Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Imlek Bersama Mereka yang Terusir dari Indonesia tapi Tetap Mencintai Indonesia

Umurnya sudah lebih 87 tahun. Karena gejolak politik, terpaksa pulang ke China pada usia 18 tahun. Namun mengaku walau bagaimana pun akan tetap mencintai Indonesia

© sohu.com

WANG WEI (王维) punya puisi masyhur yang salah satu penggalannya berbunyi, “Mei feng jia jie bei si qin” (每逢佳节倍思亲).  Artinya kira-kira, “Tiap kali tiba hari raya, rindu kepada keluarga kian membara.”

Saya rasa tidak akan ada yang tidak sepakat terhadap penyair sohor dinasti Tang yang hidup pada 701 hingga 761 itu. Terus terang saya makin merindukan teman-teman dan dosen-dosen saya di China, yang sudah seperti keluarga saya sendiri, pada malam pergantian tahun baru Imlek ini.

Maklum, saya biasa merayakan malam pergantian tahun baru Imlek (chu xi 除夕) di rumah kawan atau dosen saya –terutama dosen saya yang masih mempunyai darah Indonesia. Saya senang karena dari mereka saya selalu mendapat kisah-kisah menarik dan tak jarang mengharukan tentang Indonesia.

Seperti beberapa tahun lalu ketika saya melakukan ‘bai nian 拜年’ (silaturahmi Imlek) ke rumah dosen bahasa China saya di Xiamen. Saya sebelumnya tidak pernah tahu dosen saya itu keturunan Indonesia karena, saat mengajar, beliau tidak pernah menceritakan muasalnya.

Wo ba shi huaqiao 我爸是华侨 (Bapak saya adalah Chinese Overseas),” kata dosen saya, tiba-tiba, sambil menyuguhkan teh tawar.

Saya kaget. Spontan saya bertanya, “Yiqian zhu na ge guojia 以前住哪个国家 (Dulu tinggal di negara mana)?”

Yinni 印尼 (Indonesia),” jawabnya.

Saya semringah mendengarnya.

Memang, banyak sekali orang-orang Tionghoa kelahiran Indonesia yang terpaksa pulang ke China, negeri leluhurnya, saat Soeharto mulai bertakhta, terutama. Dari mereka, tak sedikit yang kemudian menuai sukses di China. Ada yang jadi dosen; ada yang jadi dokter; ada yang jadi pegawai pemerintahan … dan sebagainya. Arsitek rumah sakit khusus COVID-19 berkapasitas ribuan kamar pasien yang pembangunannya hanya semingguan itu, misalnya, adalah orang Tionghoa kelahiran Jember. Namanya Prof. Huang Xiqiu (黄锡璆).

* * *

Di rumah dosen saya itu, saya lebih banyak kongko-kongko dengan bapaknya ketimbang dengan dosen saya. Obrolannya macam-macam. Mulai dari kisahnya ketika masih tinggal di Indonesia, sampai ke cerita tentang kemajuan China 30 tahun belakangan.

Bapak dosen saya itu masih fasih berbahasa Indonesia. Kami juga lebih banyak bercengkerama dengan bahasa Indonesia daripada dengan bahasa China.

Bapak yang diceritakan dalam tulisan ini adalah yang paling kanan; putrinya di sebelah kirinya © Novi Basuki

“Saya lahir di Jember,” ujarnya tatkala saya tanya di mana tempat lahirnya.

“Dekat sekali dengan tempat saya, itu! Saya di Situbondo,” timpal saya.

Bapak itu tampak begitu bersemangat mendengar jawaban saya. Beliau lantas mencoba mengingat-ingat kembali beberapa tempat yang pernah menjadi tempat mainnya kala masih di Indonesia.

Saya takjub. Banyak sekali tempat-tempat di Indonesia yang masih bapak dosen saya itu ingat. Padahal, saya pikir akan sangat sulit bagi orang seusianya bisa mengingat sesuatu dengan jelas. Umurnya sudah 87 tahun. Pulang ke China pada usia 18 tahun. Masih sempat menamatkan SMA di Malang –sebelum kemudian SMA-nya ditutup.

“Dulu kami pulang pakai kapal. Disediakan oleh pemerintah China. Sekitar dua bulan mengarungi samudera baru bisa sampai ke sini,” kenangnya.

Saya serius menyimak.

“Dulu China masih belum semaju sekarang. Tapi, pemerintah tidak pernah lupa pada kami sebagai rakyatnya. Sekalipun negara masih sangat terbelakang, mereka tetap menyediakan kami tempat untuk tinggal, baju untuk kami pakai, makanan untuk kami makan,” lanjutnya.

Saya memanggut pelan, membayangkan pemerintah Indonesia juga berbuat demikian untuk rakyatnya.

“Jadi, kami tidak kurang apa-apa sekalipun dari Indonesia tidak bawa apa-apa,” terangnya lagi, sambil tersenyum.

Ketika ditanya apakah dulu pemerintah China menyediakan kesempatan pendidikan untuk mereka yang baru kembali dari luar negeri, bapak yang juga pensiunan dosen musik di salah satu universitas di China ini mengaku disediakan dengan tanpa pungutan biaya sepeser pun.

“Saya juga tidak pernah menyangka akan dapat meneruskan kembali pendidikan saya yang sempat terputus di Indonesia,” akunya.

Mengenai situasi terkini Indonesia, bapak dosen saya itu juga masih banyak mengetahui. Bahkan sampai ke kondisi perpolitikannya. Maraknya korupsi di Indonesia tak luput jadi perbincangannya. Saya hanya mendengarkan. Tak banyak mengomentari.

“Saya dulu mengajar lagu-lagu Indonesia di universitas. Mengajar musik-musik tradisional Indonesia juga. Banyak murid saya yang bisa memainkan angklung dan gamelan,” sahut bapak itu ketika saya tanya pelajaran apa yang diampunya.

Saya hanya bisa berdecak.

“Saya mengajar pelajaran itu karena saya suka sekali dengan kebudayaan Indonesia. Saya tidak rela kebudayaan yang indah itu hanyut tertelan masa!” tegasnya.

Tak henti-hentinya saya dibuat kagum olehnya.

Sebelum pulang, kata-kata bapak ini yang sungguh membuat haru saya: “Saya akan selamanya mencintai Indonesia. Semoga suatu saat ada kesempatan untuk mengunjungi kembali tanah air tercinta itu…”

* * *

Saya tidak tahu apakah sebelum wafat, keinginan bapak dosen saya itu sudah tertunaikan atau tidak.

Mendadak saya teringat Baren (巴人) alias Wang Renshu (王任叔). Saking cintanya kepada Indonesia, dubes pertama China untuk Indonesia ini sebelum mangkat berwasiat agar separuh dari abu jenazahnya disebar di Indonesia sebagai negara yang, ia menulis dalam sajak panjangnya, akan ia peluk hingga akhir hayatnya.


Catatan Penulis: Versi awal artikel ini ditulis pada pertengahan tahun 2012.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

PADA 10 April 2021 lalu, saya diminta berbicara mengenai ”hubungan antaretnis” untuk mengisi acara diskusi daring #CasCisCus yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies,...

Esai

”Kepedihan dan kesakitan serta trauma para korban Tragedi Mei adalah kesakitan kita semua.”