Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Merenungkan Tragedi Mei 1998

”Kepedihan dan kesakitan serta trauma para korban Tragedi Mei adalah kesakitan kita semua.”

© detik.com

KEJADIAN terburuk kedua dalam sejarah sejak kemerdekaan yang menimpa suku pribumi Tionghoa asli Indonesia, terjadi 23 tahun lalu di Bumi Pertiwi. Pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran serta bentuk kekerasan lainnya dilakukan oleh para manusia biadab dalam kurun waktu beberapa hari di bulan Mei saat itu. Teriakan-teriakan ”kamu Cina, kan?! Cina, kan?!”, didengungkan waktu itu sebagai suatu teror kepada suku Indonesia yang kebetulan bermata sipit, berkulit kuning ini.

Keluarga saya pun saat itu berada di Indonesia. Walau keadaan tidak semencekam di Jakarta, namun di kota-kota lain pun semua suku Tionghoa dalam keadaan waspada penuh, tidak berani keluar rumah. Di dalam rumah pun mematikan lampu. Tidur malam pun bergantian.  Yang mampu secara ekonomi, langsung memilih hengkang ke luar negeri. Yang kurang mampu, meratapi nasib sambil berpasrah kepada-Nya. Dan, yang berpasrah kepada-Nya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang hengkang ke negara lain. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa suku Tionghoa bukanlah mayoritas orang kaya; banyak yang sedang-sedang saja atau bahkan miskin.

Peristiwa tersebut hingga sekarang masih menyisakan kepedihan yang mendalam terutama kepada anak bangsa yang menjadi korban kebengisan ini dan kepada keluarga mereka.  Awan gelap dalam kehidupan mereka tidak akan pernah menjadi terang lagi. Mungkin pula kebencian dan kepahitan tersebut selamanya melekat –karena pastinya tidak mudah untuk menghilangkannya, bagi siapapun yang mengalaminya. 

Sedih memikirkan hal tersebut. Baik ini kesengajaan yang dibuat untuk menutupi permainan politik saat itu, ataupun karena alasan kriminalitas murni, mungkin tidak akan pernah terungkap di pengadilan dunia ini. Namun, para pelaku pastinya harus bertanggung jawab di pengadilan akhirat nanti, di hadapan Yang Maha Adil.

* * *

Tragedi Mei mencoreng nama baik Indonesia di mata dunia. Setelah lebih dari dua dekade berlalu, sopir taksi di Singapura, Malaysia, dan Hong Kong kadang masih pula mempertanyakan kejadian saat itu kepada kita saat ada di dalam kendaraan mereka.  Apalagi kalau mereka tahu kita ini suku Tionghoa. Kadang mereka bertanya lebih lanjut, ”Tidak takutkah Anda tinggal di Indonesia yang begitu membenci Chinese?” Dalam benak saya memikirkan, ”Siapa yang membenci Cina di Indonesia? Kalau mereka saudara se-Tanah Air non-Tionghoa benar begitu benci kepada kita, bukankah kejadian Mei akan terjadi setiap harinya di dalam kehidupan negara kita?”

Saya pun menjabarkan kepada mereka yang bertanya, bahwa ”kami ini Asli Pribumi Indonesia dari suku Tionghoa. Mau kemana lagi kita kalau tidak mencintai dan tinggal di negeri sendiri?”

Di Tiongkok, negara nenek moyang kami berasal, selamanya kami akan dianggap sebagai ”Huaqiao 华侨” (Cina perantauan). Dengan kata lain: sudah bukan Cina asli, alias ”Cina aspal”, asli tapi palsu.  Dan itu memang benar: lidah kami Jawa, baju kami batik, bahasa ibu kami Jowo Suroboyo, mau asli Cina bagaimana, coba? Kita hanya menjadi ”Cina“ sewaktu Imlek saja.

* * *

Para pelaku kejahatan Mei 98 yang bermotifkan kebencian terhadap suku Tionghoa sebenarnya bisa dikategorikan sebagai manusia-manusia yang melecehkan nilai-nilai luhur Pancasila yang juga merongrong jasa para pejuang dan pahlawan kita yang bersuku Tionghoa.

Indonesia berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika sejak para patriot kita mengadakan perlawanan terhadap penjajah, hingga kemerdekaan dan sampai saat ini, dengan makna yang mendalam, yang menghargai perbedaan sebagai bentuk persatuan dan kekuatan. 

