Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Apa Sebaiknya Kita Pindah ke China Saja Agar Bisa Hidup Lebih Pasti?

© enr.com

BARANGKALI Anda sempat kepikiran untuk pindah negara, atau sesederhana ingin memiliki kehidupan yang lebih pasti ke depannya, pascapandemi ini? China mungkin bisa jadi salah satu opsi.

Dengan kenyataan pandemi di Indonesia dan pelbagai belahan bumi lainnya, ada satu hal yang mungkin kita semua dapat sama-sama mengamini, yaitu bagaimana secara kolektif masyarakat di suatu lokasi/negara berpikir.

Terkhusus di Indonesia, sudah terlalu banyak kisah pilu yang disebabkan oleh ketidakmampuan banyak bagian masyarakat kita untuk mencerna informasi. Ya, terutama soal vaksin. Padahal, vaksinasi massal akan berbanding lurus dengan peningkatan imunitas kolektif yang sebetulnya paling dibutuhkan manusia untuk menang melawan pandemi Covid-19 ini.

Sudah lelah sekali tiap hari hanya angka-angka yang berseliweran (angka kena, angka mati, dan angka sembuh), tapi tetap masih banyak orang yang tidak mendahulukan akal dan ilmu dalam memerangi pandemi yang mungkin tidak akan selesai sampai pergantian presiden pada 2024 nanti.

Lihat saja AS yang pada awalnya bertengger di peringkat 1 dunia untuk urusan angka penularan dan kematian akibat Covid-19. Penyebabnya, selain karena belum tersedia vaksin, Presiden Trump semasa menjabat juga sering mengolok-olok Covid-19 dengan salah satunya ”menyarankan” rakyatnya untuk menyuntikkan diri dengan pemutih. Dan, sialnya, banyak orang yang mengamini anjuran Trump itu!

Walaupun tidak ada angka jumlah kematian persis, hanya peningkatan dalam persentase, tapi tetap saja sejak April 2020 sampai pergantian presiden, AS juga bukanlah tempat yang aman. Hingga hari ini pun, kalau dilihat angka kematian akibat Covid-19, AS masih yang paling tinggi.

Namun, ketika Biden menggantikan Trump pada akhir 2020 lalu, ia berusaha menggenjot penyediaan vaksin dalam negeri, dan langsung mengkoordinasikan semua sumber daya administrasinya untuk mempercepat vaksinasi di negaranya.

Saat ini, sudah sejumlah 161 juta warga AS yang tervaksinasi 2 tahap. Bandingkan dengan Indonesia yang penerima vaksinasi 2 kali baru 14,9 jutaan orang.

Melihat perbandingan yang ada antara AS dan Indonesia, tentu terlalu banyak faktor yang sulit sekali untuk disamakan. AS, walaupun banyak sekali intrik dan dinamika di dalam negerinya, namun ketika kepemimpinan nasional berganti, dan masyarakatnya juga sudah dikenal berpikiran saintifik dan maju, akhirnya saat ini pandemi di sana sudah sangat teratasi.

China? Jangan ditanya. Sudah santuy tidak pakai masker, mereka.

* * *

Maka itu, kalau Anda berpikiran untuk bermigrasi ke luar negeri, seperti ke China, kenapa tidak? Wong bermigrasi tidak ada hubungannya dengan nasionalisme.

Akan tetapi, untuk bisa mendapatkan ’Green Card’ China –atau dikenal dengan istilah KITAP kalau di Indonesia– ada beberapa kriteria yang perlu dipenuhi seseorang.

Pertama, Anda berduit. Dalam konteks ini, bukan hanya berduit, tapi berlimpah duit. Karena minimal dana yang harus Anda ”tanam” di China adalah sekitar USD 500 ribu. Itu angka starting, lho, ya. Angka tersebut mentok pada USD 2 juta. Bergantung pada investasi apa yang Anda masukkan ke negara mereka.

Kedua, Anda doktor yang memiliki pengalaman kerja (sebagai peneliti, dosen, lektor, dll.) paling tidak 3–4 tahun di China. Tentu ini bukan doktor ecek-ecek. Karena biasanya yang diinginkan China adalah doktor yang betul-betul memiliki ilmu yang dibutuhkan mereka, seperti yang terkait dengan ilmu-ilmu terapan yang dibutuhkan China untuk mengembangkan ekonominya. Kalau doktor di bidang ekonomi, apalagi politik, mungkin mereka sudah oversupply, ya…

Ketiga, Anda memiliki ’talenta spesial’. Nah, kalau yang ini mungkin sudah masuk area ’kijang satu, kijang dua’. Gak usah dipanjangin.

Keempat, Anda memiliki garis keturunan, atau masih memiliki famili yang masih hidup, di China. Kalau Anda bukan keturunan Tionghoa, skip saja kemungkinan yang ini.

Kelima, Anda memiliki latar belakang individu yang sangat luar biasa. Misalnya Anda adalah penerima Nobel, bekas presiden suatu negara, seterkenal Beckham, Messi, Ronaldo, Mancini, atau anggota timnas Italia yang baru kemarin memenangkan Euro 2020. Melalui jalur ini, tentu Anda nantinya juga akan ”dijual” sebagai ikon negara China yang progresif, ramah imigran, dan negara yang inklusif.

* * *

Itu soal syarat-syaratnya.

Kalau soal beban hidup di China, sebenarnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan di Jakarta. Karena sejatinya ongkos hidup di China itu banyak yang disubsidi, kecuali hunian.

Hunian tinggal adalah masalah terbesar di China karena Anda tidak bisa memiliki properti untuk selamanya, melainkan Hak Guna Sewa selama 70 tahun yang bisa kemudian diperpanjang.

Nilai dari properti di China juga fantastis. Bisa dibilang, kalau Anda punya duit Rp3 miliar, mungkin Anda hanya akan bisa membeli flat kecil di pinggiran kota Beijing yang jauh dari kata mewah.

Namun, selebihnya seperti transportasi umum, bahan-bahan pokok, pendidikan, rata-rata disubsidi habis-habisan oleh pemerintahnya.

Estimasi biaya mengirit per orang dalam sebuah keluarga kecil bisa menghabiskan 6 juta per bulan, tinggal dikalikan saja ada berapa orang di keluarga tersebut. Itu tentu tidak termasuk kalau Anda mencicil sewa hunian. Apabila Anda menyewa hunian yang layak, per bulannya bisa menghabiskan 15 juta atau bahkan lebih.

Untuk penghasilan, karena Anda hitungannya adalah seorang ekspatriat, rata-rata gaji yang diterima adalah mulai dari Rp30 juta per bulan paling minimal. Angka ini tentu akan 85% lebih tinggi dan memiliki progres yang cepat apabila Anda adalah bule –ya, sayangnya Anda bukan.

(Mengenai perawakan bule yang mendapatkan banyak priviledge di China, tidak lain dan bukan adalah karena wajah bule sangat menjual dan bisa menarik konsumen untuk lini produk apapun. Mulai dari yang berkenaan dengan ritel, kosmetika, finansial, sampai pendidikan. Para orang tua aseli China juga, entah kenapa, sangat ingin anaknya diajar bahasa Inggris oleh bule yang Kaukasian, bukan yang kulit hitam. Itu sudah jadi rahasia umum di sana.)

Pindah ke China memang bukanlah hal yang mudah. Namun, percaya atau tidak, China adalah salah satu negara yang memiliki ongkos hidup yang cukup rendah. Tentu, itu kalau kita bandingkan dengan negara-negara seperti Swiss, Denmark, Norwegia, atau UK. Bahkan, kalaupun dibandingkan antara ongkos hidup di Beijing dan di Singapura, Beijing masih lebih murah 42%, lho.

* * *

Jadi, bagaimana, Sahabat? Masih betah tinggal di negara sendiri? Atau sudah mempersiapkan checklist untuk angkat koper ke negara lain demi hidup yang jauh lebih pasti?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

UNTUK membendung hasrat rakyat menuntut demokrasi dan perubahan, Partai Komunis China (PKC) membalasnya dengan Pembantaian Tiananmen. Rezim Ceausescu di Rumania menjawab tantangan massa dengan...

Esai

SAYA diundang menjadi salah satu pembicara dalam acara peringatan seabad Partai Komunis China (PKC) yang dihelat Konsulat Jenderal China di Surabaya pada 30 Juni...

Esai

Melihat Tiongkok melulu sebagai ancaman, bisa jadi malah akan membuat kita ketinggalan peluang

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...