simbol kekatholikannya yang kental dan kentara, malah membuat orang Islam dan Hindu di India tidak segan mendekat.

“Gus Dur pun demikian,” tutur saya. “Dengan keislamannya yang mengakar, kaum minoritas, etnis Tionghoa, Nasrani, Saksi Jehovah, bahkan Ahmadiyah dan Syiah pun tidak terintimidasi, malah merasa nyaman dan terlindungi di dekatnya…”

Simbol jangan menjadi dinding pemisah.

* * *

Pembicara kedua, seorang samanera Buddha, mengungkap bagaimana kearifan lokal dan humor telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari spiritualitas Gus Dur. Sang pembicara membuka sebuah kitab yang tampak kumal, lalu menyanyikan sebuah kidung dari kitab tersebut.

Ternyata itu kidung tentang umbel alias ingus.

Hmm, ternyata etika dan tata cara mengelola ingus secara higienis sudah dibahas di Kitab Badra Santi yang konon ditulis pada tahun 1479. Luar biasa. Cocok untuk mengingatkan kita tentang pandemi corona di masa kini.

Dan ketika kidung-kidung lain dari Kitab Badra Santi yang berisi petuah bijak kehidupan  dinyanyikan di depan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid dengan diiringi rebana, beliau berkomentar lugas, “(Kidung) ini adalah Sholawat Buddha Majapahitan…”

Wuihhh, keren. Sholawat Buddha Majapahitan…

* * *

Pembicara ketiga, seorang cendekiawati muslim mengemukakan bagaimana Gus Dur telah memperjuangkan demokrasi dan hak asasi perempuan dalam 2 tataran: politik kenegaraan dan doktrin agama. Meski perempuan bukanlah minoritas dalam konteks kuantitas, tapi mereka menjadi minoritas karena telah didiskriminasi dan didegradasi hak-haknya selama ini.

Si pembicara yang menolak dipanggil ‘Nyai’, karena, “Tanggung jawab moralnya (seorang Nyai) luar biasa,” ujarnya. “Nyai itu ilmunya sudah dalam, memberikan contoh yang baik dalam akhlaqul karimah.”

Nyai setara dengan Kyai.

Ia menegaskan bahwa kontekstualisasi dan reinterpertasi dogma dan dalil agama sangatlah strategis untuk menempatkan perempuan agar setara dengan kaum Adam. “Terutama soal kepemimpinan perempuan,” ujarnya sambil mengisahkan bagaimana Gus Dur pernah memberi nasihat kepada seorang pejabat pemerintah Pakistan yang mengeluh soal kepemimpinan perempuan di negerinya.

Saya tersenyum, jangankan Negara Pakistan, Negara Amerika yang mbahe demokrasi saja belum pernah punya presiden wanita. Kalah karo Indonesia.

Hehehe…

Pembicara muda yang serius dalam menyampaikan pemikirannya ini sempat merasa terbebani untuk datang ke acara haul ini karena ada yang bilang, “Barang siapa mencintai Gus Dur pasti lucu…”

Duh.

Si pembicara menghela nafas. “Saya orangnya tidak lucu…”

Hmm.

“Tapi untung ada sambungannya, ‘Tapi kalau ndak lucu, ndak papa…”

Hahaha. Ini lucu.

Acara yang sangat bernas, diadakan di tengah situasi pandemi dengan sangat sederhana. Acara yang biasa dihadiri seribu orang lebih, kali ini ‘cuman’ dihadiri puluhan orang. Acara ditutup dengan penyerahan bantuan berupa penyemprot disinfektan, masker, dan hand sanitizer dari Ansor ke Perkumpulan Boen Hian Tong.

* * *

Malam semakin larut.

Membahas ketokohan dan sepak terjang Gus Dur dengan segala dinamika, ceplas-ceplos humor, kebijakan dan kejernihan hatinya, tak kan pernah ada habisnya. Membahas Gus Dur ibarat menimba air di mata air kehidupan yang mengucurkan deras butiran hak asasi, demokrasi, keadilan, sekaligus kemanusiaan.

Malam semakin larut, keberagaman sejatinya tak pernah surut.

Dan saat teman-teman Ansor menutup acara dengan menyanyikan mars ‘Yalal Waton‘ saya tak ragu maju ke depan, ikut menyanyi dengan penuh semangat sembari mengepalkan tangan.

Yalal waton, yalal waton, yalal waton

Hubul waton, minal iman

Wala takun minal hirman

Inhadlu alal waton

2x

Indonesia biladi

Anta unwanul fakhoma

Kullu maiya tika yauma

Tommihay yalqo himama.

2x

Malam semakin larut.

Keberagaman bukan teori, tapi kebersamaan yang dibangun sepenuh hati di dalam hati.

Dan sebagai pamungkas acara, lagu ‘Bojo Galak’ pun dilangitkan, diiringi petikan rancak gitar dan tepukan giras perkusi. Dan semua orang, semua yang hadir, sontak berdiri, berjoget mengikuti irama magis lagu yang berhasil menyuarakan kegalauan seorang suami nan tak berdaya, teraniaya telak di bawah ketiak sengak sang bojo galak.

Seorang anak muda yang berjoget di depan saya berbisik, “Di sini jogetan kayak gini ndak papa, Pak?” Matanya melirik ke arah ruang altar leluhur. Saya tersenyum. “Ndak papa,” ujar saya seraya mengimbangi jogetannya. “Mereka juga ikut joget kok…”

* * *

Malam semakin larut, perut mulai menjerit. Keberagaman dan toleransi tidak bisa hanya diisi dengan ceramah atau diskusi, tapi juga harus dengan nasi.

Jam 11 malam.

Di tengah kesunyian Pecinan yang penuh misteri, kami keluar, duduk lesehan di trotoar sambil kongkow, menunggu matangnya nasi goreng babat ala Pak Di di seberang jalan.

Sebuah pesan masuk dari Istri: “Everything ok?

Saya menjawab, “Ya, ok.”

Saya mengirim foto beberapa teman yang sedang lesehan.

“Ngapain itu?” tanya Istri.

“Makan nasi babat…”

Jam 11:51 malam.

Saya dalam perjalanan pulang. Saya mengirim pesan ke Istri, “Otw.”

Tidak dibalas. Hmm.

Jam 12 lebih.

Saya tiba di rumah. Saya masuk melalui pintu teras yang dibiarkan tidak terkunci. Saya mengunci pintu dan mematikan lampu. Saya masuk ke dalam dan menuju ke kamar tidur.

Ternyata pintunya tertutup.

Saya dorong. Tidak bisa.

Pintu terkunci. Saya ketuk perlahan, tak ada jawaban.

Saya menelan ludah.

Terngiang lagu ‘Bojo Galak’ yang tadi dinyanyikan:

Yo wes ben nduwe bojo sing galak

Yo wes ben sing omongane sengak

Seneng nggawe aku susah

Nanging aku wegah pisah

Tak tompo nganggo tulus ing ati

Tak trimo sliramu tekan saiki

Mungkin wes dadi jodone

Senajan kahanane koyo ngene…

Tahukah kamu mengapa toilet pria selalu ada di sebelah kiri?


Catatan Redaksi: Mengenai “mengapa saat menancapkan hio ke hiolo harus menggunakan tangan kiri?”, barangkali karena dalam budaya tradisional China, terutama sebelum dinasti Qin, ada anggapan kiri suci kanan kotor. Kanan dianggap kotor lantaran dulu (mungkin juga sekarang?) kerap dipakai untuk melakukan banyak hal tak terpuji. Berperang, misalnya. Budaya tradisional China menjunjung tinggi perdamaian; perang hanya dilakukan jika benar-benar terpaksa.

Dalam kitab Tao Te Ching (道德经) bab 31, umpamanya, Lao Tzu menyatakan, “夫兵者,不祥之器,物或恶之,故有道者不处。君子居则贵左,用兵则贵右。……吉事尚左,凶事尚右。” Artinya kira-kira, “Alat perang itu adalah alat yang membawa malapetaka, paling jahat di antara benda-benda. Karenanya, orang yang luhur budinya tidak akan memakainya. Orang yang luhur budinya mengagungkan posisi kiri, sedangkan panglima perang mengagungkan posisi kanan. […] Hal-hal terpuji mengutamakan sebelah kiri, sedangkan hal-hal tercela mengutamakan sebelah kanan.”

Juga, dalam kitab Konfusianisme Liji (礼记) yang ditafsirkan Zheng Xuan 郑玄 (127-200) disebutkan, “丧尚右,右阴也;吉尚左,左阳也”. Terjemahan bebasnya, “Hal-hal yang membawa duka mengutamakan sebelah kanan, kanan adalah negatif (yin); hal-hal yang membawa bahagia mengutamakan sebelah kiri, kiri positif (yang).”

Karena hio utamanya dibakar untuk tujuan ilahiah yang tentu saja positif, maka dipakailah tangan kiri.

Lalu, “mengapa toilet pria selalu ada di sebelah kiri?” Itu untuk menghukum Pak Harjanto yang pulang kemaleman! Turu ning toilet. Hahaha…

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Aulia Akualani

    17 Februari 2021 at 5:57 pm

    Ha…ha…ha, terima kasih tulisannya dan pengalamannya,kebayang pulang malam cape ngantuk gak dibukain pintu. 😂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?