Bangsa kita harus belajar dari banyak negara lain yang lebih menerapkan konsep Bhinneka Tunggal Ika walaupun simbol negara mereka bukanlah Pancasila. Mereka paham bahwa perbedaan itu adalah aset kekuatan suatu bangsa.

Untuk bergerak menjadi negara yang maju, kita tidak boleh lagi mengungkit ”apa suku dan agamamu?”, namun semua harus bahu-membahu, memikirkan kemajuan Indonesia daripada berpikiran kerdil.

Tidak ada yang bisa memilih untuk minta dilahirkan menjadi suku apa, menjadi bangsa apa. 

Apalagi, kontribusi suku Tionghoa bagi nusa dan bangsa sudah jelas sangat signifikan. Itu tidak boleh dimungkiri oleh siapapun, sejak sebelum Indonesia lahir.

* * *

Karena itu, Tragedi Mei 1998 tidak boleh dilupakan begitu saja. Bukan untuk diperingati, namun untuk direnungkan kembali sebagai satu bangsa yang bermartabat dan beragama.

Ibarat sebuah tubuh, apabila ada satu bagian yang sakit, maka seluruh tubuh akan cukup menderita. Demikian pula atas apa yang tertimpa pada saat itu, seluruh Indonesia menderita. Untuk itu, hal ini harus tetap menjadi suatu peringatan dan kewaspadaan bagi kita semua jangan sampai terulang lagi di dalam sejarah bangsa kita.

Sudah cukup kita saling menyakiti satu sama lain sebagai saudara-saudari se-Tanah Air.  Tujuh puluh enam tahun kita ber-satu bangsa, bangsa Indonesia; ber-satu bahasa, bahasa Indonesia. Sudah saatnya kita melangkah menjadi lebih dewasa dalam segala hal yang positif, demi kemajuan pembangunan di Indonesia, bukan malah menghancurkannya dengan rasisme dan diskriminasi.

Kepedihan dan kesakitan serta trauma para korban Tragedi Mei adalah kesakitan kita semua. Tidak ada kata-kata indah yang dapat menghibur mereka. Hanya doa yang kami dapat panjatkan bagi mereka supaya pemulihan secara pribadi dari tahun ke tahun menjadi lebih sempurna.

Bukan salah kita dilahirkan sebagai ”Cina” di Bumi Pertiwi. Tidak ada salahnya kita menjadi Tionghoa di Indonesia.

Tolong jangan sakiti lagi saudaramu suku Tionghoa. Kami adalah Anda; Anda adalah kami; kita adalah Indonesia.

Salam damai.

3 Comments

3 Comments

  1. Avatar

    Denny Renata

    5 Mei 2021 at 8:42 am

    Tulisan yang mengingatkan & membuat kita bersama agar menyadari dihadapan Tuhan Yang Maha Esa itu tidak ada perbedaan suku dan ras termasuk agama.

    Kita wajib saling mengayomi, ibaratnya jika kamu susah, aku susah, jika kamu senang, aku ikut bahagia.

    Jangan kotori Indonesia dengan pemikiran yang jauh dari Pancasila dan Bhineka Tungga Ika.

    Salut pak Maxie, maju terus, dukungan dan doa saya terbatas tapi dukungan Tuhan Yesus selamanya, bahkan lebih dahsyat dalam segala aspek kebenaran dan hati yang mencintai Indonesia.

    We love you brother 🙏

  2. Avatar

    Eeng

    5 Mei 2021 at 12:07 pm

    Dominasi doktri agama Yang berlebihan kadang membawa kita pada rasa tidak suka pada suku/ras lain yang berbeda keyakinan.. hal itu yg saya rasakan saat masi SMP dlu, Saya memandang mereka yg berbeda keyakinan adalah orng yg paling berdosa.artinya, cara menanamkan keyakinan bergama harus di evaluiasi. Itu yg saya rasakan dlu, skrg kawan saya lbh banyak orng2 tionghoa.

  3. Avatar

    Matias lie

    25 Mei 2021 at 12:15 pm

    Perlu ikut dalam resolusi perjuangkan pencegahan percepatan hate speech atas nama agama dan percepatan an genosida dengan membangun fakta sejarah benar diakuai dan restitusi oleh negara Indonesia melalui perusahan privat, CSO dan RUU DPRD

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

PADA 10 April 2021 lalu, saya diminta berbicara mengenai ”hubungan antaretnis” untuk mengisi acara diskusi daring #CasCisCus yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies,...