Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Masyarakat China Itu Kapitalis, Bukan Komunis!

Negara China memang bilang menganut ideologi komunisme, tapi satu negara itu isinya orang-orang kapitalis semua

© socialist.ca

APAKAH semua orang China itu komunis? Pertanyaan ini sebenarnya sama saja dengan bertanya ”apakah semua orang di Rusia komunis?”, atau ”apakah semua orang di Korea Utara komunis?”; atau bisa dibalik, ”apakah semua orang di Amerika Serikat (AS) kapitalis?”, atau ”apakah semua orang di Myanmar pro demokrasi?”

Pertanyaan-pertanyaan di atas retoris belaka, tentu saja.

Rusia, misalnya. Rusia zaman now telah jauh berbeda dengan Rusia zaman baheula, terutama ketika Uni Soviet alias USSR masih berkuasa. Saat ini, Rusia sudah berubah menjadi negara federal dan sudah ada vote juga di sana.

Intinya, komunisme sudah sangat terkikis di Rusia –walaupun memang belum sampai pada titik demokratisasi seperti di Indonesia maupun negara-negara arus utama demokrasi yang kita tahu selama ini.

Bagaimana dengan Korea Utara?

Hingga 2020, ada puluhan ribu ”defector” (”pengkhianat”, kalau dalam bahasa keluarga Kim Jong Un) dari Korea Utara sejak 1998. Banyak dari mereka yang kemudian mencari suaka ke China (ini poin menarik). Juga ke negara-negara lain seperti Korsel, Jepang, Filipina, dan lainnya.

Artinya apa?

Artinya, tidak semua manusia yang berkumpul di suatu wilayah hukum tertentu mengamini apa yang dianut oleh pemerintahnya.

Begitu pun di AS. Dengan kemenangan Demokrat dalam pemilu 2020 silam, sounding yang dipakai rivalnya: Demokrat merupakan partainya orang-orang sosialis, kiri, komunis, dan sebangsanya.

Atau yang sedang ramai dan sudah memakan 200-an korban jiwa: kudeta –yang tadinya tidak berdarah menjadi berdarah-darah– di Myanmar. Junta militer Myanmar sempat menonaktifkan jaringan internet dan seluler mereka. Para awak media dari dalam dan luar negeri pun dibuat kesulitan untuk memberitakan dan mengakses apa saja yang terjadi di Yangon dan sekitarnya. Tetapi, di balik itu semua, mungkin saja ada orang-orang Myanmar yang memang setuju dengan tidak berkuasanya lagi Aung San Suu-kyi.

Sederhananya begitu. Panjang lah ceritanya kalau mau bahas political ideology. Semua kemungkinan ada di atas meja.

* * *

Sekarang kita masuk ke pembahasan soal ideologi masyarakat China yang ditanyakan di awal tulisan ini. Kalau untuk analisis mendalam, pertanyaan tersebut akan membawa kelucuan tersendiri. Karena bagi yang belum pernah ke China, sudah pasti akan melihat negara ini dari ’judulnya’ saja. Tapi bagi yang pernah ke sana, satu negara itu isinya orang-orang kapitalis kabeh. Tenan iki, Bro & Sis!

Apa tandanya?

Gedung-gedung pencakar langit tinggi menjulang, mobil-mobil Amerika dan Eropa berseliweran, harga sewa maupun beli apartemen melambung ampun-ampunan, sampai produk-produk cepat saji (FMCG) asal Amerika dan Eropa yang bertebaran di seantero China.

Contoh konkretnya, total penjualan otomotif untuk Audi, BMW, Cadillac, Ford, Mercedes Benz, Land Rover, dan Skoda di China pada 2020 adalah sebanyak 2.570.633 unit. Tesla juga berhasil membukukan penjualan sejumlah 135.449 unit pada tahun tersebut.

Ingat, itu penjualan tahun 2020, di mana masih kenceng-kencengnya pandemi! Ya mungkin itu berkat banyaknya orang China yang cuan karena penjualan alat-alat kesehatan yang diekspor ke luar negeri.

* * *

Benar, ideologi ada pada apa yang dianut oleh pemerintah China; bukan oleh rakyatnya, manusia-manusianya. Ini bisa dilihat dari pengejawantahan kebijakan-kebijakan publik. Misalnya, jangka waktu pakai apartemen bagi masyarakat China hanya dibolehkan selama 70 tahun –yang kemudian bisa diperpanjang izin gunanya jika mau. Ya, tidak ada kepemilikan absolut atas properti untuk individu di China.

Lalu soal pemberian subsidi. Di Beijing, umpamanya, masyarakat bisa menikmati subsidi transportasi kereta bawah tanah dari pemerintah mereka sebesar RMB1,45 miliar per tahunnya.

Itu baru di Beijing. Belum lagi di kota-kota besar lain seperti Chongqing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen, dkk. Istilahnya, di China itu perusahaan-perusahaan operator transportasi umum tidak dituntut untuk BEP (break even point), melainkan menyediakan layanan yang berkualitas sehingga ada interaksi moda transportasi publik yang baik.

