Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Pengalaman Mengajar di Pesantren Kilat di Cina

Mengapa jubah dan cadar hitam sangat populer di Cina, dibandingkan dengan di kota saya di Banten? Siapa yang mempopulerkannya? Apa ini memang kebudayaan Islam di Cina?

© whatsonweibo.com

KETIKA PERGI ke Nanjing pada 2017, saya tahu bahwa ada satu kebiasaan dari Indonesia yang belum bisa saya lepaskan. Rutin ikut komunitas relawan selama bertahun-tahun, membuat saya tidak bisa membayangkan betapa hampanya minggu tanpa interaksi dengan anak-anak.

Saya mencoba mengikuti kegiatan volunteer di sebuah masjid—tapi, karena bahasa Mandarin yang buruk, saya hanya bisa bengong. Hehehe.

Di kota yang kerap turun salju ketika musim dingin tiba ini, saya mengenal seorang gadis muslim lokal yang menjadi teman berpetualang saya. Panggil saja namanya Hadija. Usianya setahun lebih tua dari saya, gemar memakai pakaian pastel berwarna merah jambu, tidak memiliki produk riasan wajah satu pun, sangat jarang menggunakan earphone-nya, dan saya yakin, hampir tidak pernah swafoto.

Hadija hanya mau makan sesuatu yang ada label halalnya, pergi ke masjid beberapa kali setiap minggunya dan selalu memakai kerudung, kecuali saat di ruang kelas.

* * *

Saya lupa tepatnya apa, namun ada liburan yang cukup panjang, dan Hadija mengatakan bahwa ia menggunakan liburan itu untuk pergi bersama teman-teman muslim lokal untuk pesantren kilat (sanlat) ke suatu kota. Wah, saya sangat ingin ikut!

Namun, Hadija telah memesan tiket itu jauh hari sebelum cukup karib dengan saya; dan jika saya bersikeras ikut, maka ketika memesan tiket kereta, saya akan duduk sendirian, jauh dari gerbong Hadija. Terlalu berbahaya.

“Tapi, di kotaku, setiap liburan musim panas, anak-anak dari berbagai provinsi datang untuk ikut sanlat. Namanya shujia ban (暑假班) atau kelas musim panas. Kamu mau ikut yang itu? Bukan cuma belajar, kamu bisa ikutan ngajar,” katanya. “Yuk ah, kesana saja, kamu harus lari dari Nanjing di musim panas—panasnya membakar, bisa sampai 42 derajat.”

Nampaknya saya memang harus lari dari Nanjing. Tapi, mengenai ajakannya, saya hanya mengiyakan tanpa mengungkit-ungkitnya lagi. Too good to be true. Tapi saya jadi menemukan harapan; mungkin, suatu saat saya akan dapat mengajar lagi, meski di Cina.

* * *

Musim panas 2017, saya menyeret koper saya yang berat, berlari-lari di peron mengejar kereta bersama Hadija dalam perjalanan menuju kotanya di provinsi Shanxi. Kami dijemput keluarganya di suatu siang—setelah melewati dua hari satu malam yang tak lepas dari drama. Ya ampun, bukan main lucunya kala itu—saya ingat bawa bekal lima butir telur rebus yang saya makan selama satu hari.

Pagi harinya, keluarga Hadija sering mengajak makan di luar—kami berkeliling dari tempat sarapan halal yang satu ke yang lainnya. Menaiki motor listrik, Hadija juga mengajak saya ke rumah nenek dan kakeknya yang berbentuk siheyuan (四合院), dengan bibi dan pamannya yang juga tinggal di sana.

Ayah Hadija izin tidak masuk kerja dan menemani saya dan Hadija bersepeda mengelilingi delapan masjid dalam satu hari, dan hanya satu dua masjid yang tampak agak kusam—lainnya megah semua.

Lucunya, saya secara halus tidak diizinkan mandi di rumah Hadija. Setiap kali ingin mandi, saya harus pergi ke salah satu dari dua masjid yang terlihat dari balkon kamar Hadija—saking dekatnya kedua masjid tersebut. Saya menemukan bahwa banyak muslim lain di daerah ini seperti itu. Kamar mandi di rumah mereka tidak pernah dipakai mandi (kecuali untuk anak kecil dan bayi), dan jika ingin mandi, mereka akan pergi ke masjid.

Dan, perihal kamar mandi di masjid di Cina ini sungguh lucu bukan main. Ada bilik mandi, ada bilik BAK, ada ruangan BAB (yang biasanya dinding dan tinggi pintunya hanya setengah), dan ada tempat wudhu.

* * *

Di hari ketiga, Hadija telah mengajak saya menemui guru yang bertanggung jawab mengatur shujia ban di masjid X, tempat di mana saya akan menginap satu bulan lamanya. Luas perkomplekan masjid tersebut jika ditotal dapat memuat lima lapangan bola.

