Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Kongkow

Ngobrol tentang Uighur dan ‘Kamp Konsentrasi’ bersama Novi Basuki

Di Indonesia isu Uighur selalu di-framing sebagai benturan antara Islam versus komunis, tapi kaum Uighur pada tahun 1940-an malah mendirikan pemerintahan independen yang disokong penuh oleh Soviet dedengkotnya komunisme dunia

© thesil.ca

ISU MENGENAI penindasan pemerintah komunis Cina terhadap muslim Uighur di Provinsi Xinjiang terus mengemuka dan menjadi perhatian banyak kalangan di dunia. Negara-negara Barat, utamanya Amerika, mengutuk keras pemerintah Cina karena dinilai telah memperlakukan muslim Uighur semena-mena dengan menjebloskan mereka ke dalam kamp konsentrasi. Sementara negara yang mayoritas penduduknya muslim, tampaknya masih bersikap hati-hati dalam menyikapi hal ini.

Apa yang sebenarnya terjadi? Transbisnis mewawancarai Novi Basuki, mahasiswa Indonesia yang pendidikan sarjana hingga doktoralnya ditempuh di Cina dan tulisan-tulisannya tentang Uighur kerap menuai kontroversi, untuk menanyakan tiga pertanyaan ringkas tapi dijawabnya dengan panjang lebar ini.


Transbisnis: Anda banyak menulis soal Uighur dan Xinjiang. Bisa diceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sana?

Novi Basuki: Dibandingkan dengan wilayah lain yang didominasi muslim bersuku Hui seperti Ningxia, Qinghai, dan Gansu, Xinjiang jelas tidaklah sestabil wilayah-wilayah itu. Tapi, kalau dibilang Xinjiang sepenuhnya bergejolak seperti yang diberitakan banyak media mainstream dunia, saya kira tidak seseram itu juga.

Permasalahan kaum Uighur yang mendiami Xinjiang itu harus ditempatkan secara proporsional. Banyak dimensi yang harus kita perhatikan. Dimensi historis, dimensi sosiokultural, bahkan dimensi geopolitik, macam-macam. Mengkaji masalah Uighur dan Xinjiang semata dari pendekatan agama saja tidak akan berimbang.

Coba saya tanya: di Indonesia kan isu Uighur selalu di-framing sebagai benturan antara Islam versus komunis, tapi bagaimana Anda menjelaskan kaum Uighur yang pada tahun 1940-an mendirikan pemerintahan independen bernama Republik Turkestan Timur dan pemerintahan ini disokong penuh oleh Soviet yang kita semua tahu itu adalah dedengkotnya komunisme dunia? Petinggi-petinggi pemerintahannya pun, sebut saja Ehmetjan Qasim dan Abdulkerim Abbas, itu kan orang-orang komunis. Komunis yang sekaligus Islam. Muslim syuyu’i lah kalau kita mau pakai bahasa Arab.

Transbisnis: Tapi kan kamp konsentrasi masif dibangun pada zaman komunis berkuasa?

Novi Basuki: Pendekatan historis sangat perlu kita pakai untuk melihat permasalahan ini. Pemerintah komunis Cina tidak ujug-ujug membangun itu. Ada sebab-akibat. Bukan kun fayakun mau bangun langsung bangun. Ada evolusinya.

Ringkas ceritanya begini. Selama 60 tahun terhitung sejak 1949 sampai 2010, rata-rata yang menjadi petinggi Xinjiang adalah orang-orang yang bertangan besi. Di antara mereka, yang paling ternama dan terlama menguasai Xinjiang adalah Wang Lequan. Sampai-sampai dia dijuluki ”Xinjiang Wang”, Pangeran Xinjiang.

Wang Lequan menjadi penguasa Xinjiang ketika ETIM, East Turkestan Islamic Movement, sedang gencar-gencarnya melakukan beragam aksi. ETIM belakangan dilabeli sebagai kelompok teroris sama Amerika. Nah, Xinjiang menjadi sangat tidak kondusif.

Jalan keluarnya bagaimana? Wang Lequan pakai tangan besi. Gigi lawan gigi. Ada Uighur yang bikin rusuh, tangkap, jebloskan ke penjara, atau langsung didor saja. Pakai cara-cara militeristik lah, intinya.

Berhasil? Iya, kalau dilihat dari segi kondusivitas. Tapi, kalau dilihat dari segi pemerataan ekonomi, tidak begitu. Kenapa? Karena anggaran daerah lebih banyak dialokasikan untuk keamanan dibanding untuk pembangunan. Akibatnya, terjadilah kesenjangan sosial antara Uighur dan orang-orang Cina bersuku Han di Xinjiang.

