Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Barat yang Sosialis vs China yang Kapitalis?

Kalau tidak diiming-imingi akan menjadi kaya, bisa jadi tidak akan ada orang China yang percaya komunisme

© theredphoenixapl.org

SELAMA era Orde Baru kita dicuci otak bahwa yang namanya China itu komunis, atau komunis itu identik dengan China. Padahal, negeri asal ideologi komunisme adalah Jerman dan komunisme pertama kali diterapkan di Rusia pada awal abad ke-20.

Orang-orang China bersusah payah belajar komunisme ke orang Rusia. Slogan ”kaum proletar sedunia bersatulah”, setelah dipikir-pikir berpusing-pusing, akhirnya diterjemahkan menjadi ”四海之内皆兄弟 si hai zhi nei jie wei xiongdi” (di empat penjuru lautan kita semua bersaudara). Kata-kata ini diambil dari novel Batas Air (水浒传 Shuihu Zhuan) yang ditulis pada zaman dinasti Ming di abad ke-14. Kalau dirunut jauh ke belakang, kalimat itu berasal dari kitab Analects (论语 Lunyu) yang berisi wejangan-wejangan Konfusius alias Konghucu. Mau mengecap Konghucu komunis?

Republik Rakyat China (RRC) yang berideologi komunis (atau sosialis?) baru berdiri 72 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1949. Sedangkan sejarah China (yang tercatat) sudah lebih dari 2000 tahun. Sepanjang 2000 tahun itu, orang China kagak kenal komunisme. Kok bisa-bisanya China kemudian dianggap identik dengan komunis?

Sampai sekarang, konsep yang paling digandrungi oleh kebanyakan orang China adalah ”发财facai” dan ”致富 zhifu”, yang artinya ”menjadi kaya”. Dewa yang paling disukai mereka adalah ”财神爷 Caishen Ye” (Dewa Harta).

Pemerintah komunis China tahu itu. Makanya, mereka kemudian membujuk rakyatnya agar mendukung program pembangunan pemerintah dengan memakai konsep tradisional, ”要致富,先修路 yao zhifu, xian xiu lu” (kalau mau kaya, bangun dulu jalan raya). Maksudnya, pembangunan infrastruktur harus betul-betul digalakkan. Coba bandingkan dengan kelompok antipemerintah di negara kita yang berkoar-koar ”saya tidak makan infrastruktur.”

Pemerintah komunis China juga bikin program KB dengan slogan ”少生快富 shao sheng kuai fu” (orang yang anaknya sedikit akan cepat kaya). Sebab, katanya, kalau anaknya banyak, justru akan gampang mengakibatkan kemiskinan.

Bayangkan, kalau orang China tidak dipancing dengan iming-iming ”facai”, tak akan ada yang dengerin kubu komunis itu.

* * *

Lalu, apakah negara-negara Eropa dan Amerika juga menerapkan kebijakan yang bersifat sosialis seperti di RRC? Ya, mereka sudah mulai 100 tahun yang lalu.

Pada tahun 1910-an, Perdana Menteri Inggris David Lloyd George mengeluarkan kebijakan jaminan hari tua untuk semua warga negara serta kebijakan-kebijakan lain dengan tujuan membasmi kemiskinan –persis seperti kebijakan ”脱贫 tuo pin” (melucuti kemiskinan) yang diterapkan oleh pemerintah RRC sekarang.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Presiden Theodore Roosevelt di Amerika mengeluarkan kebijakan ”Square Deal” yang bertujuan melindungi konsumen dan mengontrol (membatasi ruang gerak) korporasi.

Anda pasti tahu, Jerman dan Jepang di era perang kebijakannya sosialis banget! Kan partai Nazi itu singkatan dari ”Nationalsozialistische” (nasionalisme-sosialisme)? Jadi, ya, mereka itu sosialis.

* * *

Boleh dikata, RRC banyak belajar dari negara-negara Barat.

Lantas pertanyaannya, kenapa ajaran komunisme kemudian mendapat simpati di China?

Cerita singkatnya begini: pada era 1930-an sampai 1940-an, ideologi komunisme menjadi salah satu semangat zaman di seluruh dunia –karena dianggap dapat mengeliminasi masalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial.

Di Amerika Serikat juga ada Partai Komunis (CPUSA), yang salah seorang pendirinya adalah tokoh sosialis Jepang.

Pada akhir era 1940-an, Partai Komunis China berhasil mendapatkan dukungan massa (kaum intelektual urban dan petani). Salah satu penyebab utamanya adalah invasi militer dan penjajahan ekonomi oleh Jepang dan negara-negara Barat, yang membuat China terpuruk.

Artinya, RRC yang berhaluan komunis berdiri karena adanya latar belakang sejarah global di abad ke-20. Bukan karena orang-orang China iseng. Apalagi karena orang China sudah komunis sejak dari sononya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

MENJELANG pertengahan tahun 1950-an, di bawah nama taktik Front Persatuan Nasional, Aidit dan kawan-kawan –yang baru saja merebut kepemimpinan PKI– mendekati Bung Karno dan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan terlebih dahulu membaca dua tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara...

Ramadan

DARI dulu, Uighur dan Xinjiang selalu menjadi ”kartu” negara-negara besar untuk menggencet China –baik tatkala China masih di bawah kepemerintahan Partai Nasionalis Kuomintang, lebih-lebih...

Esai

Indonesia seyogianya adalah negara yang paling tahu tentang perkembangan China. Caranya ialah dengan membaca yang tersirat, bukan melulu yang tersurat