Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Saya Tionghoa, dan Inilah 9 Kunci Sukses Ajaran Leluhur Kami

Tidak semua orang Cina/Tionghoa itu kaya. Yang melarat tidak sedikit juga, karena tidak mau menerapkan ajaran leluhurnya

© scbao.com

BERBICARA kesuksesan, setidaknya yang materiil, kemungkinan besar yang akan langsung terbersit di kepala kita adalah orang Cina –baik Cina sebagai negara maupun Cina sebagai bangsa (Tionghoa). Cina masih, dan mungkin akan selalu, diasosiasikan dengan kekayaan.

Namun begitu, sebagai orang Tionghoa saya perlu tegaskan satu hal dulu: tidak semua orang Cina/Tionghoa itu kaya. Yang melarat tidak sedikit juga.

Kenapa? Menurut saya karena mereka tidak mau menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan leluhurnya.

Pertama, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk selalu ingat kepada leluhur.

Cara mengingatnya adalah berupa persembahyangan tahunan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya ialah untuk mengingat jasa leluhur dan menjaganya baik-baik di dalam hati. Juga untuk melatih mereka yang masih kecil agar dapat dengan baik merawat tradisi dan menjaga serta bangga pada budaya sendiri. Sebab, bagi kami, budaya merupakan satu bentuk kekuatan sekaligus pemersatu dan penangkal perpecahan.

Jika dihubungkan dengan aspek  ekonomi, orang Tionghoa percaya leluhur mereka dapat membantu anak cucunya yang masih hidup di dunia.

Tetapi, menurut saya sebaiknya upacara persembahyangan leluhur tidak perlu dilakukan secara berlebihan. Sebagaimana nasihat orang bijak, “Berbuat baiklah kepada orang tua semasa mereka masih hidup, dengan begitu kita dapat menyampaikan kebaikannya kepada mereka langsung, bukan kepada arwah mereka.”

Soalnya, ada saja orang yang rajin bersembahyang kepada orang tuanya yang sudah meninggal, tetapi ketika masih hidup malah durhaka kepada keduanya. Ini, kan, kebalik?

Kedua, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk berlaku jujur, tidak menipu, dan/atau mencuri.

Perilaku seperti itu harus dilakukan baik dalam urusan bisnis maupun dalam hubungan antarmasyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Tempo hari saya menonton video Jack Ma (马云). Dia berkata bahwa kejujuranlah yang membawa Alibaba berjaya. Dia juga menekankan, kepercayaan amat sangat penting untuk dijaga. Dan memang begitulah orang tua kami mewanti-wanti kami tiap hari.

Ketiga, orang Tionghoa itu selalu dilatih tidak memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri.

Keempat, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk tahu membalas budi.

Kami senantiasa diajari untuk selalu mengingat dengan baik budi baik orang lain. Tidak menjadi kacang lupa kulit. Apapun kebaikan yang pernah kami terima, harus diingat dengan baik. Tidak boleh dilupakan begitu saja.

Karena itu, kami mempunyai ajaran ‘perbuatan baik berantai’. Yakni, seseorang membantu seseorang, lalu seseorang lain bertekad untuk membantu seseorang lainnya saat mereka mampu.

Kelima, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk selalu berterima kasih terhadap kebaikan yang mereka terima.

Sekecil apapun bantuan yang diterima, kami diajari untuk selalu mengucapkan terima kasih. Sebab, kita tidak selalu tahu dan mengerti dengan baik perihal usaha orang lain dalam membantu diri kita. Karena itu, kita mesti memberikan penghargaan dengan berterima kasih dengan perasaan yang tulus.

Keenam, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk menerapkan prinsip kesederhanaan dalam hidup. Tidak besar pasak daripada tiang.

Ini amat penting untuk menjaga keseimbangan hidup. Jika kita mau hidup sederhana, kita juga akan selamat dari persoalan hutang.

Penerapan prinsip kesederhanaan hidup secara lebih rinci adalah tidak latah dalam berbelanja makanan dan pakaian. Tidak melulu menginginkan makanan enak dan baju bagus. Tidak masalah jika makan bubur dan ikan asin. Tidak bersedih atau kecewa jika harus mengenakan baju yang lama/jelek sekalipun sudah robek/molor. Tidak malu memakai sepatu robek atau ikat pinggang yang sudah rusak. Tidak malu tinggal di rumah sederhana meski memiliki uang yang cukup.

Ketujuh, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk berbagi kepada orang lain, meski hanya sedikit.

Kedelapan, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk peduli kepada orang lain. Sebisa mungkin selalu berusaha membantu sesama. Tidak membiarkan orang lain melalui kesusahan dalam kesendirian. Berusaha memberikan arti walaupun sedikit. Berusaha meringankan beban meski hanya sedikit.

Kesembilan, orang Tionghoa itu selalu dilatih untuk disiplin. Tidak seenaknya dalam menggunakan waktu.

Misalnya, kami dibiasakan untuk tidak menunda sesuatu yang penting, tidur lebih cepat dan bangun lebih awal. Kalau berjanji, sebisa mungkin ditepati.

Jika terpaksa berhutang, tidak membuat hutang yang terlalu besar tanpa kalkulasi yang tepat, dan sesegera mungkin membayar kalau sudah memiliki uang.

Kami dididik untuk tidak bermental miskin. Contohnya, selalu ingin dibantu atau menganggap diri sendiri susah. Berusaha selalu tampil rapi dan bersih meksi tidak mewah.

Sebenarnya, masih banyak prinsip-prinsip hidup lainnya yang diajarkan leluhur dan melekat dalam tiap diri orang Tionghoa seperti saya. Di antaranya: rajin belajar, tekun berusaha, tidak mudah menyerah, tidak malu bertanya, tidak gengsi dalam pekerjaan, bersemangat dalam menabung.

Kami sering dibilang medit alias pelit karena terlalu semangat menabung itu, mungkin, ya?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?