Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Bagaimana Cara Mengkaji dan Mengapa Kita Harus Memahami China

Indonesia seyogianya adalah negara yang paling tahu tentang perkembangan China. Caranya ialah dengan membaca yang tersirat, bukan melulu yang tersurat

© cnn.com

KETIKA sedang berpikir-pikir untuk menulis artikel ini, pikiran saya melayang ke hari pertama mengikuti kuliah nomor 7 ratusan, membaca dokumen-dokumen Republik Rakyat China (RRC) dalam bahasa aslinya, di Cornell University, Ithaca, musim dingin tahun 1973. Sebelum kami satu per satu mendapat giliran membaca dan kemudian menerjemahkan langsung ke dalam bahasa Inggris, Prof. Martin Bernal, seorang Inggris totok pengikut aliran sosialis yang mengajar mata kuliah tersebut mengatakan kepada kami (sekitar enam orang mahasiswa pascasarjana), bahwa sistem kemasyarakatan dan politik yang dianut RRC adalah sistem tertutup.

Pada waktu itu, Ketua Mao masih hidup dan Kelompok Empat (Sirenbang 四人帮) yang mengatasnamakan sang Ketua masih berkuasa. Di bawah sistem yang tak transparan itu, segala sesuatu adalah rahasia negara. Bahkan buku telepon yang dalam masyarakat terbuka sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang esensial, tak pernah ada; dan kalaupun ada, adalah untuk keperluan para pemakai terbatas. Penyebaran informasi selalu di bawah penguasaan negara. Stasiun radio, TV, surat kabar, serta media lainnya berada di bawah penguasaan pemerintah.

Karena itu, pengajaran pertama yang diberikan Prof. Bernal dalam membaca dokumen-dokumen pemerintah China adalah berlatih untuk ”reading between the lines”. Buat kita, mungkin istilah itu bisa diterjemahkan dengan ungkapan ”membaca yang tersirat, bukan yang tersurat.”

Lalu, profesor yang rambutnya selalu acak-acakan dan ngomong dengan aksen Cockney yang kental tapi lancar berbahasa China itu, memberikan beberapa contoh spesifik. Misalnya, kalau media China terus-menerus mengumandangkan perlunya persatuan, itu bisa berarti mereka merasa ada faktor yang mengancam monolitisme yang dianut Partai Komunis China (PKC). Contoh lain: kalau propaganda China mengatakan hasil panen tahun ini hampir menyamai hasil panen tahun lalu, itu berarti ada masalah dalam bidang pertanian yang menyebabkan produktivitas turun dibandingkan dengan tahun lalu.

Banyak lagi pelajaran sangat berharga yang diberikannya kepada kami, namun ”pesan” yang satu itulah yang selalu menempel di belakang pikiran setiap saat menulis tentang masalah-masalah kontemporer China. Membaca yang tersirat telah memberi kemungkinan bagi seorang penulis tentang situasi di China untuk lebih ”imajinatif” dan ”spekulatif” dalam menganalisis peristiwa.

Tentu saja cara ini punya kelemahan besar. Misalnya, kemungkinan apa yang kita pikirkan meleset total.

Salah satu cara untuk mengatasi kemungkinan melesetnya analisis itu adalah memberikan multiinterpretasi atas suatu peristiwa, dan menambahnya dengan beberapa skenario tentang ke arah mana suatu peristiwa bakal berkembang.

Untuk para penulis masalah-masalah China, menebak-nebak tentang kemungkinan apa yang terjadi justru merupakan seni dan kenikmatan tersendiri.

* * *

Setelah China mulai membuka diri ketika Deng Xiaoping memperkenalkan prinsip ”Reformasi dan Keterbukaan” (gaige kaifang 改革开放), sekarang ini –secara relatif– sudah agak lebih mudah menginterpretasikan perkembangan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan di daratan China. Banyak sekali yang menjadi penyebabnya. Antara lain keterbukaan China sendiri, para pemimpinnya yang lebih mudah ditemui dan diwawancarai, kehadiran para wartawan asing di sana, kemudahan bagi para peneliti asing untuk keluar-masuk China. Tambahan lagi, dengan adanya proses globalisasi, terutama di bidang ekonomi, perekonomian China kini makin terintegrasi dengan perekonomian dunia.

Lalu, mengapa kita mesti tahu perkembangan di daratan China? Barangkali jawaban yang paling klasik atas pertanyaan ini ialah, pertama, kenyataan bahwa China adalah bangsa besar yang memiliki salah satu kebudayaan dan tradisi tertua di muka bumi ini. Kedua, China adalah negara dengan penduduk terbesar di dunia dan memiliki sumber kekayaan yang besar juga jumlahnya, di samping juga merupakan negara tetangga kita yang paling besar. Ketiga, China memiliki sistem kemasyarakatan dan politik yang sangat berlainan dengan sistem yang kita miliki.

Sebagai sebuah negara besar dengan wilayah dan kekayaan yang juga besar, China akan sangat berpengaruh atas perkembangan dunia dewasa ini. Karena itu, tak peduli apakah China akan menjadi sahabat, ancaman, atau potensi ancaman, kita harus mengetahui apa yang sedang berkembang di dalamnya.

Konon, Napoleon pernah mengatakan kira-kira, ”Jangan membangunkan China yang sedang tidur.” Dan, sekarang China sudah bangun.

Sebagai sebuah negara tetangga China yang paling besar dan terdekat dengannya, Indonesia seyogianya adalah negara yang paling tahu tentang perkembangan di dalam negeri China. Pengalaman kita di masa lalu dalam berhubungan dengan RRC selama hampir 25 tahun tak boleh terulang. Pengetahuan kita tentang negara itu terbengkalai ketika hubungan politiknya dengan kita menghadapi saat-saat buruk selama 25 tahun (1965-1990).

Pengalaman masa lalu kita itu justru menjadi paradigma terbalik dengan apa yang terjadi di Barat, khususnya Amerika. Studi China justru maju ketika RRC muncul sebagai sebuah kekuatan yang menjadi suatu ancaman.

Ingat pula ajaran Sun Tzu, ahli strategi zaman China kuno yang mengatakan, ”Zhi ji zhi bi 知己知彼”: kenali dirimu dan juga musuhmu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Kongkow

BELUM lama ini, sebuah kanal Youtube mengunggah cuplikan video pidato Presiden China Xi Jinping dan, sepertinya, sengaja menerjemahkannya secara asal-asalan. Video itu kemudian viral...

Esai

APAKAH dengan mengenyahkan TKA China dari bumi Indonesia ini akan membuat Anda bersemangat? Seketika meningkatkan rasa nasionalisme Anda yang menggebu-gebu itu? Kalau jawabannya iya,...

Esai

BARANGKALI Anda sempat kepikiran untuk pindah negara, atau sesederhana ingin memiliki kehidupan yang lebih pasti ke depannya, pascapandemi ini? China mungkin bisa jadi salah...

Esai

Melihat Tiongkok melulu sebagai ancaman, bisa jadi malah akan membuat kita ketinggalan peluang