Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Memanusiakan Agama

Bagi saya, spiritualitas tertinggi adalah kemanusiaan, bukan ketuhanan. Jika kita berhasil merawat kemanusiaan, kita pasti akan mencapai ketuhanan

© Lui Shou Kwan 呂壽琨/artsy.net

SEMBAHYANG King Hoo Ping (敬和平) adalah sembahyang untuk menghormati para leluhur yang telah mendahului, baik keluarga, kerabat, sobat, maupun tokoh yang pernah berjasa.

Di Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong (文献堂) di Pecinan Semarang, Sembahyang King Hoo Ping diadakan secara lintas agama. Dimulai dengan doa kepada Thian 天 (Tuhan) di depan pintu utama menghadap langit, oleh para pengurus, dilanjutkan dengan doa di Altar Utama, di mana diletakkan Sinci atau Papan Arwah Ketua Perkumpulan, termasuk Papan Arwah Gus Dur sebagai ‘Bapak Tionghoa Indonesia’.

Ini satu-satunya Papan Arwah Gus Dur yang ada di sebuah rumah perkumpulan Tionghoa. Saya mengalungkan untaian melati segar ke papan arwah Gus Dur, seorang pejuang demokrasi dan hak asasi yang akan selalu berada di hati dan benak etnis Tionghoa Indonesia.

Sembahyang untuk arwah leluhur dimulai, dipanjatkan oleh pemuka agama Konghucu di depan meja sembahyang berisi aneka sajian masakan aneka sayur, daging, buah, dan jajanan. Sembahyang dilanjutkan dengan pembacaan nama orang-orang yang telah meninggal.

Ada hampir 100 nama dibacakan.

Setiap tahun saya juga menitip doa untuk Papa dan arwah para korban Peristiwa Mei ’98. Pemuka agama Konghucu menutup doa dengan membakar kertas doa dan meletakkannya dalam sebuah mangkuk.

Perlahan kertas terbakar menjadi abu tak berbekas, tinggal serpihan doa dan kenangan yang membekas.

Lalu, semua pemuka agama dan kepercayaan maju ke depan, berdoa bersama sesuai agama dan keyakinan masing-masing dalam paduan doa dan paritta yang berkelindan menelisik ruangan yang mendadak hening.

Apik.

Khusus tahun ini, usai doa bersama, semua pemuka agama diajak untuk makan bersama di sebuah meja panjang bertaplak merah. Suasana langsung cair. Nasi disodorkan dan lauk dibagikan. Masing-masing memilih lauk dan melahapnya. Ada yang memilih lauk ‘ciakjai‘ atau vegetarian, ada yang mencomot sate, ada yang memilih sweke ayam, ada juga yang memilih tumis kecombrang.

Saya milih empat-empatnya.

Hehehe.

Doa boleh dipanjatkan, perut keroncongan harus tetap diisi.

Tadi saat memberi sambutan, saya berkata, “Dengan perayaan King Hoo Ping, bukan Kho Ping Hoo lho, ya…”

Semua tertawa.

“…manusia diharapkan tidak sekadar berdoa dan mengingat jasa para leluhur, tapi juga merefleksikan diri dan bertanya: ‘Sejauh mana aku sudah belajar dan memajukan diri?’ Filosofi Konghucu menekankan pada pusat diri untuk selalu sadar dan belajar. Untuk mengubah lingkungan, diri sendiri harus berubah. Untuk memperbaiki lingkungan, diri sendiri harus diperbaiki…”

Semua mengangguk.

“Bagaimana sebuah aktivitas spiritual berdampak positif untuk kehidupan sosial yang lebih baik dan harmonis. Sembahyang bukan hanya untuk yang meninggal, tapi bagaimana menjadikan yang masih hidup, lebih baik…”

Bener, ya?

Usai makan, saya berseloroh, “Nurut saya, Tuhan itu ‘orangnya’ santai dan humoris. Dia pasti tersenyum melihat pemuka agama bisa duduk bersama dan makan bersama…”

Beberapa orang tersenyum sembari menghabiskan makanannya.

Saya berdiri sambil memegang piring dan sendok yang barusan saya pakai.

“Bagi saya, spiritualitas tertinggi adalah kemanusiaan, bukan ketuhanan. Jika kita berhasil merawat kemanusiaan, kita pasti akan mencapai ketuhanan…”

Beberapa orang mengangguk, tapi ada juga yang menatap saya lekat-lekat.

Hehehe.

Tiap orang punya prinsip masing-masing. Saya tersenyum, lalu mengumpulkan piring-piring kotor lain di atas meja, menumpuknya, dan meletakkannya ke dalam kotak piring kotor di pojok ruangan.

Siapa mau semangka?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan