Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Kenangan dari Ji Kau Meh hingga Cap Go Meh

Menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengajarkan dan menjaga tradisi

© The Jakarta Post/Agus Dermawan T.

KOMUNITAS Tionghoa di kota Semarang mengawali perayaan Imlek 2 hari sebelumnya dengan berbelanja keperluan sembahyang di pasar Gang Baru pada tanggal ’29 Malam’ alias ‘Ji Kau Meh’ (二九暝).

Esok paginya, dilakukan ritual sembahyang di altar leluhur. Minimal 3 jenis daging, sam seng, disajikan: daging ayam, daging babi, dan ikan.

Lalu, pada malam tanggal 30, diadakan ‘tuan yuan fan‘ (团圆饭), makan malam bersama seluruh keluarga besar (reunion dinner). Hidangan yang harus disajikan adalah ikan. Sajian ini tidak boleh dihabiskan sebab ada ungkapan “nian nian you yu” (年年有余), tiap tahun ada keberlimpahan –alias tiap tahun ada surplus. (Ikan tidak boleh dihabiskan juga karena dalam bahasa Mandarin disebut ‘yu‘ [鱼] dan surplus juga disebut ‘yu‘ [余]; yang membedakan hanyalah hurufnya –red.)

Esoknya tanggal 1, Tahun Baru alias Sincia (新年), tiba.

Semua saling paicia (拜年) dan berbagi angpao. Yang muda mengunjungi yang tua. Saling bersoja. Saling mendoakan sambil berucap, “Sin chun kiong hie. Thiam hok thiam siu.” Artinya, “Selamat tahun baru. Banyak rezeki, panjang usia.”

Itu dalam dialek Hokkien. Dalam bahasa Mandarin kita berucap, “Gongxi facai. Shenti jiankang. Wan shi ru yi” (恭喜发财,身体健康,万事如意). Artinya, “Selamat tahun baru. Badan sehat. Semua urusan dimudahkan.”

* * *

Tahun ini adalah Tahun Kerbau (niu 牛). Tahun sebelumnya, 2020, adalah Tahun Tikus (shu 鼠).

Kalau shio sama, usia bisa sama, atau selisih kelipatan 12 tahun.

Perhitungan usia menurut shio selalu setahun lebih tua ketimbang usia sesungguhnya –karena bayi dalam kandungan sudah dianggap berusia setahun. Yang lahir tahun 2000, misalnya, tahun ini berusia 22, bukan 21.

* * *

Seminggu kemudian, tanggal 8, dilakukan ritual ‘Sembahyang Tuhan Allah’ atau ‘King Thi Kong‘ (敬天公), di mana kita berdoa mengucap syukur dengan mempersembahkan hidangan dan buah 12 macam di atas altar yang diatur tinggi menghadap langit, diapit tebu di kanan dan kiri. Ritual yang dibarengi sajian ciak jay atau vegetarian ini ditutup dengan doa bersama dan paikui (跪拜) 12 kali pas tengah malam.

Seminggu kemudian, atau 2 minggu setelah Imlek, sampailah pada perayaan Cap Go Meh pada tanggal 15.

Di malam bulan purnama yang pertama, hidangan akulturasi China-Jawa tersaji sangat indah menggoda selera. Ada lontong panjang bewarna hijau daun, diiris pipih dan bundar, menampilkan tengah yang putih, ditata rapi mengisi piring. Disiram opor ayam berkuah kental dengan lemak menggenang. Sambal goreng hati dan sayur lodeh terong ditambahkan hingga membanjiri rasa. Sayur rebung dengan wangi dan tekstur yang khas, kadang juga disediakan.

Yang tak pernah terlupa, ‘bumbu abing’ bewarna coklat tua, terasa kental dan gurih. Terbuat dari parutan kelapa, santan dan gula Jawa serta telur rebus. Bubuk kedelai yang telah disangrai bareng bawang ditaburkan beserta kerupuk udang dan emping yang telah diremuk. Kadang ditambahkan pula serundeng. Sungguh haujek tenan! Dan ini sajian khas peranakan Tionghoa. Di daratan China tak ada hidangan semacam ini.

Lontong Cap Go Meh adalah hidangan istimewa penutup rangkaian perayaan Imlek.

* * *

Jujur saja, sebuah ritual kerap menjadi romantisme yang syahdu dibaca, tapi sulit dijalankan. ‘Ji Kau Meh’ di pasar Gang Baru sudah tidak menarik lagi. Tempatnya kini gelap dan becek. Katanya ‘Go-Food’ saja, hidangan siap diantar. Ndak perlu masak, ndak perlu repot.

Saat ‘tuan yuan fan‘, ikan tidak menjadi keharusan. Kalaupun disajikan, lupa harus disisakan. Sering, malahan, makannya pindah di restroran; tidak di rumah orang yang dituakan. Repot, ndak ada pembantu.

Saat Sincia tiba, yang muda sudah tidak lagi bergegas mandi dan pakai baju baru. Malas-malasan bangun kesiangan. Sementara papa-mama sedari tadi menunggu hingga punggung serasa kaku di sofa ruang tamu.

Bersoja dengan cara yang benar. Apa masih ada yang ingat?

Telapak tangan kanan yang melambangkan ‘yin‘ (阴) dikepal, dibungkus telapak tangan kiri yang melambangkan ‘yang‘ (阳), lalu diangkat setinggi mata untuk menghormat yang lebih tua.

Sembahyang ‘King Thi Kong‘ jangan ditanya. Artinya saja banyak yang tidak tahu. Sebuah ritual untuk bersyukur atas rahmat yang telah dilimpahkan. Sembahyang menghadap ke langit membentang luas hingga tengah malam. Bersujud dan mengetukkan kepala 12 kali ke lantai. Sesekali kita perlu merasa kerdil dan tak berdaya.

Cap Go Meh menjadi ritual penutup. Dua minggu berpakaian merah. Lampion dinyalakan. Doa sekali lagi dipanjatkan. Khusus di kota Semarang, makan Lontong Cap Go Meh adalah keharusan.

Indah bukan?

Menjadi tanggung jawab kita semua, untuk mengajarkan dan menjaga tradisi.

Kalau bukan kita, lalu siapa?

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Sipur

    11 Februari 2021 at 7:01 am

    Seru sekali perayaan ini meski saya bukan tionghoa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?