Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

China Sang Pembela Palestina

© ycnews.com

TULISAN ini akan saya awali dengan pertanyaan ”mengapa China mau repot-repot membela Palestina?” Namun kalau antum, para pembaca, mengharapkan saya menulis tulisan yang lebih bagus dari tulisan Akhīnā Novi Basuki Wang yang tahun lalu tayang di Mojok itu, sebaiknya antum buruan klik saja tanda silang portal ini. Maklum, saya dan Basuki Wang ini jelas jauh lebih pintar beliau. Itulah mengapa beliau sampai sekarang belum lulus-lulus studi Ph.D-nya.

Tapi, terkait pertanyaan pembuka itu, saya akan coba kupas dari sisi humanisnya (daripada Basuki Wang yang bahas sisi politiknya melulu). Saya kira ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Pertama, yang paling mendasari kepedulian China terhadap penjajahan pemerintahan Zionis Israel terhadap Palestina adalah empati dan simpati China sebagai bangsa yang juga pernah apes dijajah para imperialis lama –seperti Kekaisaran Jepang, Britania Raya, Austria-Hungaria, Belgia, Perancis, Portugal, Jerman Lama (Bavaria), Rusia, dan bahkan AS. Okupansi negara-negara imperialis ini terjadi pada penghujung masa kekuasaan dinasti Qing (1889–1912) yang terus berlanjut selama era Republik China ROC (1912–1949).

Pengalaman pahit sebagai korban penjajahan itu membuat China menjadi negara yang konsisten membela tidak hanya Palestina, tetapi juga negara-negara korban neo-imperialisme dewasa ini.

Kedua, kalau kita membandingkan China dengan AS, Inggris, dan sekutunya, buat kita yang memang susah sekali menerima fakta geopolitik tentu akan tetap memandang China sebagai kekuatan jahat. Terima kasih kepada narasi global ”War on China” yang diprakarsai AS dan sekutunya karena takut kehilangan lapak kekuasaan internasionalnya.

Padahal, kalau kita mau dan bisa objektif, penjajahan dan intervensi-intervensi militeristik justru secara gamblang ditunjukkan oleh AS dan sekutunya dengan dalih bermacam-macam. Peristiwa 911 merupakan salah satu biang keladi dari skenario penghancuran Timur Tengah dan pencengkeraman dunia Islam yang kritis terhadap imperialisme AS dan sekutunya. Lihatlah Iraq yang belakangan juga tidak terbukti bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal atau apapun itu namanya.

Dalam konteks tersebut, China adalah salah satu negara yang tidak hanya bukanlah pelaku intervensi militeristik terhadap negara-negara lain, tetapi juga merupakan negara dengan posisi antipenjajahan.

Bagaimana dengan beberapa clash di perbatasan China dan negara tetangganya? Ini bukan bahasan tulisan ini, tapi bisa dibicarakan juga lain kali. Yang pasti, clash di perbatasan bukanlah hal baru, meski tentu harus dihindari. Untungnya, clash di perbatasan (seperti yang baru-baru ini terjadi dengan India), pada akhirnya bisa diredam dan tidak berlanjut pada eskalasi konflik militeristik yang lebih meluas.

Ketiga, Timur Tengah merupakan wilayah yang juga menjadi destinasi One Belt One Road (OBOR). Dengan skema dagang Jalur Sutera Abad ke-21 yang dicanangkannya ini, China berharap pada penggunaan jalur-jalur perdagangan kuno Jalur Sutera sehingga bisa direaktivasi kembali fungsinya sebagai jalur perdagangan internasional kekinian. OBOR juga sedikit banyak akan mendorong peningkatan ekonomi wilayah-wilayah yang dilewatinya.

Untuk menuju negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, Jalur Sutera Abad ke-21 ini bisa melewati Iran atau Georgia. Jangankan Timur Tengah, jalur tersebut sudah bisa diakses sampai Perancis dan bahkan Spanyol via jaringan kereta yang dimiliki negara masing-masing.

Artinya, kalau misal ada pergolakan tanpa henti di Timur Tengah, sesungguhnya itu juga berarti bahwa pasar produk-produk China di dunia akan berkurang. Tapi ingat, tidak hanya produk China, tetapi juga komoditas yang berasal dari Timur Tengah sana –seperti minyak mentah, gas, mineral, maupun barang komoditas lain yang bisa menggunakan Jalur Sutera tersebut.

Keempat, sebenarnya yang menjadi concern di sini adalah sikap dan kebijakan-kebijakan pemerintahan Zionis Israel, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan antisemit. Antisemit pun bisa dibilang adalah labelling serta akal-akalan dari pihak AS dan sekutunya sehingga hal-hal yang berkaitan dengan kritik (untuk kemanusiaan) yang ditujukan kepada Tel Aviv, akan dicap buruk duluan.

Lagian, Basuki Wang juga pernah menulis bahwasanya ketika masa Perang Dunia II dulu, China juga membuka pintu seluas-luasnya kepada para pengungsi Yahudi yang eksodus ke pelbagai wilayah di dunia untuk mencari lokasi aman dari persekusi Nazi.

Fenomena melindungi para pengungsi Yahudi itu juga masih koheren dengan poin pertama dan kedua di atas. China, baik itu pemerintah dan masyarakatnya, tentu sangat prihatin dengan bencana-bencana kemanusiaan khususnya Perang Dunia II –sehingga China memang tidak punya masalah terhadap orang Yahudi, warga negara Israel, namun tidak pro terhadap sikap-sikap imperialistik pemerintahan Zionis Israel saat ini. China juga memiliki kerja sama dalam pelbagai bidang dengan Israel, seperti perdagangan, riset dan teknologi, maupun investasi.

* * *

Dari paling tidak empat faktor tersebut, kalau kita bisa mengisolasi isu, dan tidak menghajar konteks ini ke dalam kubangan permasalahan geopolitik yang sedemikian banyak, kita bisa melihat bahwa China tidak pro dengan neo-imperialisme dan memiliki concern terhadap kemerdekaan Palestina.

Sebenarnya, kalau kita Googling ’sikap China Palestina’, kita akan dengan sangat mudah mendapatkan tautan-tautan yang bisa disimak terkait perkembangan hal ini. Bahkan, media-media mainstream yang biasanya anti-China pun memasukkan bahasan-bahasan terkait posisi China terhadap Palestina.

China berperan aktif seperti ini juga karena peran mereka sebagai anggota permanen Dewan Keamanan PBB bersama Rusia, Perancis, Inggris, dan tentu saja AS.

Mengutip laman Kantor Berita Antara (24/3/2021), Menteri Luar Negeri China Wang Yi, di tengah-tengah ’tren’ normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel, menyampaikan undangan dan kesediaannya untuk memfasilitasi pembicaraan antara Palestina dan Israel. Ini merupakan bukti konkrit bebas-aktif mendukung perdamaian dunia, bukan?

Akhirulkalam, menunjukkan kepedulian dengan menamai suatu jalan sebagai ’Jalan Palestina’ tentu boleh-boleh saja. Tapi impact-nya juga harus bisa dirasakan secara riil oleh rakyat Palestina dan upaya-upaya nyata dari pemerintah Indonesia sendiri juga harus didorong terus-menerus.

Entah sampai kapan Bumi Para Nabi bisa menghirup kebebasan dan kehidupan yang normal tanpa opresi. Doa terbaik kami untuk Palestina di penghujung Ramadan ini. Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

BILA sungai-sungai di Asia dimisalkan sebagai pipa air, maka Tibet adalah menara airnya. Dataran tinggi Tibet merupakan induk dari sungai-sungai besar di Asia seperti...

Esai

SESUATU yang mengejutkan saya –yang sejak 2019 menjadi mahasiswa baru Tianjin University– adalah banyaknya mahasiswa asal benua Afrika. Tak jarang kami bertemu di dapur...

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”