Kesenjangan sosial ini akhirnya mencapai puncaknya, mengeskalasi menjadi kerusuhan horizontal berdarah-darah pada tahun 2009. Tepatnya tanggal 5 Juli. Makanya disebut sebagai Insiden 5 Juli. Selengkapnya Anda bisa cek sendiri nanti di internet.

Nah, pemerintah komunis Cina kemudian sadar, ternyata gigi lawan gigi bukanlah cara yang efektif untuk meredam gonjang-ganjing di Xinjiang. Lebih banyak mudaratnya, ternyata. Akhirnya mereka coba pakai pendekatan kesejahteraan sosial. Wang Lequan dicopot, diganti Zhang Chunxian pada tahun 2010.

Zhang Chunxian ini memerintah dengan cara-cara kalem. Uighur diayomi. Dikasih bantuan. Dia sering blusukan ke rumah-rumah warga. Pejabat-pejabat Xinjiang juga diminta belajar bahasa Uighur biar bisa sering-sering bercengkerama dengan penduduk. Iduladha sama Idulfitri pun dijadikan hari libur. Coba Anda cari, mana ada hari raya keagamaan apa pun di Cina yang dijadikan hari libur begitu, kecuali di Xinjiang?

Sayangnya, pendekatan yang bersifat akomodatif itu ternyata juga tidak berhasil. Buktinya, 30 April 2014, tepat pada hari terakhir kunjungan Presiden Xi Jinping ke Xinjiang, Uighur melakukan penyerangan dan bom bunuh diri di Stasiun Kereta Ürümqi Selatan. ETIM mengaku bertanggung jawab atas aksi terorisme ini. Hampir sebulan berselang, 22 Mei 2014, terjadi peledakan oleh Uighur lagi yang menewaskan sedikitnya 39 orang di salah satu pasar pagi Ürümqi. Ini belum termasuk penyerangan dan peledakan yang terjadi di daerah lain seperti Stasiun Kereta Api Kunming, Yunnan, dan Lapangan Tiananmen, Beijing.

Zhang Chunxian akhirnya didepak, digantikan oleh Chen Quanguo sejak tahun 2016. Nah, di masa Chen Quanguo inilah digalakkan apa yang disebut sebagai ”pusat pendidikan vokasi”, yang oleh media disebut ”kamp konsentrasi” itu.

Chen Quanguo ini pakai cara tengah-tengah. Zhongyong, kalau kata Konfusius. Atau wasathiyah kalau dalam istilahnya Nahdlatul Ulama (NU). Kenapa saya bilang begitu? Karena dengan ”pusat pendidikan vokasi” ini, Chen Quanguo tidak menempuh jalur militeristik ala Wang Lequan, tapi tidak juga menempuh jalur kesejahteraan ala Zhang Chunxian.

Mereka yang dipandang punya paham keagamaan radikal, separatisme, dan terorisme, misalnya, tidak dibui, tapi juga tidak dibebaskan dengan pemberian insentif ekonomi. Mereka dimasukkan ke ”pusat pendidikan vokasi” untuk diajari bahasa Cina, hukum, nasionalisme, dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Nanti, setelah keluar dari sana, diharapkan mereka bisa lebih mudah terserap dalam sengitnya kompetisi lapangan kerja. Di dalamnya saya yakin ada ”murid” yang nakal dan yang tunduk. Terhadap yang nakal, kemungkinan akan diperlakukan keras seperti guru-guru zaman old memperlakukan anak didiknya. Tujuannya tiada lain demi kebaikan mereka. Ini kalau dari kacamata HAM bagaimana? Wah itu bakal panjang urusannya. Sekarang guru nyubit murid saja bisa dipenjara, tapi murid berlaku tidak sopan ke gurunya dianggap kenakalan remaja saja, kan?

Transbisnis: Kompleks sekali ya ceritanya. Tapi di Indonesia, narasi yang berkembang banyak bersumber dari tulisan-tulisan Adrian Zenz, Gene Bunin, RFA, New York Times, dll. yang menceritakan betapa mencekamnya ”kamp konsentrasi” itu…

Novi Basuki: Saya kira isu Uighur ini juga bisa dikaji dalam kerangka yang lebih besar. Misal dalam kerangka rivalitas antara Barat, katakanlah Amerika, versus Cina. Amerika sedang relatif menurun, sedangkan Cina sedang bangkit. Dalam teori HI dikenal istilah ”powershift”, pergeseran kekuatan, dari established power, dalam hal ini Amerika, ke rising power, dalam hal ini Cina.