Komplek masjid laki-laki adalah pusatnya. Di samping gerbang utama, terdapat warung serba ada yang menjual kerudung, kitab, abaya hitam, hingga berbagai makanan halal, gedung kantor, gudang, perpustakaan kecil, tempat tinggal para ahong (阿訇), dua gedung kelas bertingkat dua dan tiga dengan aula di dalamnya, serta sebuah gedung asrama murid laki-laki.

Sekadar info, “ahong” adalah bahasa Mandarin untuk ustaz atau kiai. Konon diserap dari bahasa Persia: “akhund” (آخوند‎).

Di depan gedung kelas, ada arena bermain anak-anak dan lapangan badminton. Sementara di belakang masjid laki-laki terdapat jalan turunan menuju kantin dan dapur masjid.

Komplek musala perempuan berbentuk siheyuan; dengan aula di lantai dua. Terdapat kantor, gudang, ruang-ruang kelas, musala, kamar mandi, ruang tidur untuk para murid dan guru perempuan serta tempat menjemur pakaian. Kamar mandi umum perempuan memiliki 35 keran wudhu dan sepuluh bilik mandi dan beberapa toilet.

Saya diberikan satu kamar terluas dengan seorang tenaga pengajar muda lain, perempuan usia 22-an (saat itu saya 19 tahun) yang hampir setiap malam menelepon pacarnya yang setelah saya ingat-ingat, belum pernah ditemuinya (lho, kok julid). Ia selalu berabaya hitam. Kulitnya bening dan rambutnya coklat ikal. Saya baru tahu kalau ada orang Cina berambut ikal.

Kamarnya berdebu, dan dindingnya penuh noda. Terdapat satu ranjang, satu kasur yang digelar untuk saya tidur, satu kipas angin, sebuah meja kerja dengan satu kursi hitam besar, dan banyak kasur dan bantal yang bau debu bertumpukan di sudut. Mayoritas guru perempuan yang lain tinggal satu kamar dengan peserta sanlat. Satu kamar berisi belasan ranjang susun, dan sirkulasi udaranya tidak baik. Anak-anak usia TK atau awal SD tinggal di lantai bawah bersama seorang pengajar yang terus menerus menemani dan mengurusi mereka.

Santri sedang latihan salat © Nabila N Harris

Ada sekitar lima belas pengajar muda di sana, sementara total jumlah murid sekitar 150 orang, dengan range umur sangat bervariasi, dari usia TK hingga yang sudah lulus SMA dan bekerja. Kecuali saya dan Hadija, semua pengajar wanita memakai abaya hitam!

Anak-anak diberi beberapa buku seperti tuntunan salat, rukun iman, dan lain-lain. Saya mengajar bahasa Inggris, dan terkadang diajak pengajar lain menemaninya mengajar anak-anak menghafal surah pendek dan doa-doa. Sore harinya, kadangkala ada anak-anak yang rupanya bersemangat belajar bahasa Inggris datang ke kamar saya. Kadang, saya diajak anak-anak yang sudah SMA bermain badminton di kompleks masjid laki-laki.

* * *

Setiap pukul sepuluh malam, lampu kamar anak-anak akan dimatikan dan keadaan menjadi hening. Setelah salat subuh, kami yang di kompleks musala perempuan akan naik lagi ke aula untuk mendengarkan ceramah pagi dari salah satu pengajar. Setelah itu, anak-anak akan bersiap mandi dan pergi makan ke kantin di kompleks masjid laki-laki.

Menunya selalu mengandung protein, karbohidrat dan sayuran. Kami membawa piring dan botol minum sendiri yang juga kami cuci sendiri di kantin. Kecuali anak TK, peserta sanlat juga mencuci baju sendiri—terdapat satu mesin cuci yang dipakai bersama di kamar mandi.

* * *

Dari lima belas teman-teman pengajar, saya baru tahu bahwa ada tiga pasang yang sudah melangsungkan akad nikah. Beberapa kali saya diajak teman-teman pengajar perempuan ke kamar calon ahong-ahong muda itu ketika suami mereka tidak ada, sembari disuguhi panganan dari kampung halaman mereka dan menyaksikan mereka membersihkan kamar para calon ahong.

“Resepsinya nanti, ketika aku sudah berumur 22 tahun,” kata Salwa, teman saya dari Xi’an yang mana ialah anak seorang ahong. Entah mengapa harus di usianya yang 22, padahal usia minimum pernikahan di Cina bagi perempuan, kan, 20 tahun. Salwa, seperti kebanyakan pengajar perempuan lainnya, tidak berkuliah, melainkan fokus berbisnis. Sementara para calon ahong muda itu kebanyakan tengah berkuliah.

Ustazah menuliskan materinya © Nabila N Harris

Ketika tidak ada kelas dan bosan di kompleks masjid, saya pergi ke beberapa masjid lain yang cukup dekat lokasinya, dan menemukan bahwa beberapa masjid lain juga membuka shujia ban. Kadang Hadija mengajak saya ke rumah saudaranya, dan di jalan kadang kami berpapasan dengan perempuan-perempuan berjubah dan bercadar hitam dengan tasbih digital di jarinya.

Teman-teman pengajar lain digaji, namun saya tidak tercatat administrasi, sehingga tidak menerima uang—namun jangan ditanya barang materiil dan non materiil apa saja yang saya terima.

Saya rasa, ini ibarat sanlat di Indonesia—diatur oleh kepanitiaan anak-anak muda.

Apa ini wajah Islam modern di Cina—mereka yang tidak punya kesempatan untuk belajar agama secara penuh waktu, namun tetap berusaha untuk mengenal ajaran Islam?

Saya hanya agak heran, mengapa jubah dan cadar hitam sangat populer di sini, dibandingkan dengan di kota saya di Banten? Siapa yang mempopulerkannya? Apa ini memang kebudayaan Islam di Cina?

* * *

Beberapa hari sebelum shujia ban selama 22 hari itu berakhir, anak-anak rajin berlatih untuk tampil di acara penutupan. Ketika hari H tiba, mayoritas orangtua anak-anak datang. Setelah penutupan, kami merayakannya dengan makan huoguo (火锅, hot pot) halal.

Sedih rasanya ketika anak-anak dan teman-teman pengajar lainnya pulang ke kampung halamannya lagi. Saya memang masih diizinkan tinggal di kompleks musala perempuan, di lantai bawah pun ada ayi (阿姨, bibi) yang menjaga musala bersama anak-anaknya—namun, masjid akan melaksanakan kegiatan lain dengan peserta dan pengajar baru. Ruang saya tinggal akan dipakai pengajar baru, sehingga saya kembali tinggal di rumah Hadija.

Namun Hadija  tengah magang dan ayah-ibunya yang bekerja membuat saya sering sendirian di rumahnya. Saya pun tidak enak merepotkan, sehingga bersikeras ingin menyewa kamar di luar—toh banyak yang menyewakan kos-kosan. Tapi orangtua Hadija bersikeras melarang. Saya akhirnya diuruskan untuk tinggal di sebuah pondok yang juga menerima musafir muslim yang menetap sementara.

* * *

Saya diwanti-wanti Ibu Hadija sepanjang perjalanan bersama Hadija menuju ke masjid baru. “Jangan bilang ya kalau kamu orang asing. Ayi takut ada orang-orang dari daerah yang tidak bisa menerima. Pengurus masjid tentu saja tahu, tapi kita mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi saja.”

Ternyata, orang asing tidak diperkenankan tinggal maupun mengajar. Saya rasanya bagai tersambar gledek, dan ingin protes kepada Hadija, kenapa tidak bilang ke saya dari awal?

Hadija terdiam. “Ya, kalau aku bilang nanti kamu takut,” katanya. Ia tidak khawatir karena muka saya yang Indonesia ini mirip dengan suku minoritas Muslim di Cina.

Dari situlah saya baru tahu, bahwa setiap orang pemerintah datang memantau kegiatan shujia ban di masjid X, saya sengaja tidak diberi jadwal mengajar.

Alamak, saya takut sekali saat itu karena merasa sudah melanggar hukum. Rasanya bodoh sekali, bisa-bisanya tidak berpikir sampai ke situ.

Saya rasa, di Indonesia pun, saya tak ingin jika ada sembarang pengajar-pengajar dari negara asing yang mengajarkan hal yang berkaitan dengan agama kepada orang-orang Indonesia. Kan, takutnya pengajarannya tidak cocok dengan budaya sini, atau nilai-nilainya berbeda.

Oh ya, di masjid kedua ini saya tinggal di satu ruangan bersama sekitar enam belas perempuan lainnya dari berbagai umur. Kami tidur mengampar—tidak ada ranjang tingkat untuk para musafir yang datang dan pergi. Mereka datang dari berbagai provinsi untuk belajar mengaji. Dan urusan makan, tempat tinggal, semua ditanggung masjid!

* * *

Begitulah pengalaman empirik saya di tahun 2017. Tapi, kini telah terdapat peraturan-peraturan baru terkait pendidikan agama, sehingga kisah saya ini hanyalah satu fragmen yang tak akan mampu mewakili potret Islam di Cina secara keseluruhan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...

Ramadan

TURKI di bawah kepemerintahan Erdoğan, pada penghujung tahun 2020 lalu, dituduh telah membarter pelarian Uighur di negaranya dengan vaksin COVID-19 ”made in China”. Tuduhan...