Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Dilema Kehidupan Etnis Tionghoa di Indonesia

© indonesiaexpat.id

DIAKUI atau tidak, suka atau tidak suka, hubungan antara etnis Tionghoa Indonesia dengan etnis mayoritas masih sering mengalami pasang surut. Meskipun sebenarnya generasi muda Tionghoa saat ini sudah semakin tidak canggung dan lebih membaur dalam berinteraksi dengan saudara-saudaranya dari etnis mayoritas, namun masih sering terjadi perasaan saling curiga di antara mereka. Pola pengelompokan tempat tinggal seperti pecinan-pecinan –yang awalnya diinisiasi oleh pemerintahan kolonial Belanda– sekarang juga sudah semakin berkurang. Etnis Tionghoa modern di Indonesia lebih banyak yang tersebar dan tinggal di perumahan-perumahan bercampur dengan masyarakat etnis lainnya.

Selain itu, masyarakat etnis Tionghoa Indonesia saat ini juga sudah semakin jarang yang mengerti dan memahami budaya nenek moyangnya –terutama yang tinggal di pulau Jawa. Mereka sudah tidak mampu bercakap menggunakan bahasa Mandarin; sudah semakin jarang yang memahami, apalagi mengikuti, perayaan-perayaan besar tradisi leluhur seperti Ceng Beng 清明节 (hari bersih-bersih kubur), Tiong Ciu 中秋 (Festival Kue Bulan), dll.

Anak-anak Tionghoa yang lahir setelah tahun 2000 pun sudah banyak yang tidak punya lagi nama Tionghoa –bahkan tidak tahu lagi nama keluarga mereka yang biasa disebut marga atau ”xing” (姓) dalam bahasa Mandarin.

Fenomena seperti ini sebenarnya merupakan suatu kemajuan atau justru kemunduran bagi bangsa yang terkenal dengan keberagaman sukunya ini? Nampaknya ini adalah suatu dilematis bagi kita bersama. Mungkin kita perlu menelusuri jauh ke belakang, melihat sejarah awal mula orang orang China mulai berdatangan dan menetap di Nusantara tercinta ini.

* * *

Catatan tentang sejarah kedatangan orang China ke Nusantara setidaknya bisa dibagi dalam tiga periode besar. Pertama, periode sebelum kedatangan Laksamana Cheng Ho. Kedua, saat kedatangan Cheng Ho sampai masa awal kolonialisme Belanda. Ketiga, gelombang besar kedatangan imigran China yang dipekerjakan di perkebunan dan pertambangan milik Hindia Belanda.

Periode pertama kedatangan orang-orang China sebelum Cheng Ho tidak terlalu ada pengaruhnya dengan kondisi etnis Tionghoa Indonesia saat ini. Periode ini hanya catatan sejarah bahwa orang-orang China pernah datang ke Nusantara untuk berdagang atau mempelajari agama (seperti Biksu Fa Xian, Hui Ning, dan Yi Jing). Pada periode ini, belum, atau sedikit sekali, orang China yang memutuskan untuk menetap dan tinggal di Nusantara.

Pada periode kedua (saat kedatangan Laksamana Cheng Ho) inilah sebenarnya awal mula orang-orang China mulai menetap dan membentuk koloni –seperti yang terjadi di Palembang (kelompok Shi Jinqing dan kelompok Chen Zuyi), di Jawa Timur (Tuban dan Gresik oleh kelompok Shi Dajie), dan di Jawa Tengah (Semarang oleh kelompok nahkoda kapal Cheng Ho yang bernama Ong Keng Hong/Wang Jinghong).

Pada periode kedua ini, masyarakat etnis China dan penduduk lokal hidup berdampingan secara damai dan lama-kelamaan pembauran terjadi secara alami sampai akhirnya saat ini tidak bisa dikenali lagi di mana keturunan orang-orang China pada masa tersebut. Jadi boleh disimpulkan bahwa pembauran yang terjadi di masa kedatangan Cheng Ho itu adalah pembauran yang paling sempurna.

