Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Konfusianisme dan Modernisasi

© crcs.ugm.ac.id

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur dan sukses ekonomi yang dicapai golongan etnik China di luar China Daratan. Padahal, sebelum ”keajaiban” ini muncul, pandangan orang China maupun sarjana Barat sangat tak bersahabat terhadap filsafat hidup yang telah berusia ribuan tahun itu.

Pada paruh kedua abad ke-19, misalnya, di China ada sebuah gerakan yang disebut Restorasi Tongzhi (同光中兴 Tongguang Zhongxing). Gerakan ini ingin memodernkan China dengan mengikuti pola Barat sambil terus mempertahankan kepribadian nasional (baca: Konfusianisme). Program tersebut gagal dan sebabnya, menurut Mary C. Wright dalam bukunya The Last Stand of Chinese Conservatism (1966), bukan karena kekacauan dalam negeri dan tekanan imperialisme, melainkan lataran Konfusianisme itu sendiri tidak kompatibel dengan modernisasi.

Namun, sejak pertengahan 1970-an muncullah Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura sebagai negara industri baru atau NICs (Newly Industrialized Countries). Keempat negara yang mendapat julukan ”macan kecil” atau ”naga kecil” itu dianggap sebagai mesin penggerak ”keajaiban ekonomi” Asia Timur.

Bersamaan dengan itu, pendapat baku yang mengatakan Konfusianisme adalah penghalang kemajuan mulai digugat. Sukses ekonomi keempat ”naga kecil” itu dinilai tak bisa dilepaskan dari etika Konfusianisme yang menekankan pada kerajinan, inovasi, disiplin, kesetiaan pada keluarga, penghormatan pada orang tua dan otoritas, selalu mencari harmoni, dan sifat-sifat baik lainnya yang mendukung sukses. Konfusianisme yang selama 70 tahun dianggap kuno, tak akomodatif terhadap perubahan, dan tak cocok dengan kehidupan modern, kembali menduduki posisi yang terhormat.

Walau demikian, sebenarnya, sukar untuk secara positif mengatakan bahwa ajaran Konghucu dan apa yang dinamakan etik Konfusianis adalah pendorong utama keajaiban ekonomi di Asia Timur. Diperlukan suatu analisa yang multidimensional untuk mencari akar penyebab sukses keempat negara tersebut.

Ada banyak hal yang berperan dalam sukses Taiwan, yang sering dijadikan model keberhasilan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan stabilitas politik. Lima puluh tahun kependudukan Jepang (1895-1945) meninggalkan banyak warisan yang bermanfaat. Pertanian yang maju, fasilitas komunikasi dan infrastruktur, administrasi yang teratur, adalah beberapa contoh. Rezim Kuomintang, belajar dari kesalahannya di Daratan, relatif bebas korupsi. Perang Korea membawa rezeki lain buat Taiwan. Amerika datang membawa perlindungan militer, bantuan ekonomi, dan investasi. Amerika juga membuka pintu lebar-lebar buat produk industri Taiwan. Bagi Amerika, Tiawan harus menjadi etalase keberhasilan ideologi nonkomunis Asia.

Jelas, tanpa imperialisme Jepang, tanpa kehadiran pangkalan militer Amerika, tanpa AID (Agency for International Development), tanpa perusahaan multinasional, tanpa alih teknologi, dan tanpa investasi asing, Taiwan tak akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Pasifik seperti sekarang. Korea Selatan mungkin banyak persamaannya dengan Taiwan.

Singapura, contoh sukses yang lain, malah menganut Konfusianisme setelah kemakmuran tercapai. Pemerintah baru menggalakkan penyebarannya lewat kurikulum sekolah sejak 1982. Tujuannya, menurut sosiolog Singapura Shee Poon Kim, untuk kepentingan praktis dan rekayasa politik. Paternalisme ala Konfusianis bisa dijadikan alat yang ampuh untuk melestarikan kekuasaan.  

* * *

Di Indonesia sendiri, belum ada studi serius tentang pengaruh ajaran Konghucu terhadap keberhasilan golongan etnis China yang mendominasi kegiatan ekonomi di negeri ini. Saya cenderung menganggap Konfusianisme bukanlah penyebab utama sukses mereka dan, kalaupun ada, itu tidak memegang porsi besar. Ada faktor-faktor sirkumstansial dan situasional yang membuat mereka sukses di bidang ekonomi.

Di Indonesia, etnis China relatif tak mempunyai akses untuk menjadi pegawai negeri atau TNI. Bidang yang terbuka lebar adalah dunia bisnis dan profesional. Karena cuma itu yang terbuka, dengan sendirinya mereka menekuninya dan sukses. Ini juga ditunjang oleh kenyataan bahwa masyarakat etnis China Indonesia adalah keturunan imigran. Sifat imigran, dari mana saja asalnya, akan ”tahan banting”, pekerja keras, serius dalam pekerjaan, dan punya rasa solidaritas tinggi karena posisinya sebagai minoritas. Di sisi lain, sukses para konglomerat Indonesia, yang sebagian besar etnis China, juga tak bisa dipisahkan dari fasilitas yang disediakan pemerintah, yang dalam kasus tertentu bahkan berkembang menjadi kolusi.

Kesimpulannya, sukar untuk mengatakan bahwa Konfusianisme adalah pendorong utama munculnya keajaiban ekonomi di Asia Timur. Konfusianisme pasti berperan, tapi ada faktor lain yang kontribusinya mungkin lebih besar. Suatu penelitian yang multidimensional dan lebih mendalam perlu diadakan. Kita harus ”membedah” fenomena keajaiban ekonomi Asia Timur dari berbagai segi. Pengamatan yang hanya melihat dari budaya Konfusianis akan membuahkan kesimpulan yang dicari-cari.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

BARANGKALI Anda sempat kepikiran untuk pindah negara, atau sesederhana ingin memiliki kehidupan yang lebih pasti ke depannya, pascapandemi ini? China mungkin bisa jadi salah...

Esai

Melihat Tiongkok melulu sebagai ancaman, bisa jadi malah akan membuat kita ketinggalan peluang

Esai

MENJELANG pertengahan tahun 1950-an, di bawah nama taktik Front Persatuan Nasional, Aidit dan kawan-kawan –yang baru saja merebut kepemimpinan PKI– mendekati Bung Karno dan...

Esai

”Kepedihan dan kesakitan serta trauma para korban Tragedi Mei adalah kesakitan kita semua.”