Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Ketika Roy Suryo dan Said Didu Gagal Paham soal Kedatangan WN Cina di Masa Pandemi

Kata pepatah Cina, “wu ji bi fan” (物极必反): apa-apa yang sudah mencapai puncak, pasti akan terbalik

© barrons.com

SABTU 23 Januari kemarin, Bandara Soekarno-Hatta menerima kedatangan 153 warga negara (WN) Cina dan 18 warga negara Indonesia yang tiba dengan menggunakan pesawat China Southern Airlines CZ 387 dengan rute penerbangan Guangzhou-Cengkareng.

Publik heboh. Apalagi setelah dikompori oleh Said Didu, pentolan KAMI yang katanya adalah akronim dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia. Entah menyelamatkan dari apa. Menyelamatkan (dari) kepentingan kelompoknya?

Seperti lele yang seharian tidak makan lalu dipakani kotoran ayam, Said langsung trengginas mengoceh di Twitter miliknya, @msaid_didu.

“Katanya dilarang pendatang dari LN. Berarti China sdh bukan LN?.” Demikian ocehan Said (25/1/2021).

Ribuan like dan retweet membanjiri twit-nya itu. Mereka bersorak-sorai bak habis menonton pertunjukan topeng monyet.

Roy Suryo, mantan politikus Partai Demokrat, tak mau ketinggalan. Bekas Menpora yang dengar-dengar memboyong panci, antena, matras, karpet, dan ribuan barang milik negara ketika dirinya tak lagi menjabat menteri ini juga ikut berceloteh.

“… Barusan Pemerintah Umumkan Perpanjangan Larangan utk Semua WNA masuk ke Indonesia, Kemarin ada 188 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok yg tiba di Indonesia … memakai baju Hazmat. Apa ini maksudnya?” tulisnya (24/1/2021).

Tak lama berselang, Roy yang lupa lagu kebangsaan Indonesia Raya itu melanjutkan ocehannya.

“… Berarti memang ada Pengecualian (baca: Pengistimewaan) utk TKA China … Ironis, disaat Jutaan TKI menganggur kena dampak pandemi, Ratusan TKA masih saja datang. Apalagi datang dari daerah asal COVID-19 ….”

Seakan belum puas, esok harinya Roy ngerumpi lagi.

“… 153 TKA (khusus) China dpt prioritas (baca: Keistimewaan) ditengah2 Penutupan Akses masuk ke Indonesia … Sementara 3.5jt TKI malah dirumahkan ditengah2 Pandemi ….”

Sungguh, girah bergibahnya benar-benar sudah layak jadi adminnya Lambe Turah.

* * *

Masalahnya, baik Said Didu maupun Roy Suryo sepertinya tidak malu mengasong IQ-nya yang kelewat tinggi itu. Padahal, kata pepatah Cina, “wu ji bi fan” (物极必反): apa-apa yang sudah mencapai puncak, pasti akan terbalik.

Buktinya, kalau mereka mau meluangkan waktu barang sejenak untuk membaca Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020, niscaya mereka akan tahu bahwa WNA pemegang Kartu Izin Tinggap Tetap (KITAP), Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS), visa diplomatik dan visa dinas, bukanlah termasuk orang yang dilarang ke Indonesia.

Peraturan tersebut bahkan diubah menjadi lebih fleksibel melalui Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2021 yang mulai berlaku per 26 Januari 2021 ini. Disebutkan di sana, WNA dengan pertimbangan dan izin khusus secara tertulis dari Kementerian/Lembaga, dapat diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia.

* * *

Lalu, tengoklah 153 WN Cina itu. Bukankah 150 orang di antaranya memiliki KITAS dan KITAP, sedangkan 3 orang lainnya memiliki visa diplomatik?

Kalau sudah begitu, dari segi legalitas, kedatangan WN Cina itu mestinya telah sesuai dengan prosedur yang berlaku dan tidak perlu dipersoalkan. Mempermasalahkannya hanya akan membikin sesat dan menyesatkan. “Dhollu wa adhollu“, kalau boleh meminjam sabda kanjeng rasul.

Pula, bukan cuma akan menghambat investasi, tetapi yang lebih parah, akan menghambat cita-cita besar preambule konstitusi yang mengamanatkan kita semua untuk turut dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH dengan mengenyahkan TKA China dari bumi Indonesia ini akan membuat Anda bersemangat? Seketika meningkatkan rasa nasionalisme Anda yang menggebu-gebu itu? Kalau jawabannya iya,...

Esai

Ketika Orde Baru Soeharto runtuh, indoktrinasi bahwa 'komunis itu jahat' tidak ikut runtuh

Kongkow

Meski pemerintah pusat giat memberantas barang KW, tapi pemerintah daerah 'terpaksa' tetap menjadi payung atau perisai bagi perusahaan pemalsu itu demi mengamankan posisi politiknya

Kongkow

Menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengajarkan dan menjaga tradisi