Sayangnya, pada periode ketiga, yaitu setelah masuknya kolonialisme Belanda di Batavia (Jakarta), bibit-bibit permusuhan dan kecurigaan mulai timbul di antara etnis China dan penduduk lokal –terutama Jawa. Relasi yang sebelumnya sangat baik karena kesetaraan derajat, mulai dikotak-kotakkan oleh Belanda. Orang-orang China mulai dimanfaatkan oleh VOC: mereka diberikan hak-hak istimewa dan ditempatkan sebagai golongan yang lebih tinggi daripada penduduk lokal (pribumi atau bumiputra). Ditambah lagi setelah tragedi mengerikan pada tahun 1740 (yang dikenal dengan nama Geger Pecinan itu), pemerintah Belanda memisahkan hunian orang-orang China ke satu tempat yang dikenal sebagai ”pecinan” sehingga menyebabkan komunitas orang China ini menjadi semakin sulit membaur.

Seiring dengan semakin banyaknya gelombang kedatangan orang China di abad ke-19 (kabarnya mencapai lebih dari satu juta orang) sebagai akibat begitu besarnya kebutuhan tenaga kerja untuk membuka perkebunan-perkebunan dan pertambangan, strategi pengotak-kotakan ala pemerintah Belanda tidak pernah dihentikan. Pembedaan strata sosial dan pemberian hak-hak istimewa kepada pedagang-pedagang China justru menyuburkan bibit-bibit kecurigaan yang telah ada. Ketidakharmonisan ini ditambah lagi dengan masalah ideologi saat terjadinya G 30 S yang kemudian memicu kekerasan demi kekerasan berikutnya terhadap etnis China.

Setidaknya ada tiga peristiwa kekerasan besar yang terjadi setelah Geger Pecinan tahun 1740, yaitu: (1) Pembantaian etnis China di kota Ngawi, Jawa Tengah, pada tahun 1825; (2) Pembantaian etnis China dalam Tragedi Mangkuk Merah di Kalimantan Barat pada tahun 1967; dan (3) Kerusuhan Mei Hitam pada tahun 1998.

* * *

Belajar dari sejarah selama beratus-ratus tahun hubungan etnis China dengan penduduk lokal Indonesia, bisa ditarik kesimpulan bahwa kesetaraan sosial dan ekonomi adalah kunci utama untuk membangun keharmonisan di antara dua golongan ini –apalagi jika bisa sampai tercipta model pembauran yang sempurna seperti di masa awal abad ke-15 di era pelayaran Cheng Ho.

Kembali ke pertanyaan awal tadi di atas, apakah etnis Tionghoa perlu membaur total ke dalam kehidupan penduduk lokal atau sebaiknya tetap mempertahankan identitas ketionghoaannya sebagai bagian dari keberagaman suku dan etnis di Indonesia ini? Tentu ini bukan suatu pilihan yang mudah. Sangat dilematis. Atau mungkin perubahan zamanlah yang akan secara alami menjawab dan menuntaskan dilema ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

BARU-BARU ini saya melihat postingan di media sosial yang isinya menggelitik. Katanya, ketika PPKM ini, jutaan tentara China telah diam-diam memasuki Indonesia. Ngeri-ngeri sedapnya,...

Kongkow

KETIKA menonton film ”The Little Nyonya” versi pertama, saya jadi teringat dengan engkong saya. Sewaktu saya kecil, beliau banyak sekali mengajari saya tata krama...

Kongkow

DALAM masyarakat Tionghoa, bila ada anggota keluarga yang meninggal, biasanya akan ada perundingan apakah jenazah akan dikuburkan atau dikremasi. Bila yang terakhir yang diambil,...

Kongkow

”SEMBAHYANG REBUTAN itu apa? Samakah dengan Ceng Beng?” Itu pertanyaan seorang teman kepada saya. Bukan satu-satunya pertanyaan –karena ada beberapa orang lagi yang menanyakan...