Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Pengalaman Muslim Indonesia Rayakan Imlek dengan Eks WNI dan Pemerintah China

Walaupun “terusir” dari negeri kelahirannya, para eks WNI itu mengaku sangat rindu terhadap Indonesia

© zhihu.com

MUSIM GUGUR 2011 adalah pertama kali saya mulai menjejakkan kaki di China untuk studi di salah satu kampus di Kota Nanchang, Propinsi Jiangxi.

Saat liburan musim dingin, saya dan satu kawan dari Indonesia lainnya mendapat undangan khusus dari teman sekampus untuk merayakan tahun baru Imlek bersama. Nama teman saya itu Fangfang. Dia asli warga Nanchang –atau kami biasa menyebutnya “bendi ren” (本地人), orang lokal. Fangfang adalah partner belajar bahasa Mandarin saya. Dia ditunjuk oleh fakultas untuk membantu para mahasiswa Indonesia yang sedang studi bahasa Mandarin.

Walau musim dingin menyergap, tak menunggu lama undangan spesial dari Fangfang itu saya iyakan.

Dari situ saya mendapat banyak cerita dan menyaksikan langsung bagaimana orang-orang China merayakan Imlek –yang biasa mereka sebut sebagai “chunjie 春节” (festival musim semi) atau “guonian 过年” (perayaan tahun baru).

Seperti Idulfitri di Indonesia, ketika Imlek orang-orang China melakukan mudik (chunyun 春运) untuk bertemu orang tua dan berkumpul dengan keluarga, membersihkan dan berziarah ke makam leluhur, menempel ‘jimat’ di setiap pintu masuk rumah, memakai pakaian baru, makan bersama, saling berkunjung dan membawa bingkisan, menyalakan petasan … dan lain-lain.

Namun, yang paling penting dari itu semua, terutama bagi anak-anak dan yang masih jomblo, adalah mendapatkan hongbao (红包) alias angpao.

Semua serba merah, warna yang diyakini orang China sebagai simbol keberuntungan dan kesejahteraan.

Kendati kami diundang dan disuguhi pelbagai makanan di rumah Fangfang, mereka memahami hidangan apa yang terlarang bagi kami yang muslim. Pokoknya, menu yang disajikan aman.

* * *

Pengalaman lainnya adalah ketika kami mendapat undangan Imlek bersama beberapa eks WNI yang sudah menjadi warga negara China. Mereka biasa kami panggil “ayi” (阿姨) alias bibi. Chen Ayi, Li Ayi, dan Xia Ayi. Usia mereka sudah di atas 65 tahun. Mereka adalah para “Huaqiao 华侨” (keturunan Tionghoa kelahiran Indonesia) yang terkena dampak UU Kewarganegaraan 1958 dan PP No. 10 tahun 1959 terkait larangan orang asing berniaga di level di bawah kota/kabupaten.

Pada tahun 1950-an, seperti juga saat zaman kolonial, orang-orang Tionghoa memang sudah banyak bergerak di bidang perdagangan, bahkan dianggap menguasai perdagangan hingga ke desa-desa. Dari sekitar 86.690 pedagang kecil bangsa asing yang terdaftar pada pemerintah, hampir 90 persennya adalah orang Tionghoa. Diperkirakan, lebih dari setengah juta pedagang Tionghoa yang terdampak. Dan, ada sekitar 102.000 orang Tionghoa kembali ke China yang dijemput kapal-kapal dari China setelah diberlakukannya kebijakan tersebut. Demikian yang ditulis Leo Suryadinata dalam buku Dilema Minoritas Tionghoa.

Ayi-ayi itu masih anak-anak dan remaja ketika kebijakan yang dianggap rasialis itu diberlakukan. Mereka belum mengerti apa-apa, saat itu. Dengan sangat terpaksa, orang tua mereka dan Tionghoa lainnya meninggalkan semua harta bendanya di Indonesia untuk ikut kembali ke China. Sebagian dari mereka masih ada yang punya sanak saudara di Indonesia hingga kini.

Selain masih bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, Chen Ayi juga masih cukup fasih berbahasa Jawa halus atau kromo inggil. Itu karena masa kecilnya dihabiskan di sekitar Keraton Yogjakarta. Sementara Li Ayi yang kelahiran Semarang dan Xia Ayi yang kelahiran Bandung, masih bisa cakap bahasa Jawa dan Sunda. Tapi sayangnya, anak keturunan mereka tidak ada yang bisa bahasa-bahasa tersebut.

