Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

China dan Hidropolitik Asia Tenggara

© chinadailyhk.com

BILA sungai-sungai di Asia dimisalkan sebagai pipa air, maka Tibet adalah menara airnya. Dataran tinggi Tibet merupakan induk dari sungai-sungai besar di Asia seperti sungai Yangtze, Kuning, Brahmaputra, Indus, Irawaddy, dan Mekong. Kontrol territorial China atas Tibet, tak pelak, memberikan keuntungan geopolitik bagi China untuk mengatur debit air yang mengalir ke negara-negara di bawahnya. Arun P. Elhance (1999) menamai geopolitik yang berhubungan dengan kedaulatan atas air ini sebagai hidropolitik (hydropolitics).

Ambil contoh Mekong. China berencana membangun 28 bendungan di sungai Lancang, induk sungai Mekong, yang tujuh di antaranya telah beroperasi. Bendungan Nuozhadu dan Xiaowan, misalnya, merupakan yang terbesar dan mampu mengatur debit tahunan sungai Mekong. Saking besarnya, bendungan ini mampu menampung 38 km3 air pada kapasitas maksimalnya.

Pembangunan ini bertujuan untuk meningkatkan komposisi energi terbarukan dalam pembangkit listrik China. Selain itu, suplai listrik dan air ini, konon, juga akan digunakan untuk mengembangkan proyek Jalur Sutra (BRI) China di kawasan Asia Tenggara. Pendek kata, kepentingan geopolitik dan ekonomi China di Asia Tenggara akan mendapat keuntungan signifikan dengan pembangunan bendungan di sungai Mekong itu.

Sebaliknya, bendungan ini ditengarai menjadi penyebab negara-negara hilir (seperti Laos, Thailand, Vietnam, dan Kamboja) mengalami kekeringan parah pada 2019. Terdapat 60 juta jiwa yang bergantung pada sungai Mekong dalam mata pencahariannya. Kekeringan tersebut menghancurkan perikanan dan pertanian lokal. Selain itu, intrusi air laut juga terjadi di delta sungai Mekong karena lemahnya debit aliran sungai ke laut. Memang, di saat yang sama, terjadi peningkatan curah hujan dan pelelehan salju di China, namun mayoritas air tersebut tertahan di reservoir-reservoir milik China.

Bendungan-bendungan China tersebut dapat menjadi salah satu senjata geopolitik bagi pemerintah China untuk memengaruhi kebijakan-kebijakan di negara-negara Indochina. Pembangunan bendungan di anak sungai Mekong di Laos yang disponsori oleh perusahaan asal China Sinohydro untuk menjadikan Laos sebagai ”Battery of Asia” itu bisa dijadikan contoh kasus. China menganggap penguasaan hulu air sebagai kedaulatan atas kekayaan territorial dan tidak mengedepankan penggunaan sumber daya lintas negara secara bersama. Hal ini ditunjukkan dengan keengganan China bergabung dengan Mekong River Comission(MRC), yang beranggotakan Kamboja, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh oleh China. Pertama, China memperoleh kemampuan untuk menggunakan air sebagai senjata dengan mengatur arah, volume, dan intensitas aliran air ke negara-negara hilir. China, dengan begitu, dapat menciptakan banjir maupun kekeringan untuk memengaruhi produksi pangan dan suplai air di hilir. Kedua, China mampu membangkitkan listrik dengan kapasitas yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk kepentingan ekonominya di kawasan Asia Tenggara. Ketiga, China telah memiliki infrastruktur dalam ”perang” memperoleh sumber daya air yang semakin langka di abad ke-21 dan menggunakan air untuk meningkatkan pengaruh politiknya di Asia Tenggara. Mungkin boleh dikatakan, China bagaikan Naga Air yang mencengkeram dan melilit sungai Mekong.

Lalu, bagaimana caranya agar negara-negara Indochina lolos dari cengkeraman sang Naga Air? Negara-negara hilir Mekong mungkin dapat mengatasi ini dengan menerima investasi China yang bernilai strategis di sekitar sungai Mekong sehingga China tidak dapat mempermainkan suplai air mereka. Negara-negara Indochina juga barangkali bisa mencoba ”memaksa” China melakukan kerja sama regional dengan MRC terkait pengelolaan air dengan menarik dukungan dari pihak luar seperti AS, India, Australia, maupun negara lain.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

SESUATU yang mengejutkan saya –yang sejak 2019 menjadi mahasiswa baru Tianjin University– adalah banyaknya mahasiswa asal benua Afrika. Tak jarang kami bertemu di dapur...

Esai

TULISAN ini akan saya awali dengan pertanyaan ”mengapa China mau repot-repot membela Palestina?” Namun kalau antum, para pembaca, mengharapkan saya menulis tulisan yang lebih...

Esai

JIKA SERING mengamati perkembangan isu-isu internasional, dalam beberapa tahun terakhir kita akan menemukan banyak negara besar yang mulai menaruh perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan....