Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Tentang Banyaknya TKA China di Indonesia dan Bagaimana Cara Mengenyahkannya

© vectorstock.com

APAKAH dengan mengenyahkan TKA China dari bumi Indonesia ini akan membuat Anda bersemangat? Seketika meningkatkan rasa nasionalisme Anda yang menggebu-gebu itu? Kalau jawabannya iya, mari saya beri tahu Anda bagaimana caranya.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh negara ini supaya tidak lagi kemasukan TKA asal China, adalah ya dengan melarangnya sama sekali. Seperti China sendiri yang juga melarang adanya semisal buruh migran atau tenaga-tenaga kasar yang berasal dari negara lain masuk dan mendapatkan pekerjaan di negara mereka. China jelas juga enggak akan repot-repot kirimkan tenaga kerja mereka ke Indonesia kalau ada larangan total yang memang sudah diberlakukan dari awal.

Tapi, apakah Indonesia bisa seperti China?

* * *

Sumber keributan soal TKA ini sebenarnya adalah langkah pemerintah Indonesia (dalam hal ini presiden) yang melarang ekspor barang tambang dan mineral mentah dari Indonesia ke negara lain. Dan, tahukah Anda siapa yang memberlakukan larangan itu?

Tak lain dan tak bukan adalah pemerintahan SBY. Tepatnya ketika Presiden SBY pada 11 Januari 2014 meneken PP No. 1 Tahun 2014 mengenai Ekspor Minerba.

Kenapa Pak SBY menandatangani PP Minerba ini ketika sudah berada di penghujung masa jabatannya yang tidak mungkin dilanjutkan untuk periode ketiga?

Bisa jadi karena beliau tahu bahwa konsekuensi dari penambahan nilai dari ekspor Minerba tersebut adalah investasi sektor non ekstraktif. Yaitu pengolahan yang membutuhkan ahli-ahli dan tenaga kerja dari luar negeri.

Makanya kebijakan itu tidak Pak Beye ambil secepatnya, untuk kasih ranjau ke penerusnya.

Lalu, Anda semua tahu, presiden berganti ke Jokowi.

Perihal pelarangan ekspor barang mentah itu merupakan hal yang baik, bukan? Yakni agar tercipta nilai tambah ekspor untuk produk-produk Minerba. Dengan begitu, diharapkan akan terjadi peningkatan neraca perdagangan secara nasional –karena Indonesia juga sangat bergantung pada barang-barang impor, apapun itu, terutama dari China.

Pemerintah pada waktu itu juga sama-sama tahu bahwa tidak ada cara lain untuk meningkatkan neraca perdagangan selain dengan meningkatkan nilai. Lah mau bagaimana lagi? Tulang punggung ekonomi Indonesia tidak memiliki identitas yang jelas, kok. Apakah sudah ful menjadi negara industri 2.0 atau masih agraris 1.0? Tapi yang jelas, dengan hanya mengekspor bahan mentah, sudah pasti Indonesia akan kehilangan banyak nilai tambah.

Namun demikian, karena proses turunan dari kebijakan dan pergantian kepemimpinan nasional, lobi-lobi kebijakan, dan copot-pasang kabinet, membuat hal mengenai evaluasi peningkatan nilai tambah barang-barang Minerba ini menjadi terlunta-lunta. Sampai pada akhirnya keleletan pengelolaan dan kejelasan soal turunan dari PP tadi harus dipercepat dengan datangnya Tsingshan Group yang bekerja sama dengan Huayou Group dan Zhenshi Group yang membuat perusahaan patungan Indonesia Weda Bay Industrial Park. Kawasan industri di Halmahera Tengah ini juga bekerja sama dengan Eramet Group asal Perancis dan Antam Tbk. Itu pun juga dengan catatan Tsingshan Group sudah mengadakan studi kelayakan (FS) untuk pabrik ferronikel sejak tahun 2007.

