Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Beberapa Faktor Mengapa Partai Komunis Bisa Bertahan di China

© ft.com

UNTUK membendung hasrat rakyat menuntut demokrasi dan perubahan, Partai Komunis China (PKC) membalasnya dengan Pembantaian Tiananmen. Rezim Ceausescu di Rumania menjawab tantangan massa dengan mengikuti tindakan para pemimpin China. Ia tampil dengan Pembantaian Tiananmen versi Rumania. Tapi, semuanya gagal total. Rezim yang telah berkuasa selama 43 tahun itu ambruk hanya dalam beberapa hari.

Mengapa China berhasil dan Rumania gagal?

Barangkali faktor yang paling dominan dalam menjawab teka-teki di atas adalah perbedaan dasar revolusi komunis di kedua negara itu.

Revolusi China merupakan suatu proses yang sangat panjang. Ia dimulai oleh sekelompok kecil intelektual yang berkumpul secara klandestin di sebuah asrama mahasiswa di enklave Prancis di kota Shanghai pada awal Juni 1921. Mereka berada di sana untuk menyelenggarakan ”kongres” pertama PKC. Karena takut ketahuan polisi, akhirnya ”kongres” itu pindah ke sebuah taman di luar kota.

Tapi, tiga tahun kemudian, kaum komunis China sudah mulai berperan dalam revolusi China. Demi persatuan nasional dan untuk mengalahkan kaum militeris, semua anggota PKC secara keseluruhan menjadi anggota Partai Nasionalis (Kuomintang), kekuatan utama revolusi China pada masa itu.

Namun, pada 1927, PKC hampir punah dari muka bumi China, karena tiba-tiba saja Kuomintang mengadakan pembersihan atas semua unsur komunis yang ada di dalamnya. Menurut sejarah versi resmi RRC, hanya keajaibanlah yang menyelamatkan Mao Zedong dari maut.

Periode 1927-1937 merupakan masa paling sulit bagi PKC. Mereka dikejar habis-habisan dan dicap sebagai bandit. Di dalamnya, terjadi pertentangan tentang jalan yang tepat yang harus dipilih untuk menjadi penguasa di daratan China. Ditambah dengan Perjalanan Panjang (long march), yang biarpun legendaris, memakan korban puluhan ribu jiwa. Setelah itu, datanglah perang melawan Jepang yang sekali lagi memaksa PKC bergabung dengan Kuomintang, tapi kali ini dengan memegang ”kartu” tinggi.

Setelah Jepang kalah, pada tahun 1945, pecah lagi perang saudara melawan Kuomintang. Baru pada 1949, PKC bisa bernapas lega sebagai penguasa tunggal di daratan China. Revolusi komunis di China adalah sebuah tradisi yang berlangsung selama 28 tahun, ditambah dengan berbagai eksperimen untuk memodernkan diri selama 40 tahun.

Kaum komunis Rumania di Eropa Timur umumnya, tak mengalami perjuangan bersenjata sepanjang itu, walaupun setelah itu, mereka sempat berkuasa selama 43 tahun. Mereka menjadi penguasa hanya berkat bantuan Tentara Merah Uni Soviet, setelah berhasil mengalahkan Nazi Jerman. Itu pun lantaran Stalin menginginkan agar keamanan Uni Soviet sebagai pusat kubu sosialis terjamin. Untuk itu, Uni Soviet harus dilindungi dari ancaman dunia kapitalis oleh serangkaian negara-negara satelit. Pada kenyataannya, rezim komunis lokal itu tak lebih dari boneka yang didikte Moskow.

Ketika PKC masih berjuang di pedalaman China, Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) adalah bagian yang tak terpisahkan dari partai. Demikian lengketnya hubungan antara TPR dan PKC, sehingga batas organisatoris antara keduanya sangat kabur. Dari sejak awal, PKC selalu berusaha membentuk kekuatan bersenjata, karena tanpa itu tak mungkin mereka merebut kekuasan politik. Baru setelah RRC berdiri, pemisahan organisatoris antara Partai dan Tentara diinstitusikan. Walaupun demikian, TPR merupakan alat Partai.

Itulah sebabnya TPR bisa digunakan untuk menindas para pengunjuk rasa pada 3 dan 4 Juni 1989 silam, walaupun ada beberapa unit yang enggan melaksanakan ”pekerjaan kotor” itu. Kegagalan Ceausescu dan rezim-rezim komunis lainnya di Eropa Timur adalah keogahan angkatan bersenjata untuk membelanya pada saat rakyat menentangnya.

Yang mungkin juga berpengaruh adalah tradisi demokrasi yang berbeda. Biar bagaimanapun, Eropa Timur termasuk dalam kebudayaan Barat, tempat demokrasi sudah berakar dalam. Jadi, pembaruan dan demokrasi dilaksanakan dengan relatif cepat dan lancar.

Lain dengan China. Sepanjang sejarahnya yang ribuan tahun, China selalu berada di bawah para kaisar dan tiran yang memerintah dengan absolut. Jadi, kalaupun demokrasi hendak ditanamkan, ia memerlukan waktu lama, dan dengan proses perlahan. Barangkali sehubungan dengan itu, sahih pula kritik yang dilontarkan terhadap gerakan mahasiswa dan intelektual China 1980-an: Bahwa mereka menuntut terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

SAYA diundang menjadi salah satu pembicara dalam acara peringatan seabad Partai Komunis China (PKC) yang dihelat Konsulat Jenderal China di Surabaya pada 30 Juni...

Esai

BARANGKALI Anda sempat kepikiran untuk pindah negara, atau sesederhana ingin memiliki kehidupan yang lebih pasti ke depannya, pascapandemi ini? China mungkin bisa jadi salah...

Esai

Melihat Tiongkok melulu sebagai ancaman, bisa jadi malah akan membuat kita ketinggalan peluang

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...