Bagaimana supaya kekuatan Amerika sebagai hegemon dunia tidak bergeser ke Cina? Perang, atau bendung (containment), caranya. Dulu ketika dengan Soviet, Amerika pakai cara containment itu. Sekarang dengan Cina, sepertinya juga pakai cara yang sama: bendung kebangkitan Cina. Koran Kompas tanggal 23 Oktober 2020 kemarin itu ada judul tebal di rubrik internasional: ”AS Ingin RI Tangkal China”. Itu salah satu contoh bagaimana Amerika hendak membendung kebangkitan Cina. Di Asia Tenggara, mereka memainkan isu Laut Cina Selatan. Di Asia Timur Laut, mereka memainkan Taiwan, Jepang, dan Korea. Di Asia Selatan, mereka memainkan India. Di Asia Barat bagaimana? Tenang, mainkanlah ini: isu Xinjiang. Politisasi agama. Agamaisasi politik. Eureka!

Lalu apa kaitannya dengan Zenz, Bunin, dan RFA? Zenz bekerja di Victim of Communism Memorial. Dari nama lembaganya saja Anda bisa tebak lembaga ini bagaimana. Fungsinya mungkin tidak jauh berbeda dengan film Pengkhianatan G30S/PKI sejak Orde Baru. Selanjutnya Anda juga bisa telusuri lembaga itu didirikan oleh siapa dan untuk apa. Tapi intinya, lembaga Zenz ini dulu punya andil yang cukup besar dalam containment terhadap Soviet dan terhadap upaya menggagalkan pendekatan (détente) dengan Soviet.

Bunin? Dia awalnya menekuni ilmu eksakta di Amerika, tapi tiba-tiba banting setir mempelajari Uighur, lalu dianggap sebagai sumber kebenaran. Ini mirip di Indonesia: kan sering terjadi ada mualaf dielu-elukan jauh lebih paham Islam ketimbang para ulama, kan? Infonya, sebelum pindah ke Kazakhstan, Bunin memang pernah tinggal di Xinjiang, mengajar bahasa Inggris. Yang menarik itu, dia mendirikan situs database yang isinya konon adalah orang-orang Uighur yang hilang atau dimasukkan ke ”kamp kosentrasi”. Itu lengkap sekali di website bikinannya itu. Sampai kartu identitasnya juga ditampilkan jelas. Juga kondisi kesehatan terkini orang yang hilang/ditangkap itu. Tapi kadang lucu juga, kok bisa dia tahu kondisi kesehatan terkini orang itu kalau orang itu hilang/ditangkap? Dan ironis juga, sebenarnya. Kartu identitas itu kan privasi. Sedangkan pejuang HAM mestinya menjunjung tinggi privasi, kan? Yang tak kalah menarik juga, Bunin dan timnya bisa punya data selengkap itu bagaimana caranya? Saya kira, selain dana yang masif, perlu jaringan khusus yang punya akses sampai sejauh itu.

Kalau RFA alias Radio Free Asia, saya kira sudah sangat jelas. Tengok saja laporan New York Times edisi 26 Desember 1977. Di sana terang-terangan dibilang radio ini merupakan ”worldwide propaganda network built by the C.I.A” semasa Perang Dingin. Tujuannya untuk apa? Masak masih mau tanya?

Saya jadi teringat kata Karl Marx yang bilang sejarah bisa berulang. Dulu, tahun 1940-an, Soviet mendukung penuh Uighur untuk memberontak karena Soviet tidak puas pada pemerintah Cina. Waktu itu Cina masih dikuasai Partai Nasionalis Kuomintang. Soviet gencar bikin propaganda mendiskreditkan pemerintah Cina, sambil lalu mengompori Uighur untuk memberontak.

Sekarang bagaimana? Saya kira wayangnya tetap sama: Uighur. Caranya juga tetap sama: diskreditkan pemerintah Cina. Dalangnya siapa? Ini Anda jawab sendiri saja.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Penyebab Masyarakat Indonesia Lebih Percaya Mitos Ketimbang Fakta Tentang China – International Relations BINUS University

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca tiga tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur dan Xinjiang Sebelum...

Ramadan

SELAIN melahirkan pujangga besar bernama Yūsuf Khāṣṣ Ḥājib, Kesultanan Kara-khanid juga mencetak leksikograf (ahli perkamusan) agung bernama Maḥmūd al-Kāšġarī. Mahakaryanya: Dīwān Lughāt al-Turk (Kamus...

Ramadan

RAMADAN dua tahun lalu saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur, tempat lahir petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama...