Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Kalau China Berbuat Baik kepada Afrika, Apa Salahnya?

© ft.com

SESUATU yang mengejutkan saya –yang sejak 2019 menjadi mahasiswa baru Tianjin University– adalah banyaknya mahasiswa asal benua Afrika. Tak jarang kami bertemu di dapur asrama saat memasak, sehingga saya tahu dari negara mana saja teman-teman Afrika saya itu berasal. Ada yang dari Zambia, Zimbabwe, Sierra Leon, Sudan, Tanzania, Ethopia, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Entah berapa total angka pastinya khusus di Tianjin University, tapi selama beraktivitas di kampus (baik itu di kantin, di asrama, maupun di perpus), saya pasti senantiasa mendapati mahasiswa Afrika. Hebatnya lagi, teman-teman Afrika itu merupakan pembelajar yang baik dan unggul. Mereka juga mahir sekali berbahasa Mandarin.

Belum lagi ketika jalan-jalan di Kota Tianjin, tidak mungkin saya salah lihat, selalu saja saya bertemu dengan warga Afrika dan kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa.

Maklum, mahasiswa Afrika yang studi di China memang terus meroket jumlahnya. Pada tahun 2003, hanya ada 1.793 mahasiswa Afrika yang terdaftar di perguruan tinggi China. Bertahun-tahun kemudian, jumlahnya meningkat pesat menjadi 81.562 orang pada tahun 2018. Itu artinya, telah terjadi peningkatan sebesar 4.549% (empat ribu lima ratus empat puluh sembilan persen) hanya dalam waktu 15 tahun. Dengan lain kata, mahasiswa Afrika yang kuliah di China meningkat 303% per tahunnya.


Menurut Esther Benjamin, mantan Kepala Eksekutif Monash Afrika Selatan, fenomena membeludaknya mahasiswa Afrika di China ini merupakan tingkat pertumbuhan siswa internasional tercepat di antara semua kawasan di dunia.


Pada tahun 2018 itu, dari sekitar setengah juta siswa internasional di China, 16,57%-nya berasal dari Afrika. Ghana, Nigeria, Tanzania, Zambia, dan Zimbabwe merupakan lima negara Afrika dengan jumlah mahasiswa tertinggi di China. Bahkan, saat ini, China berada di urutan kedua setelah Prancis sebagai tujuan negara paling populer bagi mahasiswa Afrika yang mencari pendidikan tinggi di luar benua.

Tentu, itu adalah buah dari eratnya hubungan tingkat tinggi kedua pihak. China memang merupakan negara Asia yang paling niat membangun kerja sama dengan negara-negara Afrika. Bahkan, untuk memupuk hubungan baik itu, China berinisiatif membuat forum silaturahmi khusus. Namanya Forum for Africa China Cooperation (FOCAC). Platform ini mempertemukan para pemimpin negara-negara Afrika dengan presiden China. Saking seriusnya, FOCAC rutin diadakan tiap 3 tahun sekali dengan tuan rumah bergantian sejak tahun 2000.

Forum ini selalu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan dalam bentuk nota kesepahaman dalam beragam bidang, mulai dari ekonomi, sosial, sains dan teknologi, pendidikan, hingga kesehatan dan kebudayaan.

Dalam FOCAC yang diselenggarakan pada 2018, misalnya, diperoleh kesepakatan untuk menyinergikan Belt and Road Initiative yang dipelopori China dengan 2030 Agenda for Sustainable Development of the United Nations dan 2063 Agenda of the African Union (AU), serta strategi pembangunan negara-negara Afrika. Juga, konektivitas yang lebih erat dalam kebijakan, infrastruktur, industri, perdagangan, keuangan, dan hubungan antar-masyarakat China-Afrika.

Menariknya, seperti dilaporkan Quartz (5/10/2018), para pemimpin Afrika yang menghadiri FOCAC 2018 jauh lebih banyak dari yang menghadiri United Nations General Assembly (Sidang Majelis Umum PBB) yang dihelat di New York dua minggu kemudian. Konkretnya, sebanyak 53 pemimpin Afrika datang ke China untuk ikut FOCAC; dan hanya 27 pemimpin Afrika yang datang ke Amerika untuk ikut Sidang Majelis Umum PBB. Perbandingannya hampir 2:1. Bukan cuma itu, pangkat pejabat yang dikrim negara-negara Afrika ke Sidang Majelis Umum PBB juga lebih rendah ketimbang yang diterbangkan ke FOCAC.

Dengan begitu para pemimpin Afrika mungkin hendak berkata, ”Lebih jelas dan konkret datang ke Beijing, Bro, daripada ke pertemuan PBB. Di PBB cuman ngemeng gitu-gitu aje dari doeloe!

Sebagai Alat Invasi Ekonomi-Politik?

Ada yang bilang bahwa eratnya hubungan China-Afrika yang ditunjukkan dengan kian banyaknya mahasiswa Afrika yang menempuh pendidikan tinggi di China itu dikarenakan China hendak dan telah menjadikan pendidikan sebagai alat invasi ekonomi-politiknya di Afrika.

Kebiasaan suuzan yang berasal dari sifat iri-dengki dalam hati manusia kiranya perlu dikikis dengan berpikir logis dan jernih.

Pertama, kita harus melihat sisi positif dan bersyukur, bahwa perhatian dan tanggung jawab kita sebagai soliditas antara Bangsa Asia dan Bangsa Afrika, telah diwakili oleh China. Sebagai negara maju, kaya raya, dan berlebih, China tidak pelit dan tertutup. Fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam konteks kenegaraan telah secara maksimal dilakukan China. Bukankah dalam QS. al-Mujadalah ayat 11 Allah berfirman akan menaikkan derajat seseorang jika ia berilmu pengetahuan? Secara tidak langsung, China juga telah membantu Afrika agar derajatnya naik dihadapan Tuhan dengan bertambahnya ilmu pengetahuan mereka.

Kedua, terkait pikiran suuzan kita, bahwa China akan pamrih (memberikan peluang sekolah bagi mahasiswa Afrika untuk selanjutnya ingin ekspansi ekonomi dan politik di benua itu). Saya sebagai salah satu penerima beasiswa yang sama dengan yang diberikan kepada mahasiswa Afrika dan seluruh mahasiswa dari negara lainnya di China, setahu saya sama sekali enggak ada tuh pemerintah China mengharuskan kita untuk tanda tangan perjanjian komitmen untuk ”bekerja” buat China, misalnya.

Kalau kebaikan China kepada yang lain bermanfaat bagi China, bukankah Allah dalam QS. al-Zalzalah ayat 7-8 sudah menjanjikan bahwa kebaikan/kejahatan kepada orang lain akan kembali kepada dirinya sendiri? Famayyaʻmal mistqoola dzarrotin khoiroy yaroh, wa mayyaʻmal mistqoola dzarrotin syarroy yaroh.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

BILA sungai-sungai di Asia dimisalkan sebagai pipa air, maka Tibet adalah menara airnya. Dataran tinggi Tibet merupakan induk dari sungai-sungai besar di Asia seperti...

Esai

TULISAN ini akan saya awali dengan pertanyaan ”mengapa China mau repot-repot membela Palestina?” Namun kalau antum, para pembaca, mengharapkan saya menulis tulisan yang lebih...

Esai

JIKA SERING mengamati perkembangan isu-isu internasional, dalam beberapa tahun terakhir kita akan menemukan banyak negara besar yang mulai menaruh perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan....

Esai

Politik kebencian masih membayangi kita, menjadi tantangan besar untuk menjaga agar Indonesia tetap ber-bhinneka tunggal ika