Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Akankah Terjadi Perang di Selat Taiwan?

© theamericanconservative.com

KETUA DPR Amerika Nancy Pelosi ngotot melawat ke Taiwan (2/8). Tindakannya membuat Republik Rakyat China (RRC) geram sekaligus memicu eskalasi ketegangan RRC-Amerika dan hubungan lintas Selat Formosa. Apalagi, Pelosi melakukan serangkaian pertemuan politis: dari petinggi parlemen Taiwan hingga “Presiden” Taiwan Tsai Ing-wen.

Pelosi memang sudah lama dikenal sebagai politikus yang anti-China –tepatnya: pemerintah RRC yang komunis. Dan kini, ia menjadi pejabat tertinggi Amerika pertama yang melakukan lawatan ke Taiwan selama seperempat abad terakhir. Kunjungan yang bersejarah; namun, kata Thomas L. Friedman dalam esainya di The New York Times (1/8), “kelewat sembrono” (utterly reckless).

Tak heran bila pemerintah RRC membalasnya. Mungkin karena Dai Sheng, seorang terpelajar yang hidup pada masa Dinasti Han Akhir, mengajarkan mereka, “来而不往非礼也 lai er bu wang fei li ya” (kalau tidak merespons ketika dipancing, itu tidak sopan namanya).

Pada malam Pelosi tiba di Taiwan, Xie Feng, wakil menteri luar negeri RRC yang pernah menjadi dubes RRC untuk Indonesia, langsung memanggil duta besar Amerika di Beijing untuk menyampaikan protes. “Pelosi sengaja main api. RRC tidak akan tinggal diam,” tegas Xie.

Di samping Kemenlu, ada Kemenhan, DPR, MPR, dan Komite Sentral Partai Komunis China Urusan Taiwan (Guotaiban) yang juga serempak mengecam. Otoritas-otoritas tersebut menyatakan, Pelosi telah “melakukan pelanggaran serius terhadap prinsip ‘Satu China’ dan aturan yang telah ditetapkan dalam tiga komunike bersama RRC-Amerika” di mana Amerika hanya mengakui RRC sebagai pemerintah yang sah dan relasinya dengan Taiwan cuma sebatas kebudayaan dan perekonomian, bukan pemerintahan.

Dengan menyambangi Taiwan dalam kapasitasnya sebagai ketua DPR, mereka menilai Pelosi telah “menyerobot dengan kasar kedaulatan dan keutuhan wilayah RRC.” Itu sama halnya dengan “bermain api yang berbahaya sekali. Dan, barang siapa yang bermain api, pasti akan kebakaran sendiri.” Untuk itu, lanjut pernyataan lembaga-lembaga ini, “RRC pasti akan mengambil semua langkah yang diperlukan, untuk melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah negara [RRC]. Adapun segala akibat yang ditimbulkan, harus ditangggung oleh Amerika dan kelompok separatis Taiwan.”

Bukan gertak sambal belaka. RRC segera mengumumkan digelarnya latihan militer besar-besaran dengan peluru sungguhan selama lima hari –yang dimulai sejak Kamis (4/8). Jika dilihat dari enam titik tempat latihan dimaksud, tampak jelas itu merupakan simulasi perang mengepung Taiwan dari arah barat, timur, selatan, dan utara. TKP-nya dari Kaohsiung, kota terbesar di Taiwan bagian selatan, hanya 20 km.

Akan perang?

Latihan militer RRC membidik Taiwan yang dipicu oleh polah Amerika ini, mengingatkan kita kepada Krisis Selat Taiwan Ketiga yang terjadi pada 1995-1996. Kala itu, Amerika memberikan visa kepada Lee Teng-hui, “presiden” Taiwan, untuk berkunjung ke Amerika guna memenuhi undangan dari Cornell University, almamater Lee. RRC murka. Dikerahkanlah pasukan untuk menggelar latihan perang di perairan dekat Taiwan. Tak mau kalah, Amerika mengirim dua kapal induknya. Ketegangan pun mereda.

Sebelumnya, kalau bukan karena Amerika, RRC hampir saja menggempur Taiwan –saat RRC belum setahun merdeka. Semuanya sudah disiapkan matang oleh Mao Zedong. Sekalipun dirinya menyadari bahwa, seperti pernah diakuinya kepada politisi senior Uni Soviet Anastas Mikoyan, penyerangan terhadap Taiwan yang merupakan wilayah kepulauan, tak semudah menaklukkan wilayah daratan. Terlebih lagi, kata Mao, “Taiwan sebenarnya berada di bawah perlindungan imperialis Amerika.”

Sayangnya, pada pertengahan tahun 1950, pecah Perang Korea. Amerika memberangkatkan pasukannya untuk mem-back up Korea Selatan. Armada Ketujuh Amerika (Seventh Fleet) juga dilepaskan ke Taiwan untuk membendung RRC bergerak lebih dalam. Mao terpaksa mengurungkan niatnya “memerdekakan Taiwan”. Beralih menolong Korea Utara memukul mundur serdadu Amerika.

Belajar dari krisis-krisis di atas, diprovokasi bagaimanapun oleh Amerika, naga-naganya RRC tetap akan bisa menahan diri untuk menyelesaikan masalah Taiwan ini dengan jalur militeristik. Sepanjang Taiwan tidak memproklamasikan kemerdekaannya, RRC sepertinya tetap akan memilih jalan damai untuk mereunifikasi Taiwan.

Tentu, tak menutup kemungkinan ke depannya RRC akan menggunakan “wortel” (carrot) dan “tongkat” (stick) secara bersamaan. Dalam artian, tekanan militer ada, tekanan ekonomi pun ada.

Kita tahu, ekonomi Taiwan mempunyai ketergantungan yang cukup besar terhadap China daratan. Ekspor Taiwan ke China daratan terus meningkat: dari yang sekitar USD 40 miliar pada 2000, menanjak menjadi USD 156 miliar pada 2020. Porsinya pun begitu: ekspor ke China daratan menempati hampir 44% dari keseluruhan ekspor Taiwan ke mancanegara. Kalau China daratan menyetop mengimpor barang dari Taiwan, bisa kita bayangkan kalang kabutnya mereka.

Bergantung Amerika

Perang Rusia-Ukraina telah terlalu menyiksa kita semua. Kita berharap, di Selat Formosa sana tidak sampai pecah konflik terbuka antara China daratan dan Taiwan (yang disokong Amerika). Sebab, cepat atau lambat, Indonesia pasti akan terkena imbasnya –mengingat secara geopolitik dan geoekonomi, kedua entitas ini begitu dekat dengan Indonesia. Kita menolak “Rusiaisasi” RRC dan “Ukrainaisasi” Taiwan oleh pihak manapun.

Dari dulu hingga kini, stabil/tidaknya hubungan lintas selat sangat bergantung kepada Amerika. Pasalnya, sikap China daratan terhadap Taiwan adalah reaksi dari bagaimana Amerika menempatkan Taiwan dalam politik luar negerinya. Atau lebih gamblangnya: apakah Amerika mendukung Taiwan merdeka.

Masalahnya, yang ditunjukkan oleh Amerika saat ini: di satu sisi menyatakan memegang teguh “one China policy”, di sisi lain terlihat begitu ngebet Taiwan memisahkan diri. Padahal, di belahan dunia lain, Amerika mengecam keras Rusia yang mengakui Luhantsk dan Donetsk yang pilih pisah dari Ukraina.

Kelihatannya, ada semacam dualisme dan inkonsistensi dari apa yang diucapkan dengan apa yang dikerjakan oleh Amerika. Repotnya, yang dihadapi Amerika saat ini adalah RRC yang dengan lantang bilang, “中国不惹事,但也不怕事 Zhongguo bu re shi, dan ye bu pa shi” (RRC tidak mencari gara-gara, tapi tidak takut pada yang mencari gara-gara).

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Manomsoegia

    6 Agustus 2022 at 8:50 pm

    Ente fansboy Tiongkok ? Ok ok saja, seperti fansboy Amerika,
    Kepingin liat twitwar kalian dilanjut di darat
    He he he….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Juga Harus Anda Baca

Esai

KENDATI ditentang Tiongkok, Ketua DPR Amerika Nancy Pelosi ogah mengurungkan niat lamanya melawat ke Taiwan (2/8). Tak pelak Tiongkok meradang. Relasi Tiongkok-Amerika yang sedari...

Esai

OLIMPIADE MUSIM DINGIN di Beijing yang akan digelar pada 4 Februari 2022, diboikot Amerika Serikat (AS), Inggris, Australia, dan Kanada. Alasan pemboikotannya adalah karena...

Esai

TAK ADA yang mengira China bakal sedigdaya saat ini. Ketika pada awal tahun 80-an kebijakan Reformasi dan Keterbukaan diberlakukan, yang dipikirkan pemimpin China kala...

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...