Tetapi, pada waktu itu, nikel –yang dapat digunakan untuk salah satunya bahan baku baterai mobi listrik– belum terlalu dilihat. Meski nikel sudah lama sekali diekstrak dari bumi Indonesia. Tahun 2007 PT INCO memproduksi 76,6 ribu ton nikel.

Intinya, nikelnya bukan soal baru. Yang baru adalah, untuk membuat smelter yang bertaraf internasional dan berkualitas, membutuhkan tenaga-tenaga kerja dan para ahli yang tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri.

* * *

Industri kendaraan listrik dan turunannya memang barang yang menyebalkan –tentu bagi para pemain industri otomotif konvensional dan para pebisnis bahan bakar fosil. Tesla yang baru berdiri sejak tahun 2003 itu, misalnya. Pada saat itu, di AS sendiri pun belum melirik roadster Tesla sebagai sebuah tunggangan yang keren.

Namun, pada tahun 2011, pabrikan-pabrikan otomotif dalam negeri China seperti Geely, SAIC, FAW, Dongfeng, dan BYD memulai tren riset kendaraan listrik besar-besaran. Itu pun juga karena setelah sebelumnya, pada tahun 2008, pemerintah China menggelontorkan insentif untuk kendaraan-kendaraan jenis mobil pribadi.

Intinya, sebetulnya pemerintah Indonesia sejak SBY berkuasa dulu juga tahu bahwa nikel adalah masa depan energi. Kabar-kabar perkembangan industri global juga tentu sudah diterimanya. Namun, pada saat itu, lagi-lagi PP soal Minerba diteken ketika beliau berada di ujung kekuasannya. Mungkin karena takut polemik TKA. Padahal intinya bukan di polemik TKA-nya, tapi memang tidak pernah serius mempersiapkan SDM sejak tahu nikel adalah tren yang mencerahkan sekaligus menggiurkan.

* * *

Kalau begitu, apakah Indonesia bisa seperti China yang melarang 100% tenaga kasar untuk masuk ke teritorinya?

Pertama, di Indonesia hanya ada 6 kampus yang menawarkan program studi Teknik Metalurgi. Misalnya ITB, ITSB Bandung, Unjani, UTS Sumbawa, Untirta Banten, dan tentu UI.

Salah siapa kalau begini? Banyak yang bisa disalahkan, tentu saja. Salah satunya: tidak sinkronnya antara para perumus kebijakan dengan kondisi riil –alias para elite yang menelurkan kebijakan saling ndak nyambung.

Sudah tahu Indonesia membutuhkan banyak SDM yang memiliki kompetensi pengolahan Minerba, malah tidak ada kesinambungan antara dunia pendidikan dan sektor industri. Data mengenai jumlah lulusan atau ahli metalurgi atau Minerba secara umum juga tidak tersedia. Kan amsyong? Mau mulai dari mana kalau begono?

Kedua, pencibiran mengenai TKA asal China di tengah-tengah puluhan ribu TKA asal negara lain itu, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kita masih selalu memandang remeh China.

Sudah jutaan kali di jutaan kesempatan saya sampaiken, bahwasanya penguasaan teknologi itu tidak rasis; yang rasis itu manusia. Jadi, mau China kek, mau negara-negara Afrika kek, kalau mereka bisa lebih baik menguasai teknologi dibandingkan dengan kita, lantas kenapa kitanya yang sirik? Sirik tanda tak mampu!

Tenaga kerja China itu datang karena grup-grup besar seperti Tsingshan dkk., sejak awal-awal booming industri smelter nikel, langsung cepat-cepat datang. Kalau asalnya misal dari AS, Malaysia, dan Korsel, tentu juga akan banyak tenaga-tenaga kerjanya yang datang menyelesaikan proyek tersebut.