Menurut penuturan Chen Ayi, ia pernah menjadi salah satu penerjemah Presiden Soekarno dalam salah satu lawatannya ke Beijing. Chen Ayi adalah lulusan dan pensiunan akademisi salah satu kampus tua dan top di Beijing. Suaminya adalah anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Chen Ayi sering bercerita tentang China di masa kelam hingga modern dengan cukup runtut. Apalagi ketika masa Revolusi Budaya; bagaimana prahara dan kemiskinan melanda China dan perjuangan rakyatnya dalam bertahan hidup. Termasuk dirinya dan koleganya yang akademisi, dipaksa harus menjadi petani. Untungnya, masa-masa kelam itu berakhir dengan adanya Gaige Kaifang (改革开放) atau Reformasi dan Keterbukaan yang dimotori Deng Xiaoping pada akhir tahun 1978.

Walaupun “terusir” dari negeri kelahirannya, mereka mengaku sangat rindu terhadap Indonesia. Karena itu mereka cukup sering update perkembangan info terkait Indonesia. Mereka mendapatkan info tentang Indonesia, salah satunya, dari televisi dan sanak saudaranya. Menurut mereka, saat ini Indonesia sudah jauh lebih maju ketimbang dulu –khususnya terkait dengan kebijakan rasialis yang diberlakukan ke etnis Tionghoa yang sudah dicabut pasca-Reformasi. Mereka ikut bahagia dan mengapresiasi itu.

Sebagai salah satu obat rindu terhadap Indonesia, dengan selalu naik transportasi publik, mereka semangat dan sering kali menengok kami ke asrama untuk sekadar membawakan makanan dan bercerita. Ibaratnya, sudah seperti orang tua kami di Nanchang.

Kami juga sering membalasnya untuk silaturahim ke kediamannya. Setiap kami mengadakan Festival Budaya Indonesia tahunan di kampus, mereka pasti hadir. Bahkan ketika kami undang tasyakuran peringatan 17 Agustus secara sederhana di asrama pun mereka menyempatkan datang.

Namun, karena komunitas Huaqiao eks WNI di Nanchang tidak terlalu banyak, mereka tidak biasa membikin kegiatan yang bertemakan keindonesiaan sendiri. Berbeda dengan komunitas sejenis yang ada di Provinsi Guangdong atau Provinsi Hainan, yang sampai membikin perkampungan ala Indonesia.

Dari mereka juga kami dikenalkan kepada komunitas lainnya melalui Festival Budaya tahunan yang dihelatnya. Hingga kami setiap tahun diminta untuk menjadi salah satu penampil dalam acara kesenian dan kebudayaan Tionghoa tersebut. Angklung, rebana, tari Saman, dan budaya Indonesia lainnya pernah kami tampilkan.

* * *

Nah, karena saking seringnya kami menjadi salah satu tim pengisi pagelaran Festival Budaya mereka, sampai-sampai terdengarlah beritanya hingga ke telinga pejabat Kota Nanchang. Kamipun akhirnya, sejak 2015, mendapatkan undangan khusus untuk merayakan Imlek bersama pejabat pemerintah Kota Nanchang.

Undangan merayakan Imlek itu ditujukan khusus untuk kami warga Indonesia dan dilangsungkan di Balai Kota. Kami adalah satu-satunya mahasiswa asing yang pernah diundang oleh Pemerintah Kota Nanchang untuk merayakan Imlek bersama. Kalau tanpa undangan khusus itu, jangan ditanya bisa masuk kompleks Balai Kota, berfoto di depannya pun dilarang!

Bukan sekadar seremoni dan makan-makan, merekapun meminta setiap orang dari kami untuk memberi masukan-masukan terkait pembangunan Kota Nanchang yang sedang giat-giatnya membangun dalam pelbagai sektor. Kamipun berdiskusi cukup banyak dan saran-saran kami dicatat dengan detail oleh salah satu staf Balai Kota. Mereka barangkali sedang mengejawantahkan apa yang dipetuahkan Konfusius, “Bu chi xia wen” (不耻下问): tidak malu bertanya kepada yang di bawah atau yang berkedudukan rendah.

Tentu, di akhir acara, tak lupa mereka bagi-bagi angpao yang membuat kami makin ceria saja.

Eh, ini bukan berarti kami dibeli pemerintah China, lho, ya…

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Ramadan

China membangun “kamp konsentrasi” setelah sebelumnya gagal menanggulangi radikalisme dengan dua cara lainnya: militerisme dan kesejahteraan

Ramadan

Turki sepertinya baru akan sungguh-sungguh membela Uighur jika, dan hanya jika, dirasa menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya