Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Sinci Ita dan Sebuah Pengakuan

Sinci Ita (warna putih) di altar perkumpulan Boen Hian Tong, Semarang © Suwito/Boen Hian Tong/nationalgeographic.grid.id

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat tanggapan cukup luas oleh media massa, organisasi, ataupun individu. Entah mengapa saya selalu tergerak untuk memperingati tragedi yang sangat memilukan ini. Padahal saya tinggal di Kota Semarang yang, saat peristiwa itu terjadi, relatif aman. Tak ada penjarahan atau peristiwa kekerasan seksual atau rasial seperti yang terjadi di kota-kota lain. Saya juga tidak mengenal atau pernah berjumpa dengan korban atau keluarga korban tragedi.

”Aku pikir cuman ada demo-demo mahasiswa,” ujar seorang remaja berkacamata, berkulit putih, bermata sipit, dengan naifnya.

Saya mendengus. Mungkin saat terjadi tragedi, ia masih balita.

”Lho Mei ada apa?” tanya seorang Encek pemilik toko kain di Pecinan saat saya memintanya memotong kain hitam menjadi pita untuk saya bagikan kepada beberapa teman dan ia bertanya untuk apa saya melakukan itu.

Hmm, seorang Encek pun mulai lupa tragedi itu.

Saya merasa miris, tragedi yang benar terjadi ini banyak yang tidak mengetahui dan melupakan.

* * *

Tahun 2008 saya menggelar pentas ketoprak yang mengangkat novel Putri Cina karya seorang Romo. Novel yang menceritakan Tragedi Mei ’98 ini dimainkan dengan apik, penuh penghayatan, oleh kelompok ketoprak dari Jogja. Yang menjadi ’Putri Cina’ seorang penyanyi Jawa berkulit putih dan agak sipit asal Kota Tayu. Kini ia telah menjadi pembawa acara top di berbagai stasiun televisi dengan penghasilan pasti banyak.

”Padahal tahun 2008 ia saya inapkan di losmen di Pecinan,” ujar saya sambil tertawa.

Waktu di losmen, saya sempat bertanya, ”Njenengan apa Tionghoa, kok putih tur rada sipit?

Si penyanyi yang juga pesinden dan pemain teater tertawa lepas, ”Konco-konco kuliah mbiyen yo sok moyoki, Kowe kok iso putih? Jok-jok ibumu pernah diperkosa Cino?!’”

Saya meringis, kaget mendengar ke-’blak-blak’-annya yang rada gimana.

”Tapi terus aku ngomong, ’Gini, lho, sedulurku banyak dan semua kayak aku gini…’” Ia berhenti sambil mengulum senyum. “Lha mosok ibuku diperkosa kok bola-bali?!

Hmm.

* * *

Usai pentas ketoprak yang mendapat sambutan mbludhak dari masyarakat, saya berpikir bagaimana Tragedi Mei ’98 bisa diperingati lebih membumi, sederhana, bisa diikuti banyak orang dan lebih bermakna. Saya teringat orang Tionghoa atau Jawa saat memperingati suatu kejadian selalu membuat/menyajikan makanan khas. Ada sembahyang bakcang, sembahyang ronde, sembahyang Tiong Jiu pia, slametan bubur merah putih, ayam ingkung, dsb.

Muncul ide rujak pare sambel kecombrang.

Saya suka pare. Saya suka rasa pahitnya. Saya tahu pare atau ’bitter melon’ atau ’Momordica charantia’ mempunyai banyak khasiat untuk kesehatan. Kepahitan tidak selalu buruk. Kepahitan bisa berkhasiat, tapi harus dihadapi dengan ketegaran, dikunyah dengan kematangan, ditelan dengan kesadaran.

Kenapa kecombrang?

Mama saya hobi bikin sambel rujak yang diberi irisan bunga kecombrang dengan wangi khas mirip rujak Singapore. Saya sangat menyukainya. Saya bayangkan, pare mentah yang diiris tipis-tipis bisa didulit dengan sambel kecombrang yang pedesnya mencucurkan air mata.

Pare lambang tragedi yang penuh kepahitan, kegetiran; kecombrang simbol perempuan Tionghoa yang mengalami kekerasan seksual, dipersekusi, diperkosa, dianiaya, dilecehkan –tubuhnya, harga dirinya, martabatnya, jiwanya– di atas cobek batu.

Rujak pare (sambel) kecombrang.

* * *

Tahun 2018 pertama kali Rujak Pare Kecombrang dikenalkan sebagai ritual peringatan Tragedi Mei ’98. Dan Hari Minggu pagi 13 Mei 2018, 3 bom meledak di 3 gereja di Surabaya; dua jam sebelum acara rujak pare dimulai. Sempat terbersit bimbang, namun kami bergeming.

Dan acara yang sudah kami gagas sebelumnya tetap berlangsung, malah lebih khusyuk dan lebih khidmat. Kami mendoakan arwah korban Tragedi Mei ’98 dan arwah korban bom. Kami merefleksikan keprihatinan atas kebejatan dan intoleransi yang masih terjadi hingga hari ini: 20 tahun setelah Tragedi Mei ’98.

Kita masih harus banyak belajar.

Dan tahun ini, tahun ke-4 peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare, kami dari Perkumpulan Boen Hian Tong meletakkan Sinci seorang gadis muda yang mati dibunuh mengenaskan di tahun 1998.

Ita Martadinata Haryono, nama gadis muda itu.

Ita seorang aktivis. Ita korban pemerkosaan. Ita hendak bersaksi di depan Majelis PBB atas kejadian buruk yang telah menimpanya. Ita dibunuh seminggu sebelum berangkat.

Ita dibungkam secara keji.

Sosok Ita dalam lukisan karya Dewi Candraningrum, dipajang di lobi luar kantor Komnas Perempuan, Jakarta © bbc.com

”Tolong Sinci Ita diwarna putih dengan tulisan emas: ’印尼人权活动家’ (Yinni Renquan Huodongjia), Pejuang Hak Asasi Manusia Indonesia,” ujar saya kepada sekretaris perkumpulan.

Dan di hari Kamis malam tanggal 13 Mei 2021, pas Hari Raya Idulfitri, pas Hari Kenaikan Isa Almasih, kami meletakkan Sinci Ita Martadinata Haryono –persis di sebelah Sinci Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia, Guru Bangsa, Pendukung Minoritas, ’印华之父,扶弱国师’ (Yin Hua zhi Fu, Fu Ruo Guo Shi) –dengan penuh kekhusyukan dan keharuan, diiringi puisi apik petinggi agama Khonghucu yang penuh makna.

Sebuah vas kaca berisi setangkai bunga sedap malam menghiasi sisi kanan Sinci Ita.

Di malam Hari Raya Idulfitri, di malam Hari Kenaikan Isa Almasih, di malam tanggal 13 Mei 2021, Sinci Ita menjadi saksi bisu kekelaman dan kebiadaban yang pernah terjadi di negeri ini.

Saya diam, saya menunduk, takzim menyimak doa yang dibacakan rohaniwan Khonghucu di tengah kelindan asap hio yang memedihkan.

”Hidup aku menyukai, kebenaran aku menyukai, kalau tidak dapat kuperoleh kedua-duanya, akan kulepaskan hidup dan kupegang teguh kebenaran (生亦我所欲也,义亦我所欲也,二者不可得兼,舍生而取义者也),” ujar sang rohaniwan mengutip ayat Sishu (四书). ”Semoga semua korban Tragedi Mei 1998 dapat tenang dan damai dalam ke haribaan Tian (天). Shang Di Bao You (上帝保佑).”

Dan di tengah kobar api Surat Doa yang dibakar dalam sebuah guci, saya terpekur.

Saya menggigil dalam haru.

”Damailah, wahai Ita kecil. Damailah naik ke surga bersama Sang Isa Al Masih, damailah duduk di samping Gus Dur, Sang Guru Bangsa yang selalu setia mengayomi, damailah dalam dekap kedamaian Idulfitri yang penuh maaf dan ampunan. Damai, damai, damai, damai. Damailah hatimu, damailah jiwamu, wahai Ita, pejuang hak asasi Indonesia…”

Sekilas saya mencium wangi bunga sedap malam di tengah kelindan asap dan doa.

Sinci Ita adalah sebuah pengakuan.

Saya pernah menulis beberapa tahun yang silam. Mengenang dan memperingati adalah upaya untuk mencegah –agar malapetaka itu jangan terjadi. Lagi.

Itu yang kami harapkan.

”Tapi yang terpenting,” ujar saya saat ditanya oleh seorang jurnalis, ”adalah pengakuan bahwa peristiwa itu pernah terjadi. Tanpa pengakuan, mencegah saja tidak bisa. Harus ada pengakuan –ini pernah terjadi, ini salah!”

Sinci Ita adalah sebuah Pengakuan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

TULISAN ini akan saya awali dengan pertanyaan ”mengapa China mau repot-repot membela Palestina?” Namun kalau antum, para pembaca, mengharapkan saya menulis tulisan yang lebih...

Esai

BILA boleh disimpulkan secara sederhana, hubungan bilateral Indonesia dengan China yang dijalin sejak 1950 itu, ”kuat di atas tapi rapuh di bawah”. ”Kuat di...

Esai

PADA 10 April 2021 lalu, saya diminta berbicara mengenai ”hubungan antaretnis” untuk mengisi acara diskusi daring #CasCisCus yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies,...