Ketiga, barier utama dari kebijakan, dunia usaha, dan industri adalah bahasa. Dengan banyaknya khalayak yang sudah kadung mencibir ploduk-ploduk China, tentu bahasa Mandarin juga sangat dilihat setengah mata dan setengah hati. Padahal, kalau disiapkan peta jalan yang jelas mempelajari bahasa Mandarin oleh para lulusan SMK, misalnya, mereka akan dengan mudah juga ditempatkan di lokasi-lokasi yang banyak investor China-nya dan ini bukan hanya soal nikel saja.

Keempat, berarti memang sejak awal kebijakan soal penambahan nilai ekspor produk Minerba ini tidak direncanakan dengan baik. Tidak peduli siapa misalnya nanti yang akan jadi presiden pada 2024, kalau tidak ada perbaikan secara menyeluruh, paradigma triple helix dan teori-teori besar itu tidak dipakai, akan percuma juga.

Walaupun kemungkinannya kecil, katakanlah para partai oposisi saat ini memenangkan Pemilu 2024, apa jaminannya akan ada restrukturisasi fundamental yang berkenaan dengan peningkatan kapasitas SDM di Indonesia, sehingga tidak terjadi lagi kasus-kasus ’rakyat menganggur tetapi TKA merajalela’? Sama sekali tidak ada jaminannya. Sebab, kebiasaan salah kelola dalam kebijakan-kebijakan industri di Indonesia sudah berbudaya salah.

Cabut Omnibus Law ketika para oposisi Jokowi berkuasa? Lha wong ada Omnibus Law saja juga sedari awal tidak menjadi jawaban riil di lapangan, kok.

Kelima, katakanlah saat ini banyak perusahaan China yang berinvestasi di Indonesia, lalu suatu saat nanti Bangsa Nguyen akan banyak berinvestasi di Indonesia juga –karena saat ini Vietnam sedang menjadi salah satu primadona ASEAN. Atau, misalnya, perusahaan-perusahaan negara T-Series dan Utarran kelak banyak mendatangkan TKA-nya juga ke Indonesia, lantas apakah penolakan-penolakan TKA dari negara-negara tersebut akan berfaedah untuk memajukan Indonesia? Ini patut kita renungkan sembari menanti pandemi yang juga tak jelas kapan enyahnya dari Bumi Pertiwi ini.

* * *

Entah sampai kapan tata kelola kebijakan strategis seperti Minerba dan hilirisasi industri di negara ini akan hanya berputar-putar di lingkaran setan itu.

Pandemi yang berlarut-larut juga nanti akan dijadikan kambing hitam penyebab inefisiensi dan tidak efektifnya pengambilan-pengambilan kebijakan untuk menutup-nutupi bau-bau kebiasaan lama atas ego sektoral yang sudah mengakar dan sikut-sikutan internal secara politis siapa yang paling keren, berkuasa, dan jadi bos.

Seruput dulu kopinya, Bos. Bismillah komisaris!

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Jonnie R.Hutabarat

    28 Juli 2021 at 8:11 am

    Tenaga kerja dari Cina masuk ke Indonesia karena katanya tenaga kerja Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengisi pekerjaan itu. Selain itu, mereka juga dipekerjaan perusahaannya berdasarkan perjanjian dengan pemerintah Indonesia, bukan?
    Bagaimana dengan TKI di luar negri?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

BARU-BARU ini saya melihat postingan di media sosial yang isinya menggelitik. Katanya, ketika PPKM ini, jutaan tentara China telah diam-diam memasuki Indonesia. Ngeri-ngeri sedapnya,...

Kongkow

BELUM lama ini, sebuah kanal Youtube mengunggah cuplikan video pidato Presiden China Xi Jinping dan, sepertinya, sengaja menerjemahkannya secara asal-asalan. Video itu kemudian viral...

Esai

Melihat Tiongkok melulu sebagai ancaman, bisa jadi malah akan membuat kita ketinggalan peluang

Esai

BILA boleh disimpulkan secara sederhana, hubungan bilateral Indonesia dengan China yang dijalin sejak 1950 itu, ”kuat di atas tapi rapuh di bawah”. ”Kuat di...