Amsalnya lagi soal subsidi di bidang pendidikan. Pada 2020 lalu, pemerintah China mengalokasikan RMB55,3 miliar untuk pemberian beasiswa atau subsidi pendidikan kepada para pelajar di pelbagai lini pendidikan di sana. Hal ini sangat terasa mengingat saya merupakan penerima beasiswa pemerintah China (CSC) di antara ratusan penerima beasiswa CSC lainnya di Indonesia, dan mungkin puluhan juta orang lainnya dari seluruh dunia.

Kalau kita melihat perbandingan biaya pendidikan, untuk mahasiswa asing bisa berkisar Rp150 juta per tahun untuk SPP-nya saja. Sementara untuk mahasiswa lokal, hanya sekitar Rp50 juta –tiga kali lipat lebih murah, namun tentu dengan fasilitas asrama yang berbeda.

Walau begitu, tetap saja itu menunjukkan betapa besarnya subsidi pendidikan yang ditujukan tidak hanya bagi para pelajar mereka sendiri, tetapi juga untuk non-WN China yang diberi beasiswa.

Belum lagi soal subsidi-subsidi lain yang diperuntukkan buat beragam bidang industri seperti pengadaan lahan, pembangunan pabrik, pengadaan alat-alat berat, akses pasar, filtrasi pasar, insentif pajak ekspor, dsb. Itulah, salah satunya, mengapa industri mereka, terutama manufaktur, bisa memproduksi barang yang murah meriah.

* * *

Jika ditarik ke asal mulanya, mungkin tokoh nasional China yang bisa dibilang ’anti-komunis’ ya Pak Deng Xiaoping. Dengan prinsip ’kucing hitam kucing putih’-nya yang pragmatis itu, telah memberikan angin segar bagi para kapitalis di China untuk tetap berideologi seperti yang mereka yakini.

Akhirulkalam, sebagaimana dikatakan Ekonom China Zhang Weiying, liberalisasi pasar di China makin lama makin signifikan. Namun, di sisi lain, China juga memiliki Repelita, sehingga liberalisasi tersebut tetap memiliki ”panduan”.

Kalau begono, China itu negara komunis atau bukan?

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Kwan Pinping Wiranata

    3 April 2021 at 7:16 pm

    Apakah sebelum ada Baratisme *diluar barat* ga kehidupan dan ga ada sistem kehidupan ???

    Ketika USSR ingin memperluas wilayah, dgn mencaplok: Afghanistan, Pakistan, India, Myanmar, Mongolia, Tiongkok, Korea, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, hingga Malaysia sisi non Kalimantan.

    USA mendekati Tiongkok (via pendekatan Henry Alfred Kissenger dan Richard Nixon dengan Deng Xiaoping), utk memindahkan *industri “jahit produknya”* ke Tiongkok. Mengamankan jika ada perang nuklir.

    Dengan pertimbangan : di masa lalu Tiongkok pernah punya kemampuan industri yg mumpungi, SDM cukup handal berbiaya murah, SDA cukup komplit, posisi kirim cukup strategis.

    Sejak 1978 (hingga 1991) USSR masuk ke Afghanistan : USA dkk asyik berperang dengan USSR dengan mengerahkan pasukan tempur di garis depan *Osama dkk (Pasukan berbasis Syariah)*.

    Sedangkan Tiongkok aktif membangun industri jahit produk ke industri produk nasional.

    Runtuhnya USSR di Tahun 1991, mwmbuat USA dkk sibuk merelokasi kekuatan militernya : menyebabkan USA dkk berhadapan dengan Osama dkk hingga kini.

    Tahun 1991- kini :masa kejayaan Industri produk nasional Tiongkok.

    Kapitalisme di Tiongkok, menurut saya lagi menuju ke kapitalisme ala Tiongkok masa lalu (revisi kebijakan kapitalisme terhadap gerak bisnis ANT Group dkk).

    Sejatinya penyerap pasar produk USA dkk ada di Tiongkok.

    Ekspor ke USA kuat, karena byk negara terikat perdagangan dgn USA (negara yg membuat industri jahit produk terikat ga boleh jual produk yg dibuat dan harus beli produk USA. Juga ada negara dengan diberi bantuan USA [finansial maupun Senjata Modern] harus menyerap produk USA yg berasal dari negara industri jahit produk.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

MENJELANG pertengahan tahun 1950-an, di bawah nama taktik Front Persatuan Nasional, Aidit dan kawan-kawan –yang baru saja merebut kepemimpinan PKI– mendekati Bung Karno dan...

Ramadan

AsengID: Supaya nyambung dengan apa yang dibahas artikel ini, disarankan terlebih dahulu membaca dua tulisan sebelumnya yang masing-masing berjudul ”Uighur di Tengah Ketidakpuasan Negara-negara...

Ramadan

DARI dulu, Uighur dan Xinjiang selalu menjadi ”kartu” negara-negara besar untuk menggencet China –baik tatkala China masih di bawah kepemerintahan Partai Nasionalis Kuomintang, lebih-lebih...

Esai

Indonesia seyogianya adalah negara yang paling tahu tentang perkembangan China. Caranya ialah dengan membaca yang tersirat, bukan melulu yang tersurat